Seperti Api Dalam Sekam

Neraca. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menilai kekerasan yang dilakukan siswa sekolah berpotensi sangat tinggi terjadi di Jakarta. Dirjen Pendidikan Menengah (Dikmen) Kemendiknas Hamid Muhammad mengatakan, kecenderungan kekerasan yang dilakukan oleh siswa cukup tinggi di ibukota ini. Bahkan hasil riset menyatakan di kota besar seperti New York dan Chicago saja tetap ada, meski dapat dikendalikan dengan baik.

Hamid menyatakan, tingkat stress siswa di ibukota semakin tinggi dengan berbagai motif pemicunya. Ketika akan berangkat sekolah mereka takut telat sehingga rela naik angkutan umum yang tidak nyaman.

Selain itu, situasi yang tidak kondusif dirumah ditambah pula dengan guru yang memarahi siswanya di sekolah. “Sampai sekolah pun mereka dimaki-maki oleh guru sehingga siswa pun memendam kekesalan,” katanya di gedung Kemendiknas, Jakarta, Rabu (21/9/2011).

Selain itu, pengawasan di luar sekolah yang kurang juga menumbuhkan budaya tawuran. Hamid menjelaskan, ketika siswa berkumpul usai jam sekolah mereka sangat mudah didekati oleh alumni atau oknum lain yang ingin menyuburkan tradisi tawuran. Untuk mencegah mereka berkomplot merencanakan aksi kekerasan diperlukan perhatian dari pihak kepolisian.

Hamid menambahkan, terjadinya kekerasan di SMA 6 itu merupakan puncak gunung es. Masih banyak sekolah yang di ibukota yang menyimpan potensi kekerasan yang sama. Hamid menyatakan, pihaknya sangat malu akan penyerangan siswa SMA 6 kepada wartawan.

Oleh karena kekerasan itu terjadi di ibukota yang notabene barometer nasional. Proses penyelidikan harus diselesaikan segera karena dirinya tidak ingin kasus ini menjadi tontonan yang menyedihkan bagi dunia pendidikan. “Tidak pernah terpikir ini terjadi pada wartawan dan saya menyesali kejadian itu,” tukasnya.

Sementara itu, Komisi Nasional Perlindungan Anak (PA) menilai kurikulum pendidikan sekolah yang statis dan terkesan kejar target belajar, dikatakan bisa menjadi penyebab suburnya perilaku tawuran peserta didik sekolah selama ini.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait, kepada wartawan, Rabu (21/09/2011), mengatakan Kurikulum pendidikan juga dianggap tidak menyenangkan bagi siswa untuk belajar. Kurikulum pendidikan saat ini bahkan membuat jenuh para siswa. Kejenuhan siswa yang tinggi di sekolah, disinyalir, membuat pelajar melampisakannya pada kegiatan tawuran.

"Karena kurikulumnya menjenuhkan, siswa melampiaskan kejenuhan itu ke hal negatif seperti tawuran," kata Arist.

Menurut Arist, kurikulum pendidikan harus menyenangkan dan memiliki pilihan. Siswa tidak hanya dituntut cuma sekadar belajar secara teori dan menghafal materi matematika, bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, namun ada kurikulum pelajaran yang menyenangkan dan membuat siswa merasa bermain.

"Harus ada kurikulum pilihan yang menyenangkan bagi siswa," ujarnya.

Bagi Arist, dunia anak itu identik dengan dunia bermain. Karenanya sangat kental dengan nilai spontanitas dan semangat. Jika unsur-unsur tadi tidak terpenuhi maka justru kecerdasan anak tumbuh tidak optimal.

Selain itu, Arist berpandangan budaya kekerasan siswa juga bisa tumbuh dari perilaku orangtuanya sendiri. Banyak kekerasan yang dilihat anak dari perilaku orangtuanya, baik di rumah atau di jalanan.

Di sisi lain, tambah Arist, dominasi televisi yang menayangkan kekerasan sejumlah ormas yang sepertinya dilegitimasi dan kekerasan ara elit politik juga turut menanamkan budaya kekerasan itu ke otak para siswa. "Itulah sebabnya, siswa menjadi gampang terprovokasi," kata Arist.

Menurut Arist, dalam kasus kericuhan antara wartawan dan siswa beberapa lalu, pihak SMA Negeri 6 dan wartawan jangan cuma sebatas saling menuntut saja. Tetapi harus ada restorasi kasus yang membuahkan jalan keluar bagi keduanya. Karena menurutnya kerja wartawan harus dilindungi, namun anak-anak juga harus dilindungi.

Related posts