Sensus Pajak Bidik Kelas Menengah Baru

NERACA

Jakarta--- Pemerintah tampaknya sangat ngotot dengan pelaksanaan Sensus Pajak Nasional (SPN) akhir September 2011. Alasanya SPN membidik dan menjaring wajib pajak baru dari kelas menengah baru. "Terus terang, saya mengharapkan sensus pajak ini akan terlihat seiring dengan meningkatnya kelas menengah baru," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa kepada wartawan di Jakarta.

Lebih jauh kata Hatta, saat ini kelas menengah baru di Indonesia sudah mencapai 8 juta -9 juta orang per tahunnya. "Itu ter-refleksi juga dalam tax ratio yang meningkat," terangnya

Menurut Ketua umum PAN ini, kreatifitas dan kinerja yang maksimal diperlukan dari Dirjen Pajak dalam menjaring kelas menengah baru ini, karena, sambung Hatta, pertumbuhan kelas masyarakat menengah masih cukup tinggi. "Karena ada kelas menengah baru, di sinilah kreativitas dari petugas pajak pajak kita. Nanti dari sensus, dan double sensus kependudukan yang dilakukan BPS dan SPN ini akan ketemu," tuturnya

Dikatakan dari data sebelumnya pembayar pajak atau tax payer kurang dari 10 juta orang, ini sangat tidak masuk akal melihat pertumbuhan masyarakat kelas menengah yang cukup signifikan. "Pengolahan data menunjukkan, ternyata kurang dari sepuluh juta tax payer ini. Enggak masuk akal, wong setiap tahun aja ada pertumbuhan kelas menengah baru, bahkan sampai sembilan juta. Nah, ini jadi pekerjaan rumah kita," imbuhnya

Sebelumnya, pada minggu lalu, Dirjen Pajak Fuad Rahmany mengungkapkan SPN yang akan diselenggarakan Dirjen Pajak (DJP) Kementerian Keuangan akan diterapkan pertama kali pada pusat Pertokoan Mangga Dua. "Sensus 30 September di Mangga Dua," ujarnya

Lebih jauh kata mantan Kepala Bapepam-LK ini, sensus tersebut nantinya dibuka oleh Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo, sepulang dari pertemuan International Monetery Fund (IMF) dan World Bank pada 29 September. "Kita nunggu Bapak Menteri, dia pulang 29 September, makanya kita buat tanggal 30 September," tutupnya.

Sebelumnya, Fuad mengungkapkan, SPN akan menjadi titik tolak bagi penerimaan perpajakan senilai Rp1.000 triliun pada RAPBN 2012. Menurut Fuad, dengan adanya SPN maka akan terdapat intensifikasi dan ekstensifikasi. Dia melanjutkan, saat ini ekstensifikasi yang dirasa kurang akan menjadi sasaran.

SPN ini dilakukan melalui ekstensifikasi, yakni menjaring wajib pajak yang belum terdaftar dan objek pajak yang belum terpajaki, serta intensifikasi yaitu optimalisasi pemajakan atas objek pajak yang belum sepenuhnya dipajaki.

Fuad juga menegaskan, tidak akan melakukannya secara tiba-tiba, melainkan akan diberi tahu dulu sebelum melakukan sensus. "Misalnya kita akan kasih tahu pengelola ITC, kasih tahulah, enggak ada gebrakan, normal aja, orang aja siap-siap," pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Bapenda Tingkatkan Pelayanan Pajak Kendaraan di Banten Selatan

Bapenda Tingkatkan Pelayanan Pajak Kendaraan di Banten Selatan NERACA Lebak - Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Banten segera meningkatkan pelayanan…

Mengerek Rasio Pajak

Menarik sekali dalam debat terakhir Pilpres 2019, Sabtu (13/4) malam, Capres Prabowo berambisi meningkatkan  menuju rasio pajak (Tax Ratio) 16%…

Dorong UMKM Melek Digital - GOJEK Bantu UMKM Muslimat NU Naik Kelas

Guna mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Batu, GOJEK sebagai perusahaan penyedia layanan mobile on-demand dan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

      NERACA   Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak…

Meski Naik, Struktur Utang Indonesia Dinilai Sehat

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia yang naik 4,8 miliar…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…