Petik Untung Sayur Organik

Sabtu, 08/10/2011

NERACA. Paradigma back to nature yang menggema ditengah masyarakat nyatanya mampu meningkatkan permintaan sayuran organik. Ini sebuah peluang, demikian Ketua Umum Masyarakat Pertanian Organik Indonesia, Zaenal Soedjais menilai.

Perubahan ini memang sebuah peluang usaha yang sangat prospektif untuk dikembangkan. Dan bukan hanya petani sayuran organik yang kadung mengalami lonjakan permintaan, namun sejumlah produsen pupuk dan pestisida organik, penjual bibit hingga pedagang eceran sayuran organik pun mengalami dampak lonjakan. Tingginya permintaan itu, datang dari kalangan menengah atas yang memilih sayuran organik ketimbang sayuran anorganik.

Bagi petani sayuran organik, paradigma back to nature adalah sebuah tantangan, ditengah derasnya sayuran organik import asal Singapura, Malaysia, Eropa dan Amerika yang memenuhi bilik-bilik sayuran di banyak supermarket. Menurut Soedjais, inti budidaya organik adalah bebas dari residu bahan anorganik (kimia), mulai dari pembukaan lahan, pemupukan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, penggunaan pestisida sampai penanganan pasca panen.

Pakar Hortikultura Anas D Susila pun memandang bila budidaya sayuran organik yang paling menguntungkan adalah sayuran daun (leave vegetable) dibanding jenis sayuran buah. Pandangan ini berdasarkan pada teknik pemeliharaan sayuran daun yang lebih mudah, murah, dan dapat ditanam dimana saja dengan siklus perputaran produksinya cepat.

Pada dasarnya, jelas Anas, berbudidaya sayuran organik bisa dilakukan dimana saja asalkan tanahnya subur. Sayuran seperti bayam, sawi, katuk, pak choy, caisim, selada, kangkung dan kemangi adalah sayuran paling menguntungkan jika dibudidaya. “Apalagi budidaya sayuran pun bisa dilakukan dilahan sempit. Namun bila untuk skala usaha, lahan seluas 1 hektar pun masih tergolong sempit,” jelas Anas.

Umumnya budidaya sayuran organik dilahan sempit, banyak dilakukan para ibu rumah tangga dengan memanfaatkan pekarangan rumahnya dengan menanam jenis sayur musiman, seperti bayam, kangkung, selada, pakcoy, atau caisim. “Kalau tak mau repot, sayuran organik bisa juga ditanam dalam polybag, kaleng bekas, baskom atau ember yang disusun berjejer di rak bertingkat yang terbuat dari kayu,” kata Anas menerangkan.

Ujntuk menanam, memang dibutuhkan media tanah yang dicampur dengan kompos dengan perbandingan 1:1. Sedangkan untuk penyiraman dapat dilakukan dua kali sehari, dan dapat dipanen setelah tanaman berusia tiga minggu. “Bibit sayuran organik dapat diperoleh di para petani sayuran organik, toko pertanian, atau menyemainya sendiri,” ujar Anas.

Soal harga tak kalah menariknya. Besarnya permintaan sayuran organik tentu saja mendongkrak harga sayuran lebih tinggi. Bahkan hingga tiga kali lipat lebih mahal dibanding komoditi sayuran anorganik. Semisal buncis anorganik, yang dijual dengan harga Rp.2.500/kg sedangkan organik Rp.7.500-8.000/kg.

Namun membudidayakan sayuran organik, bukan pula tanpa Kendala, terutama serangan hama penyakit sering mengurangi jumlah produksi. Dilarangnya penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu kendala yang cukup berat bagi petani, selain mengubah budaya yang sudah berkembang 35 tahun terakhir ini pertanian organik membuat produksi menurun jika perlakuannya kurang tepat.

Untuk menghindari serangan hama, maka dalam pengolahan tanah sebaiknya dilakukan secara organik. Caranya? Lakukan pengomposan pada tanah. Yakni dengan cara mengemburkan tanah lalu diberi kompos yang terbuat dari kotoran hewan dan rerumputan yang dicampur serta didiamkan selama dua bulan. Untuk mempercepat proses pengomposan dapat pula ditambahkan bakteri (EM4).

Teknologi bakteri merupakan teknologi baru dibidang pertanian. Bakteri seperti aktinomycesnaeslundii, lactobacillus species delbrueckii, bacillus brevis, saccharomyces cerevisiae, ragi dan jamur serta cellulolytic bacillus. Ada pula mikroorganisme mikoriza yang membantu pengikatan unsur hara agar tanaman lebih banyak menyerap unsur hara.

Sebenarnya petani kita di masa lampau sudah menerapkan sistem pertanian organik dengan cara melakukan daur ulang limbah organik sisa hasil panen sebagai pupuk. Gerakan Revolusi Hijau pada tahu 1970-an, yang lebih mengutamakan penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi, kenyataannya dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan pada sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, yang akhirnya bermuara kepada semakin luasnya lahan kritis dan marginal di Indonesia.

Sistem pertanian organik sudah lama diterapkan di beberapa negara seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Amerika Serikat (Koshino, 1993). Pengembangan pertanian organik dibeberapa negara mengalami kemajuan yang sangat pesat, karena hasil sayur dan buah segar yang ditanam dengan pertanian sistem organik (organic farming system) akan mempunyai rasa, warna, aroma dan tekstur yang lebih baik daripada yang menggunakan pertanian anorganik. Anda ingin mencoba?.

Topik Terkait

petik sayur organik