Buy Back SUN Jaga Stabilisasi Rupiah

NERACA

Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengakui krisis global saat ini lebih parah dari 1998. Masalahnya krisis AS dan Eropa diperkirakan panjang. Apalagi krisis Eropa belum ditemukan solusinya. Karena itu pemerintah melakukan berbagai kebijakan, mulai dari menstabilkan rupiah, melakukan buy back Surat Utang Negara (SUN) hingga “membatasi” impor. Bank Indonesia (BI) juga kerap mengintervensi pasar uang walau menguras cadangan devisa hingga Rp21 triliun, pada hakikatnya bertujuan menjaga nilai tukar rupiah terhadap US$ tetap berada di kisaran aman sekitar Rp9.000 per dolar AS.

Sementara catatan Kementerian Keuangan, pemerintah diketahui telah mengucurkan sekitar Rp8,8 triliun untuk menstabilkan posisi utang. Total utang, baik swasta dan pemerintah diperkirakan mencapai Rp1.700 triliun.

Menurut pengamat pasar uang Farial Anwar, langkah cepat pemerintah melakukan pembelian SUN sebagai kebijakan yang perlu mendapat apresiasi. Artinya, antisipasi yang tepat. “Buy back SUN adalah salah satu langkah yang tepat agar investor pasar modal merasa aman dan tak khawatir,” katanya kepada Neraca, Minggu (25/9).

Namun demikian, kata Farial lagi, langkah buy back SUN perlu diikuti langkah kebijakan lainnya yang bersinergis. Sehingga gejolak krisis bisa ditekan. “Seharusnya, pemerintah lebih interaktif dalam menghadapi gejolak perekonomia di Eropa dan AS. Kita banyak belajar dari tahun-tahun yang lalu,” tambahnya.

Lebih jauh menurut dia, cadangan devisa sebenarnya tidak harus terus menerus untuk intervensi rupiah. Alasanya jumlah cadangan devisa terbatas. "Jumlah cadangan devisa kan terbatas dan peruntukkannya banyak, tidak hanya untuk menstabilkan rupiah saja," terannya

Dia mengatakan, penggunaan cadangan devisa harus dimanfaatkan untuk pembelian barang-barang impor dan membayar cicilan utang luar negeri. "Cadangan devisa kan digunakan untuk beli barang impor, kita kan impor beras. Malah garam saja impor kok, itu untuk beli itu dulu," lanjutnya.

Yang jelas, lanjut Farial, krisis yang tengah terjadi di AS dan Eropa akan berdampak panjang ke sejumlah negara. Karena itu, mau tak mau Indonesia harus mewaspadai gelojak tersebut. “Saya melihat krisis ini berpotensi jangka panjang dan mungkin akan lebih parah dari 2008. Karena belum ada solusinya, makanya jadi sangat rawan,” cetusnya.

Asing Mendominasi

Berdasarkan data Kemenkeu, selama September, dana asing pada perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder tercatat mengalami penurunan mencapai Rp10,37 triliun. Pada perdagangan SBN per 16 September tercatat asing menguasai sebesar Rp236,85 triliun atau turun Rp2,61 triliun dari hari sebelumnya sebesar Rp239,46 triliun.

Farial menjelaskan, adanya berita buruk mengenai peringatan krisis global membuat investor khawatir, termasuk yang berinvestasi di Indonesia. Tak heran bila mereka beberapa hari lalu keluar, sehingga membuat nilai tukar rupiah melemah. “Ini adalah ulah pemain asing yang melakukan pembalikan arah secara besar-besaran dan tiba-tiba, mereka menghindari investasi yang berisiko tinggi karena melihat pasar Asia akan bermasalah,” ujarnya.

Secara terpisah, ekonom LIPI Agus Eko Nugroho sependapat dengan Farial, bahwa pembelian kembali SUN dan mewaspadai gerakan rupiah menjadi fokus penting yang menjadi prioritas Bank Indonesia. “Buy back SUN ini tidak secara spesifik bisa meredam krisis global. Namun ada baiknya langkah ini dilakukan. Karena dapat mengurangi beban hutang pemerintah yang saat ini memang lumayan besar, “katanya kemarin.

Menurut dia, penguatan fundamental ekonomi adalah cara yang jitu mengantisipasi krisis global. Karena itulah pergerakan rupiah perlu terus dipantau. “Saat ini kurs mata uang yang melemah bukan hanya Rupiah. Rata rata negara di Asia juga ikut mengalaminya,”jelasnya.

Yang penting, kata Agus Eko lagi, pemerintah harus berani mengambil beberapa opsi lainnya. “Oleh karena itu pemerintah harus segera menguatkan fundamental perekonomian agar kita bisa survive dari imbas resesnya perekonomian di Eropa dan Amerika,” tegasnya.

Ditempat terpisah, Deputi Gubernur BI, Muliaman D. Hadad menilai, secara fundamental perbankan di dalam negeri masih kuat untuk mengadapi krisis global. "Saya kira dari berbagai indikator penting keuangan, baik aspek modal dan terutama likuiditas masih memiliki daya tahan yang baik," kata Muliaman saat ditemui di Bandung, Sabtu (24/9).

Muliaman berharap, likuiditas kredit yang masih menunjukkan arah perbaikan bisa membendung gelombang krisis dari Eropa dan AS. "Menurut saya, gejolak bisa cepat selesai. Sehingga industri perbankan bisa fokus kepada fungsi intermediasi, karena memang selama ini industri perbankan sedang giat-giatnya melakukan intermediasi," paparnya.

Gubernur BI Darmin Nasution mengakui, demi meredam kekhawatiran investor pasar modal. Maka BI memastikan akan memborong SUN yang berada di pasar."Sejak kemarin, kita sudah mulai mengubah intervensi pasaran dari sebelumnya yang lebih banyak ke valas, sekarang mulai juga kita mulai membuka lelang di pasar SUN," ujarnya

Dia menambahkan BI akan membeli kembali SUN yang beredar di pasaran berapa pun harganya asalkan masih wajar. "Jadi, berapapun harganya, kalau mereka mau jual, asalkan masih wajar, sedikit di atas pasar, itu akan kita beli. Jadi kita akan tunjukkan ke pasar, enggak akan jatuh lebih dalam itu (pasarnya), tenang saja," ucapnya

Akibat langkah BI tersebut, menurut dia, pasar cenderung lebih stabil dan lebih tenang. "Ini lebih tenang pasar, tekanannya tidak seperti tiga sampai empat hari yang lalu. Jadi langkah-langkah yang kita lakukan ini lebih terarah dan komplit," pungkasnya. iwan/cahyo

Related posts