Budaya Kekerasan di Indonesia

Oleh : Noor Yanto (Wartawan HE Neraca)

“Ayah kalo ada anak anak sma ayah jangan mengaku wartawan. Ayah bilang aja ayah kerjanya guru agama sma, jadi nanti anak smanya tidak gebukin ayah. Kalopulang bawa coklat buat aku ya”.

Neraca. Sebait pesan ditulis oleh seorang anak di akun facebook si ayah yang berprofesi sebagai jurnalis di negeri tercinta ini. Tersentuh saat membacanya, sekaligus senyum mesem. Indonesia dahulu di mata dunia internasional, di kenal sebagai negeri yang aman tenteram. Hanya saja, ketenteraman itu mulai luntur dengan seringnya kejadian berbuntut kekerasan.

Kasus kekerasan yang dilakukan oleh seorang siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 6 Bulungan, Jakarta, membuat sejumlah pihak menyayangkan tindakan tersebut. Salah satunya datang dari pengamat pendidikan Arief Rachman.

Arief mengatakan, dirinya sangat menyesalkan perkara kekerasan yang menimpa dunia pendidikan Tanah Air. "Menyesal sekali perkelahian dan tindak kekerasan terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Dan saya tidak setuju dengan adanya kekerasan tersebut," kata Arief.

Menurut Arief, perilaku kekerasan bisa timbul tidak lepas dari peran orangtua dan sekolah sebagai pendidik, baik di rumah maupun di luar rumah. Untuk itu, Arief menyarankan, agar orangtua dan pihak sekolah untuk turut menyertakan pendidikan yang dapat meningkatkan fungsi hati nurani dan logika. "Untuk itu dibutuhkan peran orangtua dan sekolah untuk memutus budaya kekerasan yang mungkin dianut suatu sekolah," ungkapnya.

Selain memberikan pendidikan yang dapat meningkatkan fungsi hati nurani dan logika, menurut Arief, upaya yang dapat dilakukan untuk memutus budaya tawuran yang dianut dari alumni-alumni suatu sekolah adalah menyediakan lahan bagi siswa untuk menunjukkan jati diri.

"Dengan demikian, siswa bisa bebas berekspresi sesuai dengan apa yang dia sukai," tambahnya. Sekolah juga harus mengedepankan pendidikan karakter, seperti yang telah dicanangkan pemerintah.

Bahkan Kak Seto dari Komisi Nasional Perlindungan Anak menangkap kesan adanya pembiaran dari pihak sekolah atas kasus kekerasan yang dilakukan Siswa-siswa SMA 6 terhadap Wartawan kemarin.

“Ada pembiaran budaya kekerasan berkembang. Misalnya sekolah itu, memang sudah turun temurun budaya kekerasannya. Kalau tidak diperhatikan, dan sudah beberapa kali langkah-lamgkah peringatan kita sampaikan kepada sekolah, tapi kurang mendapat perhatian,” ujar Kak Seto.

Jika sudah demikian mengakarnya budaya kekerasan ada di masyarakat, mengutip Jenderal Besar Nagabonar, “Apa kata dunia?...”

Related posts