Dana Membantu Mantan Olahragawan

NERACA. Seperti apa ya para mantan olahragawan Indonesia saat ini? Telah kita ketahui, Indonesia memiliki banyak mantan olahragawan yang perlu dibantu. Kehidupan mereka yang memprihatinkan telah menggugah hati banyak pihak. Seperti yang terjadi pada Sukarnah (atlet lempar lembing) dan Nico Thomas (petinju) adalah dua dari banyaknya mantan olahragawan yang hidupnya memprihatinkan. Mereka adalah potret keironisan olahraga di Indonesia. Indahnya prestasi yang mereka torehkan tidaklah seindah guratan kehidupan yang dijalani.

Untuk itu, pemerintah dan beberapa yayasan yang didirikan untuk membantu mantan olahragawan juga banyak bermunculan. Salah satunya adalah Yayasan Olahraga Indonesia (YOI). Namun, kendala utama sebuah yayasan untuk tetap eksis dan bertahan adalah pendanaan. Bagaimana yayasan-yayasan itu dapat bertahan dalam kemandiriannya?

“Yayasan yang ada sekarang, tidak banyak yang eksis dalam jangka panjang karena masalah dana operasional, perlu kreativitas pemberdayaan segala upaya agar yayasan tetap berjalan, dan bantuan untuk para mantan olahragawan tetap berkesinambungan”, ungkap Anton Sajoyo, pengamat olahraga, dalam diskusi olahraga beberapa pekan lalu di Jakarta.

“Pendanaan sebuah yayasan, seperti YOI, perlu dijadikan contoh untuk yang lainnya, karena YOI menciptakan usaha yang menguntungkan sebagai upaya memperoleh dana yang akan diserahkan untuk kegiatan memberdayakan mantan olahragawan yang hidupnya masih sangat prihatin”, tambahnya.

“Dalam upaya mengangkat taraf kehidupan ekonomi mantan atlet, pemerintah telah melakukan berbagai bantuan, wujud kepedulian pemerintah ini masih harus dibantu oleh pihak swasta, karena Pemerintah sendiri juga tidak mempunyai dana yang cukup untuk membantu memberdayakan para mantan atlet”, jelasnya lagi.

“Banyak mantan olahragawan yang mendapatkan bantuan dana, rumah, maupun modal usaha. Namun, dengan banyaknya jumlah mantan olahragawan yang memerlukan bantuan, pemerintah pun memerlukan bantuan dari pihak lain, dalam hal ini pihak swasta, seperti yang telah dilakukan Yayasan Olahragawan Indonesia”, tambahnya.

Program-program sosial yang dilaksanakan pemerintah untuk membantu mantan olahragawan yang hidupnya memprihatinkan didukung oleh dana yang telah dianggarkan secara khusus untuk kepentingan olahraga di Indonesia. Namun bagaimana dengan dana yang didapat pihak swasta seperti yayasan?

Lain halnya dengan pemerintah, sebuah yayasan harus berusaha sendiri dalam memperoleh pendanaan. Sokongan dana yayasan biasanya didapat dari donatur atau sponsor maupun kepedulian individu. Yayasan Olahragawan Indonesia (YOI) merupakan yayasan yang peduli perolahragaan di Indonesia; terutama olahragawan dan mantan olahragawan, pun memerlukan sokongan dana untuk tetap mewujudkan impian; yaitu Indonesia Juara.

“Sebaiknya mantan atlet sudah harus mempersiapkan dirinya untuk memasuki masa pensiun. Setiap atlet hendak tetap fokus pada keahliannya di masa pensiun, dengan mempersiapkan diri untuk menjadi pelatih, mendirkan sekolah tenis atau cabang lainnya, yang tentunya persiapan ini harus dibantu terutama oleh pemerintah, dan pihak swasta juga” ,ungkap Suharyadi yang merupakan mantan petenis nasional, dan juga suami dari Yayuk Basuki

“Yayasan yang membantu mantan olahragawan, memang harus berusaha sendiri untuk tetap eksis, sehingga dapat terus berkomitmen menjalankan program-program sosialnya, terutama dalam memberdayakan mantan atlet untuk bisa menjadi, misalnya: pelatih di bidangnya masing-masing”, lanjut Suharyadi. “Oleh karena itu, Yayasan Olahragawan seperti YOI harus mencari solusi pendanaan mereka dengan melibatkan seluruh insan yang peduli dan cinta terhadap olahraga di Indonesia, dan ini perlu dukungan semua pihak”, tambahnya.

Yayasan-yayasan yang berdiri untuk membantu mantan olahragawan, yang berdiri karena kepeduliannya terhadap olahraga di Indonesia, hendaknya dapat juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama terpanggil untuk ikut berpartisipasi membantu olahragawan maupun mantan olahragawan Indonesia.

Kepedulian terhadap olahraga di Indonesia juga merupakan kepedulian masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan, secara tidak langsung masyarakat Indonesia juga ikut serta berpartisipasi dalam membantu mantan olahragawan dan olahragawan, untuk Indonesia Juara.

BERITA TERKAIT

DPRD‎ Depok "Hanya" Setujui APBD Perubahan 2019 Rp3,7 Triliun - Punya Potensi Dana SILPA 2018 Rp‎765,6 Miliar

DPRD‎ Depok "Hanya" Setujui APBD Perubahan 2019 Rp3,7 Triliun Punya Potensi Dana SILPA 2018 Rp‎765,6 Miliar NERACA Depok - ‎DPRD…

Targetkan Listing Awal September - Bhakti Agung Bidik Dana IPO Rp 335,5 Miliar

NERACA Jakarta – Meskipun bisnis properti lesu, hal tersebut tidak menyurutkan rencana PT Bhakti Agung Propertindo Tbk untuk go public.…

Gelar Rights Issue - Radana Finance Bidik Dana Rp 696,5 Miliar

NERACA Jakarta – Perkuat struktur permodalan dalam rangka menunjang ekspansi bisnisnya, PT Radana Bhaskara Finance Tbk (HDFA) bakal menggelar aksi…

BERITA LAINNYA DI CSR

Pacu Kualitas Pendidikan di NTT - Kredivo “Turun Gunung” Ikut Mengajar di Desa Pogo Tena

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan pada dunia pendidikan dan peningkatan kualitas belajar dan mengajar, Kredivo, kartu kredit digital untuk…

Bebas Stunting Perlu Kerjasama Antar Kementerian - Lembaga

Mewujudkan generasi-generasi bangsa yang sehat cerdas dan sehat, diperlukan penanganan kesehatan yang optimal dan termasuk bebas dari kasus kekerdilan atau…

Peduli Pendidikan Daerah Terpencil - Lippo Malls Berikan Beasiswa Bagi 1000 Anak

Mewujudkan kepedulian pada dunia pendidikan, khususnya memberikan akses pendidikan bagi generasi muda yang tinggal di daerah terpencil, Lippo Malls Indonesia…