Para Menkeu G20 Bahas Krisis Global

NERACA

Washington---Sejumlah menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G 20 tampaknya serius menyikapi ancaman krisis global. Masalahnya, saat ini krisis kepercayaan terus melanda pasar keuangan. Bahkan sekaligus mengantisipasi batuan kepada Yunani agar tidak terjadi gagal bayar.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga hari, baik dalam G20 ataupun Dana Moneter Internasional (IMF), memfokuskan pada kondisi ekonomi yang memasuki zona membahayakan.

Untuk Christine Lagarde, bos IMF terpilih sejak Juni lalu, kondisi ini menjadi tantangan perdananya. Lagarde telah mengingatkan sebelumnya, tanpa adanya kerja sama antar negara maka kondisi ekonomi akan memasuki tahap resesi.

Untuk menghindari kemungkinan tersebut, para anggota G-20 sepakat untuk "mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem perbankan dan pasar keuangan". Mereka juga mendorong Eropa agar bergerak cepat untuk membantu Yunani.

Di sisi lain, para ekonom swasta mempertanyakan apakah rencana aksi ini akan mampu membendung kekhawatiran pasar atas krisis utang Eropa.

Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble memperingatkan bahwa paket bailout besar-besaran kedua umtuk Yunani, harus dievaluasi kembali setelah inspektur internasional utang negara menemukan masalah dalam pelaksanaan bailout sebelumnya. Evaluasi ulang ini dapat mencakup perubahan kontribusi yang telah disepakati bank dan investor swasta.

Para anggota G20 mengusulkan untuk memberikan dukungan lebih bagi negara-negara miskin. Menteri Kerjasama Perancis Henri de Raincourt mengatakan bahwa salah satu usulan yang akan dipertimbangkan adalah membangun persediaan makanan darurat untuk membantu negara-negara miskin, khususnya di Afrika, sebagai langkah antisipasi krisis pangan. Usulan ini akan dibawa pada pertemuan final G20 di Cannes, Perancis.

Berkumpulnya para menteri keuangan memang mengundang tanda-tanya. Benarkah Indonesia bisa terkena krisis global dan apakah dampak terburuknya bagi Indonesia. Diakui atau tidak, ada beberapa perspektum berisiko yang bisa memicu krisis global. Meskipun, risiko itu belum tentu terjadi.

Perspektum pertama adalah memburuknya perekonomian di AS dan Jepang. Jepang dipicu oleh gempa dan Tsunami 11 Maret 2011 yang recovery-nya di bawah ekspektasi. “Begitu juga dengan perekonomian AS yang belum mengalami perkembangan berarti,” kata M Doddy Arifianto, ekonom dari Universitas Ma Chung, Malang kepada wartawan di Jakarta.

Lebih jauh Doddy menjelaskan, meski sudah mengalami dua kali stimulus moneter Quantitative Easing (QE) ditambah dengan stimulus fiskal sebesar US$447 miliar, perekonomian AS belum bergerak. Sinyalnya justru bakal memasuki resesi di negara itu. “Bangkit saja belum dari krisis 2008, sudah mau resesi lagi,” timpalnya.

Sentimen AS semakin buruk karena posisi fiskalnya yang jelek dengan rasio utang di atas 100% terhadap PDB dan mendapat down grade peringkat utang dari Standard & Poor’s Rating Service (S&P). Perspektum kedua adalah setelah Yunani mengalami krisis utang, tinggal menunggu negara lainnya di kawasan Uni Eropa yang bakal mengalami nasib serupa. **cahyo

Related posts