Jangan Percaya Ramalan IMF! - PREDIKSI SERING KELIRU

Jakarta – Lembaga keuangan International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi RI akan turun hingga 6,3% pada tahun ini. Prediksi itu, di bawah target pemerintah sebesar 6,5%. Meski berbeda, pemerintah RI meminta prediksi IMF itu tidak membuat khawatir karena kerap kali keliru.

NERACA

Seperti, pada semester I/2009 IMF memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 2,5% tapi ternyata tidak, malah pertumbuhan ekonomi kita mencapai 4,4%. Tahun berikutnya pun demikian, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,8%. Nyatanya, pertumbuhan ekonomi kita mencapai lebih dari 5 %.

Namun, menurut ekonom Indef Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, yang terpenting disini bukanlah persoalan benar atau salahnya prediksi yang dikeluarkan IMF. Tetapi bagaimana cara kita keluar dari krisis yang menerpa. ”Kita tidak bisa mengatakan prediksi itu salah atau benar, kita harus belajar dari krisis perekonomian dunia tahun 2008 lalu, saat itu Indonesia berhasil keluar dari krisis tersebut,” katanya .

Lebih jauh dia memaparkan, untuk mengatasi krisis Eropa dan Amerika agar Indonesia tidak terkena dampaknya, seharusnya pemerintah harus lebih agresif dalam meningkatkan ekonomi kerakyatan dengan memperkaya investasi domestik. ”Pemerintah harus merevitalisasi industri serta mengadakan perbaikan infrastruktur,” tegasnya.

Dia merasa ragu ketika ditanya perihal perekonomian Indonesia ditahun 2012 mendatang. Karena, krisis yang terjadi di Eropa dan Amerika akan sedikit menganggu nilai ekspor kita. Oleh karena itu pemerintah harus meningkatkan perekonomian internal dengan peningkatan investasi domestik dan mengurangi konsumsi pemerintah. “Di sini pemerintah dituntut untuk lebih cerdas dalam mengelola dana atau modal asing, karena saat modal asing yang masuk ke Indonesia begitu deras,” paparnya.

IMF dalam Executive Summary World Economic Outlook, Rabu, menyatakan kondisi ekonomi global saat ini berada dalam fase berbahaya dan terancam krisis. Kegiatan ekonomi global terus melemah. "Kepercayaan masyarakat turun drastis saat ini, dan risiko penurunan pertumbuhan ekonomi makin membesar," menurut laporan IMF.

Dalam kajiannya, IMF menilai negara ekonomi maju di dunia sedang mengalami hantaman ekonomi tahun ini. Jepang terhantam bencana gempa dan tsunami yang mengganggu perekonomiannya. Kemudian ekonomi AS juga kembali jatuh karena rendahnya konsumsi dalam negeri.

Belum lagi kondisi ekonomi Eropa yang terguncang di sektor keuangannya. Masalah struktural ini membuat dunia dihadapi oleh risiko krisis yang cukup besar. Karena berbagai masalah ekonomi yang menghadang, IMF memprediksikan pertumbuhan ekonomi AS mencapai 1,5% tahun ini dan 1,8% di 2012. Prediksi ini menurun perkiraan sebelumnya sebesar 2,5% di 2011 dan 2,7% tahun depan.

IMF juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia melamban menjadi 6,4% di 2011, di bawah target pemerintah yang sebesar 6,5%. Namun Menko Perekonomian Hatta Rajasa meminta prediksi IMF itu tidak membuat gamang karena kerap kali keliru.

Untuk menyiasati hal ini, menurut Erani, ada dua upaya yang bisa dilakukan pemerintah. Dana asing yang masuk harus diendapkan melalui Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Pasalnya, jika dana tersebut tidak diparkir dalam SBI, maka berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah. Kemudian dana yang diparkir di SBI juga harus diperhatikan agar beban bunga SBI tidak terlalu besar.

Meminimalisasi Dampak

Senada dengan Erani, ekonom LIPI Latief Adam mengatakan prediksi IMF itu kemungkinan salah, tapi kita yang terpenting adalah mengambil sisi positifnya saja. ”Jadikan prediksi ini sebagai warning atau pemecut bagi pemerintah untuk me-manage perekenomian agar lebih baik lagi, serta membuat kebijakan perekonomian untuk memilimalisir dampak krisis ekonomi yang sedang dialami Eropa, Amerika, dan Jepang,” sarannya.

Menurut dia, IMF mengeluarkan prediksi tersebut dengan melihat kondisi negara-negara yang terkena krisis ekonomi. Tidak bisa dipungkiri, kalau ketiganya merupakan poros ekonomi global. Negara tujuan utama ekspor kita (Indonesia) pun ke sana (Eropa, AS, Jepang). ”Jadi, untuk menghindari kebenaran prediksi IMF itu, pemerintah setidaknya lebih berhati-hati. Misalnya saja, Bapenas mengoreksi kembali kebijakan fiskal. Pertumbuhan ekonomi itu masuk dalam asumsi APBN,” tegasnya.

Sementara, target pemerintah di angka 6,5% dinilainya cukup bagus. Karena, pertumbuhan ekonomi 6,4% sampai 6,6% sudah baik. ”Struktur perekonomian kita masih amburadul. Apa lagi, pertumbuhan ekonomi 50%-nya dipengaruhi tingkat konsumsi. Memang, pemerintah sudah cukup berhasil untuk mengurangi inflasi, harga komoditi tidak naik tajam atau tetap,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi Dr. Iman Sugema mengatakan prediksi IMF dan pemerintah tidak jauh beda. Memang, secara prediksi IMF boleh dikatakan tidak pernah akurat sebelumnya. Tetapi saat ini dari segi besaran tidaklah jauh beda. ”Kalau keduanya memprediksi demikian berarti pertumbuhan relatif bagus,” tegasnya.

Pertumbuhan ekonomi yang positif kali ini, menurut dia, masih didukung dari beberapa sektor yang sama dari tahun-tahun sebelumnya. Yakni sektor-sektor non kredibel macam ekpor impor. ”Untuk sektor telekomunikasi juga demikian,” kata Iman.

”Berdasarkan skema yang saya pakai, pertumbuhan ekonomi kita rasanya akan berada pada angka 6,2%," katanya. ”Tetapi kebenarannya nanti tergantung bagaimana situasi perekonomian dunia juga tentunya,” ujarnya. iwan/vanya/ahmad

Related posts