Produksi Minyak Kemungkinan Naik 915.000 Barel - Masih Jauh Dibawah Target

NERACA

Jakarta - Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) memperkirakan produksi minyak rata-rata Indonesia cuma mampu naik jadi 915 ribu barel per hari (bph) bulan depan. Jauh di bawah target 945 ribu bph tahun ini.

"Sampai saat ini rata-rata sudah 910 ribu bph. Bulan depan diharapkan naik 915 ribu bph," katanya Deputi Operasional BP Migas, Rubi Rubiandini dalam diskusi publik Pengelolaan Sektor Energi Nasional di DPP Partai Golkar kepada wartawan di Jakarta.

Lebih jauh kata Rubi, pada September 2011 produksi minyak Indonesia baru mencapai 905 ribu bph. Namun kemudian mulai mengalami peningkatan menjadi 910 ribu bph. “Sekarang produksi minyak sudah cenderung mengalami kenaikan,” tambahnya.

Dikatakan Ruby, agar produksi minyak dapat meningkatkan dibutuhkan eksplorasi migas secara besar-besaran mengingat selama 10 tahun terakhir, belum ada eksplorasi skala besar yang dilakukan di Indonesia.

Pihaknya juga mengakui terus menekankan kepada pihak kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) untuk terus berusaha meningkatkan produksi. Baik itu melalui EOR (Enhance Oil Recover), hingga workover pada sumur-sumur migas yang ada. "Kita akan wajibkan para kontraktor untuk melakukan EOR agar produksi minyak dapat meningkat. Kita memberi masukan beberapa peraturan yang mendukung ke arah situ," tambahnya

Seperti diketahui, produksi minyak nasional RI ditargetkan dalam APBN-P 2011 sebesar 945 ribu bph. Namun sampai saat ini produksi belum optimal dan dinilai masih jauh dari target yang ingin dicapai. Untuk tahun depan, pihak pemerintah mengusulkan produksi minyak dalam RAPBN 2012 sebesar 950 ribu bph. Apakah target tersebut dapat tercapai?

Sementara menyikapi perdagangan minyak dunia. Pada perdagangan Jumat, (23/9), minyak mentah dunia jatuh pada perdagangan Jumat (23/9) ke level terendah dalam enam pekan karena prospek ekonomi yang lesu sehingga invesor melepas asetnya.

Minyak AS jenis light sweet turun US$1,07 menjadi US$79,44 per barel atau mendekati level teredah sejak 9 Agustus di level US$77,55 per barel, seperti dikutip dari yahoofinance.com. Untuk minyak jenis Brent dalam pengiriman November turun 93 sen menjadi US$104,36 per barel mendekati level terendah di US$103,43 pada 10 Agustus lalu.

"Pasar minyak sedang berada di perdagangan yang mixed dengan aksi profit taking. Kekhawatran tetap menjadi sentimen negatif dengan kegagalan mengatasi utang Yunani. Pasar menunggu langkah konkrit bantuan kelompok G20 dalam mengatasi krisis keuangan tidak hanya kata-kata saja," kata analis energi di Citi Futures perspective, Tim Evans.

Harga minyak dunia mengalami tekanan dengan pernyataan IMF soal prospek ekonomi ke depan. IMF pun tidak lagi memasang target optimis untuk pertumbuhan ekonomi global tahun ini, proyeksi hanya 4% dari sebelumnya 4,2%. **cahyo

Related posts