Membangun Brand Mendorong Penjualan

Sabtu, 15/10/2011

NERACA. Membuat brand dilakukan dengan pendekatan emosional, misteri (rasa penasaran), sensualitas, dan kedekatan (keintiman). Demikian ungkap Kevin Roberts, CEO dari biro iklan Saatchi & Saatchi Worldwide, yang dituang dalam buku berjudul, “Lovemarks: The Future Beyond Brands.”

Pandangan Kevin memang tepat. Karena bagi sebuah usaha yang tengah tumbuh brand sangat vital, pasalnya kekuatan untuk berinvestasi pada promosi, tak sekuat sebuah perusahaan besar yang sudah melampaui fase ‘tunas’.

Seorang entrepreneur AndrieWongso, bahkan bertanya, “Apa jadinya bila orang tercipta tanpa nama? Karena itu, berikanlah nama pada produk kita. Dan jadikan nama itu sebagai sebuah janji yang harus ditepati.”

Terdengar klise? Tidak juga. Pentingnya sebuah nama memang sudah dipahami semua orang, tapi membangun brand kerap masih menjadi sesuatu yang kadang sulit dilakukan. “Padahal, dengan membangun brand, berarti membangun keabadian,” kata Andre dalam catatannya.

Spence CEO Austin dan Idea City asal Amerika Serikat, menyarankan satu hal utama: "Setiap bisnis yang berkembang harus bisa menjawab bagaimana caranya meningkatkan standar hidup pelanggan," ujarnnya.

Spence mencontohkan, Walmart raksasa hypermarket yang identik dengan belanja yang hemat. Atau AirAsia yang sekarang identik dengan perusahaan penerbangan dengan harga terjangkau. “Ini adalah jargon kedua perusahaan. Itulah yang membuat orang hingga kini masih menjadi pelanggan setia kedua perusahaan itu,” kata Spence.

Dan bagi pebisnis pemula, Spence menyarankan, agar dapat mencari brand yang pas dan tepat. Caranya? tanyakan kembali, apa tujuan semula mendirikan usaha? Apa saja produk yang ditawarkan? Apa saja kebutuhan yang bisa dicukupi oleh produk kita? Dan apa hal unik yang bisa kita tawarkan pada konsumen?.

Spence pun menganjurkan, Anda bertanya pada orang-orang jujur di sekitar Anda. Misalnya tanyakan pada lima orang karyawan dan lima orang pelanggan tetap. Lalu ajukan pertanyakan pada mereka, apa yang masih bisa ditingkatkan? apa yang menurut Anda telah dilakukan perusahaan lebih baik dibanding pesaing lainnya?.

Jika Anda sudah mendapatkan poin penting sebagai jargon, maka jadikan sebagai pegangan untuk membesarkan usaha. Namun, harus diingat, jargon bukan sembarang janji. “Brand yang memiliki jargon harus mampu memenuhi janji,” tegas Spence. Lain halnya Stan Richards dari The Richards Group Advertising Firm, yang menilai jika sekali melanggar janji, konsumen akan kecewa dan sulit kembali lagi.

Untuk itu Scott Gladstein dari perusahaan konsultan strategi produk, Imperatives LLC, menuangkan lima kiat dalam membangun brand, agar sesuai dengan jargon. Pertama, menemukan alasan konsumen untuk memercayai produk. “Brand akan sia-sia bila janji yang diberikan tidak dipercayai konsumen. Karena itu, janji yang diungkapkan, harus didukung dengan alasan-alasan yang tepat,” ujar Scott.

Kedua menemukan nilai yang dicari konsumen. Sebuah produk hadir untuk menjawab kebutuhan konsumen. Karena itu, sebelum menentukan brand cobalah untuk mengetahui selera pasar yang dituju. Ketiga, tentukan nilai yang paling berpengaruh, dan nilai yang baik akan sangat bernilai emosional, karena sangat dekat dengan kebutuhan konsumen.

Keempat adalah meracang pengalaman tak terlupakan dari nilai tersebut. Artinya apa yang akan kita sampaikanpada konsumen akan menciptakan hubungan yang bisa mengikat konsumen. Terakhir, selaraskan semua unsur organisasi usaha untuk memaksimalkan nilai tersebut. “Konsistensi disemua lini perusahaan, mulai dari customer service hingga pemilik perusahaan adalah harga mati,” tegas Scott. Dengan keterlibatan semua pihak dalam perusahaan, maka kata melayani akan menjadi rangkaian pemenuhan jargon dari produk yang ditawarkan.