Diperkirakan Surplus APBN Capai Rp74 T

NERACA

Jakarta---Percepatan penyerapan anggaran tetap saja belum maksimal. Akibatnya masih banyak dana belum terpakai alias surplus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2011 makin besar. Bahkan hingga hingga kuartal III tahun 2011 ini tercatat surplus anggaran mencapai Rp74,3 triliun per 15 September 2011. Hal inilah yang menyebabka penyerapan anggaran belanja tidak sebanding dengan pendapatan negara. “Ada surplus sebesar Rp74,3 triliun,” kata Dirjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan Agus Suprijanto kepada wartawan di Jakarta,22/9

Lebih jauh Agus mengungkapkan, total pendapatan negara dan hibah mencapai Rp774,9 triliun atau 66,2 persen dari target yang dipatok dalam APBN-P 2011 sebesar Rp1.169,9 triliun. Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp647,6 triliun atau 65,3% dari target.

Sedangkan untuk anggaran belanja negara, sejauh ini baru terserap sebesar Rp700,6 triliun atau 54% dari pagu APBN-P 2011 yang dipatok sebesar Rp1.320,7 triliun. Realisasi tersebut, tidak jauh lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja belanja pada September 2010 sebesar Rp 605,1 triliun atau 53,7% dari pagu belanja APBN 2010.

Dikatakan Agus, kualitas pengelolaan anggaran negara tahun ini masih lebih baik dibandingkan tahun lalu, baik secara nominal maupun persentase. Namun, dalam kurun waktu delapan bulan pelaksanaan APBN, realisasi belanja modal masih sangat rendah. Belanja modal APBN-P 2011 baru terserap sekitar 30% dari total pagu Rp136,87 triliun. “Realisasi belanja modal (per 15 September) mulai akselerasi, sudah lewat 30 persen,” katanya.

Kementerian Keuangan mencatat, hingga 26 Agustus 2011, surplus APBN-P 2011 sebesar Rp41,01 triliun. Penerimaan dan hibah negara sebesar Rp718,31 triliun atau 61,4 persen, sedangkan belanja negara Rp677,52 triliun atau 51,3 persen. Belanja modal per 26 Agustus tercatat sebesar 26,9 persen.

Perlu diketahui, defisit APBNP 2011 ditargetkan sebesar 2,1 persen dari PDB atau Rp150,8 triliun. Apabila melihat sisa waktu yang kurang dari empat bulan, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengaku pesimistis seluruh kementerian/lembaga (K/L) dan pemerintah daerah mampu menghabiskan anggaran yang sudah dialokasikan.

Di sisi lain, Dirjen Anggaran Kemenkeu Herry Purnomo, enggan berkomentar banyak mengenai kinerja penyerapan anggaran belanja pemerintah tahun ini. Terlepas dari itu, pemerintah optimistis penyerapan anggaran akan lebih besar pada kuartal akhir. “Pengalaman yang lalu selalu akan ada surplus, dan sisa langsung penggunaan anggaran (Silpa). Tahun ini bisa saja berulang, tapi besarnya Silpa belum tahu,” imbuhnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

KONDISI 2018 LEBIH BURUK DIBANDINGKAN SURPLUS 2017 - BPS: Neraca Perdagangan Indonesia Defisit US$8,57 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan neraca perdagangan Indonesia (NPI) mengalami defisit hingga US$8,57 miliar sepanjang Januari-Desember 2018. Angka defisit ini…

Realisasi KUR 2018 Capai Rp120 Triliun

      NERACA   Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memastikan realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sepanjang 2018…

Bakal Diakuisi Bank Korea - Crossing Bank Agris Capai Rp 1 Triliun

NERACA Jakarta – Santernya rencana PT Bank Agris Tbk (AGRIS) bakal diakuisisi perusahan perbankan asal Korea, mendorong terjadinya terjadinya aksi…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Bantuan 50 Ekor Ayam Kementan Bantu Kehidupan Masyarakat

    NERACA Tasikmalaya - Kehidupan Cicih, seorang buruh tani di Desa Kiarajangkung, Kec. Sukahening, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi…

Utang Luar Negeri Naik 7% Jadi Rp5.220 Triliun

  NERACA Jakarta - Utang luar negeri Indonesia naik tujuh persen secara tahunan menjadi 372,9 miliar dolar AS per akhir…

PII Ingin Berikan Kenyamanan Berinvestasi - Indonesia PPP Day 2019

  NERACA Singapura - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyelenggarakan Indonesia Public Private Partnership (PPP) Day 2019 di Singapura pada Selasa, (15/01)…