RSCM Klinik Yasmin Peduli Bayi Tabung

Sabtu, 01/10/2011

Beberapa dekade ini kemajuan dibidang kesehatan telah mengalami kemajuan. Berbagai riset dilakukan untuk menemukan cara baru dalam penyembuhan berbagai penyakit yang di idap oleh manusia. Bahkan saat ini, kemajuan didunia kesehatan telah mampu mengatasi untuk pasangan suami istri yang sulit memiliki anak, sehingga bisa memiliki anak dari kandungan sendiri. Kemajuan itu disebut dengan bayi tabung yang sejarahnya bermula dari Inggris.

Neraca. Semenjak itu, perkembangan bayi tabung telah mengalami kemajuan guna menemukan solusi yang terbaik, mengatasi kemandulan. Apalagi dijaman ini, para wanita dan laki-laki sibuk dengan urusan karir mereka, sehingga banyak yang menunda perkawinan. Saat umur menjelang kearah usia lebih dewasa, khususnya wanita mengalami menopause ketika usia menjelang 40 tahun ke atas. Beda dengan laki-laki, yang tingkat kesuburan hormonnya masih stabil walau berusia di atas 40 tahun.

Selain itu, masalah sulit memiliki kehamilan itu juga berasal dari makanan dan pola hidup. ”Peningkatan jumlah pasien dan tingkat keberhasilan klinik yasmin kencana, yang menunjukkan peningkatan kebutuhan masyarakat akan pelayanan bidang reproduksi membuat klinik yasmin, pada awalnya berada di Makmal Terpadu Imunoendokrinologi FKUI-RSCM yang merupakan pusat bidang kesuburan RSCM sejak 1986. Mengembangkan diri menjadi pusat pelayanan, pelatihan dan pengembangan di bidang kesuburan yang dapat diandalkan di Indonesia. Pengenalan tentang bayi tabung ini bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan sehingga sejajar dengan pusat kesuburan di asia Tenggara,” menurut Prof. Dr. dr. Akmal Taher, SpU, Direktur Utama RSCM.

Awalnya di Indonesia dimulai sejak tahun 1984 dengan belajar di Royal Woman Hospital, Australia tentang teknik bayi tabung. Setelah mengalami keberhasilan melakukan teknik bayi tabung pada 1988 di Klaten dengan menggunakan teknik GIFT (Gamet Intra Fallopian Teknik), RSCM terus berusaha mengembangkan teknik tersebut untuk mendapatkan hasil terbaik.

Pada 2011 ini, RSCM telah memiliki ruang penerimaan untuk pasangan suami istri, yang mengeluh karena sulit hamil. Mengingat jumlah penduduk telah meningkat tajam dan berbagai persoalan tentang keturunan sangat penting, maka RSCM mendirikan sebuah klinik yang bernama ’Klinik Yasmin Kencana’ yang memiliki fasilitas bertaraf internasional. Tujuannya tidak lain untuk memberikan solusi dan pengobatan serta konsultasi yang tepat.

Aktivitas yang dilakukan di Klinik Yasmin Kencana antara lain, reproductive, research dan training. Dari hal tersebut diketahui beberapa factor kenapa wanita tidak bisa hamil normal. Diantaranya adalah endometriosis, polycystie ovary syndrome, infertility and IVF, adolescent gynecology dan recurrent mis carriages.

Simpan Bayi Tabung

Banyaknya wanita yang menunda kehamilan dan menikah sehingga ketika umur bertambah dan menyangkut reproduksi kesuburan pada wanita. Bisa dianalogikan seperti umur biologi=umur sel telur dan umur kronologis=umur KTP. Untuk mengetahui kehamilan/ kesuburan atau tidaknya dilihat dari sel biologis. Ada beberapa faktor yang membedakan umur biologis dan umur kronologis tidak sama karena faktor genetik, operasi, penyakit (endometriosis), kemoterapi, radiasi dan sebagainya.”Penyimpanan sel hormon minus 196 derajat celcius untuk membekukan sel telur agar tetap terjaga dengan baik,” menurut dr. Budi Wiweko, SpOg(K), salah satu dokter ahli Klinik Yasmin Kencana, RSCM.

Klinik Yasmin Kencana ini bertujuan untuk membantu masyarakat dalam menghadapi masalah kehamilan pada pasangan suami istri agar bisa memiliki keturunan. Disamping itu, biaya yang dikeluarkan relatif cukup murah dibandingkan pergi ke luar negeri untuk perobatan. Selain itu, menghemat waktu dan tenaga juga bujet, bila berobat ke luar negeri. Kualitas yang dimiliki oleh Klinik Yasmin Kencana RSCM ini pun telah sesuai denga standar di Asia Tenggara bahkan Internasional.

Untuk waktu yang dibutuhkan dalam proses bayi tabung dimulai dari proses konsultasi sampai kehamilan, ada tiga protokol menurut dr. Budi. Protokoler Panjang, 1 sampai 2 bulan, protokoler pendek 1 bulan dan stimulasi kurang lebih 4 minggu. ”Untuk saat ini, biaya mulai dari Rp. 50 juta sampai Rp. 70 juta,” ungkap dr. Budi.