RI-Slowakia Sepakat Tingkatkan Kerjasama Ekonomi

Rabu, 29/04/2015

NERACA

Jakarta - Indonesia dan Slowakia sepakat untuk meningkatkan hubungan bilateral, dengan berfokus merealisasikan kerja sama ekonomi. “Hubungan kerja sama politik yang telah berlangsung baik antara RI-Slowakia perlu diperkuat dengan tindak lanjut kerja sama bilateral yang konkret, khususnya di bidang ekonomi,” kata Direktur Jenderal Kawasan Amerika Eropa Kementerian Luar Negeri Dian Triansyah Djani, seperti dikutip Antara, kemarin.

Direktur bidang Politik Kementerian Luar Negeri dan Urusan Eropa Republik Slowakia, ubomr Rehk, dalam Forum Konsultasi Bilateral RI-Slowakia ke-4 di Jakarta mengatakan bahwa Slowakia memandang Indonesia sebagai mitra penting di kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu, kata dia, Slowakia akan terus upayakan peningkatan hubungan kerja sama bilateral ekonomi dengan Indonesia di berbagai sektor, khususnya sektor energi, pertanian dan pertahanan.

Pada sektor pertanian, kedua negara bekerjasama dalam penelitian dan pengembangan bibit gandum tropis di Padang. Itu merupakan contoh konkret kerja sama bilateral yang dapat mendukung upaya ketahanan dan kemandirian pangan. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat memperkuat kerja sama ekonomi melalui peningkatan kontak antar pelaku usaha kedua negara, serta kerja sama investasi Slowakia di Indonesia dan juga sebaliknya.

Selain itu, kedua pihak juga sepakat meningkatkan nilai perdagangan bilateral RI-Slowakia. Terkait peningkatan nilai perdagangan, Dirjen Dian Triansyah Djani mendorong produk-produk Indonesia agar dapat masuk pasar Slowakia, seperti ban dan minyak sawit. Nilai perdagangan bilateral Indonesia-Slowakia pada 2014 tercatat sebesar 29,91 juta dolar AS, dengan surplus di pihak Indonesia sebesar 4,94 juta dolar AS.

Pada pertemuan itu, Dirjen Amerop Kemlu itu menekankan bahwa Indonesia dan Slowakia merupakan kedua negara yang memiliki kelebihan strategis. Indonesia adalah pintu masuk pasar ASEAN yang merupakan peluang besar dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sementara itu, Slowakia yang sedang menduduki presidensi kelompok negara-negara Visegrad atau V4 (Slowakia, Polandia, Hongaria dan Ceko) adalah pintu masuk pasar kawasan negara-negara tersebut dan sekitarnya.

Sekedar informasi, pada tahun 2007, Slovakia mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara anggota OECD dan Uni Eropa. Pertumbuhan PDB tahunan adalah 10,4% atas dasar harga konstan, dengan tingkat rekor 14,3% mencapai pada kuartal keempat (3). Pada tahun 2010, Slovakia tumbuh sebesar 4,0%, yang merupakan pertumbuhan tertinggi di antara negara anggota Uni Eropa yang baru.

Negara Visegrad

Sebelumnya, Duta Besar Polandia untuk Indonesia, Grzegorz Wisniewski menyatakan pandangannya tentang kelompok negara di kawasan Eropa Tengah, Visegrad Group terhadap Indonesia. Kelompok ini, kata dia, menyatakan bahwa posisi Indonesia dan Asia di dunia internasional semakin penting. Karena itu, pihaknya tengah menjajaki peningkatan kerja sama di berbagai bidang. “Secara tradisional kami hanya membangun hubungan erat dengan negara-negara Uni Eropa. Namun, saat ini kami tengah menjajaki kemungkinan untuk memperluasnya sampai ke Asia dan juga Indonesia karena posisinya semakin penting di dunia internasional,” katanya.

Dubes Polandia ini, juga menjelas bahwa negaranya tahun ini menjadi Presiden Visegrad. Polandia, bersama Republik Ceko, Hongaria, dan Slovakia bergabung dalam Visegrad Grup untuk membentuk sebuah aliansi yang memperkuat posisi mereka di Uni Eropa.

Jika digabungkan, ekonomi keempat negara tersebut merupakan yang terbesar ketujuh di Eropa dan ke-15 di dunia. Keempat negara tersebut juga relatif terhindar dari krisis ekonomi yang mendera benua itu sejak 2009. Sebagai contoh, pertumbuhan ekonomi Polandia pada tahun 2011 mencapai 4,3 persen dan yang pencapaian terbaik di antara anggota Uni Eropa. “Sebelumnya, kami hanya menerima barang-barang impor dari Indonesia. Namun, saat ini beberapa perusahaan di negara-negara kami juga sudah mulai menjajaki kemungkinan investasi pertambangan di Kalimantan,” kata Wisniewski.

Meskipun demikian, Wisniewski mengakui bahwa pada tingkat nonnegara, Indonesia dan negara-negara Visegrad belum mengenal satu sama lain. Ini menurutnya, dibutuhkan waktu yang lebih untuk meningkatkan level hubungan. “Masyarakat di kedua negara belum mengenal satu sama lain, hal ini berarti perusahaan-perusahaan kami membutuhkan waktu untuk memahami regulasi-regulasi penanaman modal di Indonesia,” kata Wisniewski.