Wabah Hedonisme Picu Degradasi Moral

Dalam benak pikiran kita sering muncul pertanyaan, ”bangsa Indonesia dikenal religius, berjiwa Pancasila, dan mayoritas beragama Islam. Tetapi mengapa kejahatan, kemaksiatan dan tawuran pelajar merajalela? Bukankah agama dan Pancasila menjunjung tinggi moralitas luhur?”

Pertanyaan lain yang sering kita dengar adalah, ”Indonesia memiliki segudang ahli ekonomi, tetapi mengapa masih mengalami berbagai ketimpangan ekonomi?” Juga ada pertanyaan lain, ”Indonesia memiliki tanah luas, dengan kekayaan alam melimpah tetapi mengapa banyak orang sulit mencari makan, kelaparan, gizi buruk, tidak punya tempat tinggal, dan sebagainya?”

Memang jawaban atas pertanyaan itu sangat bervariasi, bergantung atas latar belakang pendidikan, pengalaman, dan pandangan hidup seseorang. Tetapi kalau kita renungkan mendalam, ketiga problem itu kait-mengait, dan akarnya adalah adanya degradasi moral. Kita lihat contoh, di kalangan ahli ekonomi banyak orang tidak fokus ilmunya untuk memakmurkan bangsa tetapi justeru untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga. Bumi, tanah dan kekayaan Indonesia memang luas dan subur, sejatinya dapat dinikmati rakyatnya secara adil, namun nyatanya sebagian besar rakyat masih miskin. Nah, di antara wujud degradasi moral bangsa yang sangat spektakuler saat ini adalah korupsi.

Kita menyadari pesatnya kemajuan teknologi komunikasi menyebabkan pengaruh globalisasi yang tak dapat dibendung. Globalisasi di satu sisi mengandung efek positif, yaitu alih teknologi tetapi di sisi lain mengandung efek negatif, yaitu masuknya unsur-unsur budaya Barat ke negara berkembang. Padahal banyak dari unsur budaya Barat yang bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Melalui media cetak dan elektronik setiap hari kita disuguhi tayangan pola hidup mewah dan gemerlap, hubungan bebas antara lelaki dan wanita, perjudian, miras, dan pakaian yang tidak menutup aurat. Melihat contoh pola hidup mewah yang menyenangkan tersebut, maka tidak heran jika sekarang dikatakan hampir setiap orang mendambakan ingin memiliki mobil, motor, rumah besar, dan perabot rumah tangga mewah. Bukan hanya orang tua, anak-anak sekolah pun ingin memiliki HP, komputer, laptop, kendaraan bermotor, dan lain-lain.

Banyak pegawai negeri dan karyawan swasta ingin menikmati kehidupan mewah seperti itu tanpa mengukur penghasilannya. Begitu pula pegawai golongan satu pun merasa ketinggalan zaman jika masih menggunakan sepeda dan tidak memiliki HP.

Keinginan untuk menikmati hidup mewah seperti yang kita lihat di televisi, sebenarnya merupakan refleksi dari pikiran yang maju. Tetapi yang menjadi masalah mendasar ialah, bagaimana caranya memperoleh uang untuk mewujudkan impiannya itu, apakah dengan cara yang sah ataukah dengan cara yang melanggar peraturan perundang-undangan dengan melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme ?

Bila kita mengamati kehidupan manusia, nafsu kebendaan manusia memang selalu tidak ada batasnya. Yang sudah memiliki motor ingin punya mobil, yang sudah punya sebuah mobil ingin punya mobil mewah dan seterusnya. Orang seperti Gayus dan Nazaruddin misalnya, pada awal kariernya, sebenarnya mereka sudah tergolong orang kaya tetapi mereka belum puas sehingga mereka ingin memiliki kekayaan yang lebih banyak dan banyak lagi atau lazim disebut serakah atau rakus.

Menurut pengamat dari berbagai disiplin ilmu, faktor penyebab timbulnya korupsi itu bermacam-macam, antara lain karena ada kesempatan, keterpaksaan, sistem peraturan yang dapat diterobos, dan sikap mental tidak takut malu, serta dorongan nafsu untuk menikmati kesenangan hidup yang berlebihan, yang untuk mencapainya menempuh segala cara, baik legal maupun ilegal.Apakah sifat seperti ini terus dipertahankan? Ini semua tergantung pada kepribadian para pemimpin di negeri ini, yang jadi panutan bagi warga negaranya.

Related posts