Dirjen Sebut Budidaya Laut Dukung Poros Maritim

Rabu, 29/04/2015

NERACA

Pesisir Selatan – Pengembangan budidaya laut atau dikenal dengan Marikultur terus dikembangkan. Didukung dengan potensi yang cukup besar, marikultur juga dinilai akan dapaty berkontribusi banyak untuk mendorong Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia.

“Saat ini potensi lahan marikultur Indonesia yang mencapai 4,58 juta ha baru dimanfaatkan sekitar 2%, belum lagi prospek pengembangan usaha marikultur yang dapat dilakukan mulai wilayah garis pantai hingga ke area lepas pantai. Pengembangan marikultur sejalan dengan visi misi Kabinet Kerja untuk mendorong laut menjadi sumber ekonomi bangsa di masa depan dan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada saat mendampingi Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI di Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat, dikutip dari siaran resmi, Selasa.

Slamet lebih lanjut mengatakan bahwa rumput laut ke depan akan dikembangkan Untuk wilayah garis pantai sampai dengan 4 mil, Sedangkan untuk wilayah di atas 4 mil dapat dikembangkan budidaya laut dengan menggunakan Karamba Jaring Apung (KJA) dengan komoditas yang disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing seperti Kakap, Kerapu, Bawal Bintang, Abalone atau bahkan Tuna. “Disamping itu, komoditas marikultur merupakan komoditas ekspor dan banyak diminati oleh pasar luar negeri yang masih sangat terbuka lebar. Capaian produksi marikultur juga mengalami peningkatan yang cukup siginifikan, seperti rumput laut yang produksinya pada tahun 2010 sekitar 3,9 juta ton, pada tahun 2014 mencapai 10,2 juta ton (data sementara). Demikian juga pada komoditas kakap dan kerapu serta komoditas lain seperti bawal bintang yang sangat berpotensi untuk dikembangkan,” lanjut Slamet.

Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), merupakan salah satu kabupaten di wilayah propinsi Sumatera Barat yang memiliki potensi perikanan budidaya laut cukup besar. “Potensi lahan untuk pengembangan budidaya laut di Kab. Pessel mencapai 415 ha, dimana saat ini sebagian besar dikembangkan untuk budidaya laut seperti kerapu dengan sistem karamba jaring apung (KJA) dan juga rumput laut. Kerapu saat ini masih menjadi primadona ekdpor dengan tujuan China dan Hongkong. Namun, kita menyarankan untuk melakukan diversivikasi komoditas dalam budidaya laut, seperti budidaya ikan bawal bintang. Keunggulan ikan bawal bintang adalah bahwa ikan ini dijual tidak harus dalam kondisi hidup sehingga kita dapat memberikan nilai tambah dengan melakukan pengolahan terlebih dulu sebelum di ekspor. Disamping itu, sesuai dengan arahan Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi, kita juga akan dorong untuk melakukan restocking dalam rangka memperbanyak stok ikan di alam dan menunjang keberlanjutan,” jelas Slamet.

Untuk mendukung pengembangan perikanan budidaya khususnya di Kab. Pessel, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), memberikan bantuan baik berupa permodalan maupun peralatan. “Sejak tahun 2011, DJPB telah menyalurkan bantuan permodalan melalui PUMP-PB sebanyak 3 paket senilai Rp. 300 juta dan pada tahun 2014, kita salurkan bantuan permodalan sebanyak 34 paket senilai Rp. 1,19 milyar. Disamping itu juga kita serahkan KJA Ramah lingkungan sebanyak 9 unit sejak tahun 2011 – 2014. Ini semua kita harapkan mampu meningkatkan produksi perikanan budidaya di Kab. Pessel,” ungkap Slamet.

Produksi perikanan budidaya Prop Sumatera Barat tahun 2013 mencapai 206 ribu ton atau meningkat 12 % dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian peningkatan produksi ini tentu saja tidak terlepas dari peran pemerintah daerah dalam mendorong pengembangan usaha perikanan budidaya dan juga kebijakan pemerintah dalam mendorong peningkatan produksi perikanan budidaya secara berkelanjutan.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menyampaikan bahwa pembangunan perikanan budidaya di dorong untuk selaras dengan tiga pilar pembangunan yang merupakan turunan dari Nawa Cita atau Visi Misi Presiden RI. Tiga pilar tersebut adalah Prosperity (Kesejahteraan), Sustainability (Keberlanjutan) dan Sovereignity (Kedaulatan). Menteri Susi memberikan contohnya yaitu budidaya rumput laut. Sebab budidaya rumput laut merupakan salah usaha budidaya yang tidak menimbulkan pencemaran, tidak perlu pakan dan obat, serta menggunakan teknologi yang sederhana. Disamping itu Rumput laut memiliki peluang sangat mudah untuk dikembangkan karena biaya produksinya murah dan dapat menyerap banyak tenaga kerja.

Pada kunjungan kerja Komisi IV DPR RI di Kab. Pessel, Ketua Rombongan, Herman Haeron, menyatakan bahwa perkembangan usaha budidaya laut di Kab.Pessel cukup menggembirakan. “Yang perlu diperhatikan saat ini dan ke depan adalah penyediaan benih ikan khususnya ikan kerapu untuk mendukung usaha budidaya yang ada. Pemerintah daerah harus mendorong Balai Balai Benih Ikan (BBI) yang ada untuk memproduksi benih kerapu yang unggul. Pemerintah pusat harus selalu melakukan pembinaan terhadap keberlangsungan produksi benih tersebut. Dari sini kita harapkan para pembudidaya tidak perlu lagi membeli benih kerapu jauh-jauh dari Jawa. Apabila hal ini dapat teratasi maka produksi ikan akan dapat terus didorong dan pengembangan usaha budidaya ikan akan meningkat," kata dia.