Pasar Modal Butuh Stabilitas Ekonomi

Redam Sentimen Negatif

Rabu, 29/04/2015

NERACA

Jakarta – Terkoresinya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) membuat kepanikan investor seiring minimnya sentiment positif dari laporan keuangan emiten di kuartal satu. Besarnya sentiment internal memaksa aksi jual investor ketimbang sentiment eksternal.

Menurut analis PT Pefindo Riset Konsultasi, Guntur Tri Hariyanto, pasar modal membutuhkan sistem ekonomi stabil. Jika melemah, pasar akan goyah,”Kondisi ekonomi yang tidak stabil akan mendorong terjadinya volatilitas harga aset yang berlebihan, serta lebih banyak aktivitas spekulasi dibandingkan investasi,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menuturkan, turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin lebih mengarah pada sentimen negatif dalam negeri. Paket pembangunan yang pemerintah canangkan tidak kunjung terealisasi,”Persepsi terutama dari sisi ekonomi dan kestabilan politik. Pemerintah kurang memperhatikan secara menyeluruh mengenai konsistensi kebijakan yang mereka bangun,” paparnya.

Menurut Guntur, pasar kecewa terhadap pemerintah yang kurang solid membangun kepastian ekonomi dan politik. "Mereka merasa mendapatkan sinyal yang kurang baik. Artinya, pemerintah kurang konsisten dalam visi dan tujuan pembangunan,” tegasnya.

Tercatat IHSG BEI Selasa sore ditutup terkoreksi 3,28 poin atau 0,06% menjadi 5.242,15. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak melemah 1,99 poin (0,22%) ke level 908,65,”Meski masih diwarnai aksi jual saham, namun pelemahan indeks BEI sudah mulai terbatas menyusul sebagian investor yang sudah mulai melakukan aksi beli," kata analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya.

Menurut dia, investor asing yang masih dalam posisi lepas saham menjadi salah satu faktor penahan IHSG BEI untuk bergerak menguat, dalam data BEI tercatat pelaku pasar asing membukukan jual bersih (foreign net sell) senilai Rp1,818 triliun pada (Selasa, 28/4),”Walaupun masih diwarnai oleh 'capital outflow', namun potensi untuk mengalami kenaikan lanjutan masih terbuka cukup besar menuju level 5.389 poin, kondisi IHSG dalam jangka panjang masih berada dalam jalur tren penguatan," katanya.

Sementara Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah mengungkapkan, sentimen negatif datang dari dalam negeri, investor cukup pesimis terhadap laba perusahaan untuk kuartal I 2015 yang dikhawatirkan mencatatkan perlambatan.

Dari eksternal, Alfiansyah menambahkan bahwa investor juga sedang menunggu rapat moneter Bank Sentral AS (the Fed) yang dimulai pada Selasa (28/4) waktu setempat, diharapkan dapat memberikan petunjuk waktu mengenai kapan the Fed mulai menaikkan suku bunganya.

Selain itu, lanjut dia, pelaku pasar juga sedang khawatir terhadap Yunani yang mendekati kebangkrutan yang kemungkinan tidak akan mendapat dana bantuan sebelum menyetujui reformasi ekonomi penuh,”Sentimen eksternal dan internal yang terbilang kurang mendukung bagi pasar saham Indonesia, diperkirakan dapat kembali memicu IHSG dalam bayang tekanan pada perdagangan saham hari ini (28/4)," katanya. (bani)