Tren Pelemahan Indeks, Lampu Kuning Pasar Modal

NERACA

Jakarta – Sejak di awal pekan hingga perdagangan kemarin, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia terus terkoreksi seiring belum berlanjutnya krisis ekonomi Amerika dan penyelesaian utang Eropa. Alhasil, kekhawatiran tersebut memicu pelaku pasar melakukan aksi jual atau menahan (hold) sebagai bentuk penyelamatan portofolio investasinya.

Klaim pemerintah bila koreksi indeks hanya bersifat sementara, belum meredam kepanikan pelaku pasar. Pasalnya, lambat tapi pasti industri pasar modal saat ini ada dilampu kuning yang butuh intevensi pemerintah.

Menurut analis pasar modal Satrio Utomo, indeks pasar modal dalam negeri berada di tingkat yang mengkhawatirkan. Alasannya, penutupan saham kemarin indeks di level 3.752 dan akan terus ditutup level terendah. “Aksi jual investor asing terus berlangsung dan kondisi sulit membawa indeks keluar dari tekanan,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (20/9).

Indeks selama ini sangat bergantung terhadap sentimen positif global dan regional. Selain itu, intervensi pemerintah di sektor makro dan moneter meredah depresiasi rupiah sangat dibutuhkan.

Menurut dia, intervensi pemerintah terhadap rupiah dinilainya cukup bagus yang bertengger di posisi Rp 8.880 per dolar AS. “Jika regional masih bagus, otomatis IHSG ikut rebound. Selama sepekan lalu, pasar panik karena rupiah volatile. Penyebabnya pemerintah ingin mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang valas dan rencana penurunan BI Rate," ujarnya.

Sementara Kepala Riset Universal Broker Indonesia ini memprediksi, sepekan ke depan, faktor eksternal semua tergantung Dow Jones. Sedangkan faktor internal, sebenarnya akan dikeluarkannya PBI ini, namun ironis waktu yang di keluarkan tidak tepat. "Meski indeks regional baik tapi Dow Jones terjun, sama saja. Rupiah akan stabil di kisaran Rp 8.500-9.100 dan IHSG di level 3.550-3.590. Saya harap IHSG di atas level 3.600," tegasnya.

Koreksi yang terjadi pada pergerakan indeks saham dalam negeri, kata analis saham Trimegah Securities Hanel Topada Eratina tidak perlu disikapi dengan panik. Pasalnya, efek langsung dari gejolak bursa saham terhadap sektor finansial tidaklah besar. Makanya, untuk jangka pendek tidak akan berpengaruh.

Meski demikian bukan berarti segalanya akan baik-baik saja. Karena ada beberapa bagian yang akan berpengaruh. Yakni dari pasar obligasi, ketika index turun pelaku pasar diyakini akan kesulitan mengatur likuiditas. ”Yang sedikit terpengaruh adalah pasar obligasi, sementara untuk sektor perbankan masih aman karena sektor ini memiliki permodalan cukup baik,” kata Hanel.

Meski tak mau memprediksi kapan asing akan kembali meramaikan bursa saham Indonesia. Namun dia yakin kalau emiten-emiten dalam negeru dapat bekerja dengan baik. Malah dengan obral saham perbankan oleh asing ini dapat menambah konsentrasi emiten-emiten lokal pada sektor kredit. ”Namun, kalau outflow terus berlanjut liquiditas finansial akan terpengaruh,” jelasnya.

Intinya, yang ditunggu para investor adalah soal jadi tidaknya default Yunani. Kalau Yunani benar di default, maka untuk mengatasinya adalah dengan penerbitan Euro Bond. ”Kalau sudah demikian cara satu-satunya adalah penerbitan Euro Bond,” katanya kemarin.

Dirinya mengaku optimis kesulitan yang ada akan dapat dilalui. Pasalnya, fluktuasi yang terjadi saat ini tidak berlebihan. Ditambah lagi rencana BI yang akan mengeluarkan aturan baru untuk para eksportir dalam negeri di Oktober mendatang. tentunya liquiditas pasar saham tidak akan bermasalah. "Fluktuasi yang terjadi saat ini kan tidak berlebihan," tegasnya.

Jauh lebih skeptis, analis PT Finance Corpindo Nusa Edwin Sinaga menuturkan krisis global yang masih tak menentu mengakibatkan indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) merosot tajam hingga mencapai 3.600 poin. “Indeks BEI akan dapat mencapai level 3.600 poin dan bahkan apabila keterpurukannya terus terjadi akan mencapai titik bawah psikologis 3.650 poin,”tandasnya.

Jangka Pendek

Menurut Edwin, pelaku pasar aktif melepas saham, meski harga saham yang dijual merosot tajam dibanding harga beli. Pelaku pasar melepas sahamnya dalam upaya menghindari kerugian yang berlanjut dan aset-aset yang berisiko.

Merespon kondisi indeks saat ini, Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, koreksi indeks yang terjadi selama ini hanya fenomena dan bersifat sementara. Pasalnya, koreksi pasar modal tidak hanya dialami Indonesia tetapi juga di banyak negara, “Investor portofolio menghadapi ketidakpastian dan anjlok saham fenomena jangka pendek. Karena Eropa yang tidak menentu, maka seluruh saham juga sama,"katanya di Jakarta, Selasa (20/9).

Menurut dia, naik turunnya indeks BEI masih terjadi. Namun tren jangka panjang masih tetap meningkat dan karena itu, dirinya percaya investor asing akan tetap masuk kepasa saham dalam negeri pada akhir tahun 2011."Tanpa memperhitungakan window dressing, asing akan masuk kembali di akhir tahun. Masuk, karena tidak punya banyak pilihan, dan Indonesia menjadi tujuan terbaik investasi,”tegas Ito.

Investor asing, lanjut Ito memang telah membuang portofolio saham-saham emiten sejak awal Agustus. Periode tengah tahun memang lazim indeks melemah, seiring investor yang melakukan libur di musim panas. ardi/ahmad/bani

Related posts