Ditiadakan “Insentif” Stimulus Fiskal - Antisipasi Krisis Eropa di 2012

NERACA

Jakarta---Pemerintah tak memiliki program stimulus fiskal berupa dana segar guna antisipasi krisis ekonomi dunia di 2012. Alasanya krisis Eropa yang terjadi saat ini berbeda dengan krisis pada 2008. “Menurut saya kita tidak seperti 2008, di mana ada insentif fiskal atau stimulus,” kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa kepada wartawan di Jakarta,21/9

Lebih jauh kata Ketua umum PAN ini, kondisi ekonomi pada 2012 tidak sama persis dengan kondisi saat krisis keuangan melanda dunia di 2008-2009. Sehingga langkah dan kebijakan yang mesti diambil juga tidak sama dengan langkah penyikapan saat krisis 2008.

Menurut Hatta, tak tersedianya insentif fiskal berupa dana segar dalam postur APBN, lantaran ruang fiscal. Karena dana APBN semakin terbatas. Apalagi banyaknya program perlindungan sosial bagi masyarakat. Misalnya, alokasi subsidi BBM yang dipatok sebesar Rp123 triliun, subsidi listrik sebesar Rp45 triliun, subsidi benih nonenergi Rp40 triliun.

Dikatakan Hatta, program-program tersebut merupakan bagian dari stimulus untuk menjaga kondisi ekonomi nasional cukup aman dari krisis keuangan dunia. “Jadi jangan berfikir fiskal,” tambahnya.

Beberapa hari lalu, Wakil Menteri Keuangan, Anny Ratnawati juga menegaskan pemerintah mengubah kebijakan stimulus fiskal pada 2012 dan lebih terfokus pada peningkatan belanja modal. Sehingga mendorong pada peningkatan dan percepatan penyerapan anggaran. “Jadi stimulusnya harus dibayangkan dari hari ini, dalam bentuk belanja modal yang lebih tinggi di 2012,” katanya

Menurut Anny, fokus pemerintah pada optimalisasi belanja modal. Sehingga secara kualitas bisa mendorong perekonomian tumbuh lebih baik.Makanya, pagu anggaranya akan dinaikkan melebihi pagu belanja barang. “Belanja yang bagus adalah belanja yang bisa mendorong ekonomi, bisa menstimulus ekonomi,” tambahnya

Dikatakan Anny, paket stimulus fiskal yang direncanakan kemungkinan besar bukan sebagai program baru. Artinya, stimulus ini di luar kebijakan yang sudah tertuang dalam RAPBN 2012. Pasalnya, postur anggaran belanja modal yang cukup besar sudah merupakan stimulus ekonomi. “Salah satunya adalah memastikan belanja modalnya bisa diserap lebih cepat. Itu sudah stimulus.”

Yang jelas dalam RAPBN 2012, alokasi anggaran belanja modal sebesar Rp168,1 triliun, naik Rp27,2 triliun atau 19,3% dari APBNP 2011. Peningkatan anggaran belanja modal tersebut diarahkan untuk menunjang pembangunan infrastruktur energi, ketahanan pangan, dan komunikasi, guna mendukung pengembangan dan peningkatan keterhubungan antar-wilayah.

“Prinsipnya itu bagaimana men-deliver itu (belanja modal) sesegera mungkin sehingga DIPA (daftar isian pelaksanaan anggaran) bisa diproses. Kalau besok (tahun depan), penarikan belanja modal dimajukan lagi. Kalau dulu minggu ketiga Desember (DIPA selesai), mudah-mudahan ini bisa lebih maju lagi. 30 Novemebr Perpres-nya keluar,” tandasnya

Dengan percepatan penyelesaian DIPA, kata Wamenkeu, kementerian/lembaga (K/L) bisa lebih cepat melakukan lelang proyek-proyek 2012 di penghujung tahun ini. Namun , tetap pengesahan dokumen dan pelaksanaanya baru bisa dilakukan per 1 Januari 2012.

Dia menambahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah masih melanjutkan program-program jaminan sosial, yang berlangsung selama ini, di tahun depan. Sementara untuk menjaga ketahanan dan daya saing usaha, ada fasilitas-fasilitas perpajakan yang regulasinya baru saja dituntaskan pemerintah pembahasannya. **cahyo

Related posts