Menperin Resmikan Pabrik Sepatu Changshin Reksa Jaya di Garut

Selasa, 28/04/2015

NERACA

Jakarta – Menteri Perindustrian Saleh Husin meresmikan pabrik sepatu PT. Changshin Reksa Jaya di Garut, Jawa Barat, Senin (27/4), dikutip dari keterangan resmi di Jakarta. Pabrik yang akan memproduksi sepatu merek Nike ini memiliki nilai investasi sebesar USD 60 juta dengan kapasitas produksi mencapai 15 juta pasang per tahun dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 5.500 orang. Keseluruhan produknya akan diekspor ke Eropa, Amerika dan Asia.

“Kami sangat memberikan apresiasi atas investasi PT. Changshin Group yang telah melakukan pengembangan usaha dengan membangun PT. Changshin Reksa Jaya di kabupaten Garut. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong peningkatan ekspor non migas dan peningkatan penyerapan tenaga kerja nasional,” tegas Menperin. Selain itu, diharapkan PT. Changshin Group dapat mempromosikan Indonesia sebagai basis produksi industri sepatu kepada investor dari Korea untuk berinvestasi di Indonesia.

Menperin mengatakan, industri alas kaki merupakan salah satu sektor prioritas yang terus dikembangkan oleh Kementerian Perindustrian, mengingat peranannya dalam perolehan devisa ekspor non migas dan penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak. “Industri alas kaki yang merupakan industri padat karya, sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia,” tandasnya.

Dapat disampaikan, investasi industri alas kaki cenderung naik setiap tahunnya, dimana kenaikan rata-rata pada tiga tahun terakhir (2011–2013) sebesar 4,74%. Pada tahun 2013, investasi industri alas kaki mencapai Rp. 10,7 triliun atau naik sekitar 1,25% dibanding tahun sebelumnya, dan sektor ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 643 ribu orang. “Bahkan, ekspor industri alas kaki terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2014, nilai ekspor produksi alas kaki nasional mencapai USD 4,11 miliar atau naik sebesar 6,44% dibanding tahun sebelumnya,” ungkap Menperin.

Hingga saat ini, tujuan ekspor utama produk alas kaki Indonesia diantaranya ke Amerika Serikat, Belgia, Jerman, Inggris dan Jepang. “Industri alas kaki merupakan salah satu industri yang terus meningkat nilai perdagangannya dengan rata-rata nilai surplus dalam lima tahun terakhir mencapai USD 2,84 miliar,” kata Menperin.

Pada akhir tahun 2014, surplus perdagangan produk alas kaki mencapai USD 3,7 miliar. Namun pemenuhan pangsa pasar dunia industri alas kaki Indonesia baru mencapai 3%. Oleh karena itu, perlu ditingkatkan lagi kapasitas produksinya agar industri alas kaki nasional sebagai penghasil devisa negara dapat terus meningkat.

“Dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 240 juta jiwa, merupakan pasar potensial dan strategis yang dapat memberikan dukungan positif bagi investor industri alas kaki untuk mengembangkan usahanya di Indonesia,” ucap Menperin. Untuk itu, Pemerintah terus melakukan berbagai langkah strategis dalam upaya pengendalian impor dan pengamanan pasar dalam negeri melalui kebijakan non-tariff seperti penerapan SNI Wajib, P3DN, dan pengaturan tata niaga untuk impor produk barang jadi. Kebijakan tersebut merupakan keberpihakan yang baik kepada dunia usaha.

Di samping itu, dalam rangka memberikan dukungan dalam peningkatan daya saing industri alas kaki nasional, Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan seperti: (1) Program Restrukturisasi Mesin/Peralatan Industri TPT dan alas kaki dengan memberikan bantuan potongan harga pembelian mesin baru. Kebijakan tersebut telah terbukti dapat meningkatkan kapasitas produksi sebesar 22,67%, peningkatan produktivitas sebesar 4-10%, peningkatan efisiensi energi sebesar 7,65% dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 118.558 orang selama lima tahun terakhir.

Kebijakan lainnya yaitu: (2) Pemberian insentif melalui tax allowance sebesar 30% dalam enam tahun yang setiap tahunnya 5%; (3) Rezim investasi di Indonesia memberikan perlakuan yang sama terhadap PMA dan PMDN; (4) Memfasilitasi peningkatan kemampuan SDM industri alas kaki, guna menyeimbangkan kemampuan dengan teknologi baru yang terjadi akibat Program Restrukturisasi; (5) Meningkatkan penguasaan pasar ekspor maupun domestik melalui fasilitasi pameran dalam dan luar negeri; (6) Meningkatkan keterkaitan antar hulu dan hilir agar nilai tambah yang diberikan dapat lebih maksimal; serta (7) Menjamin ketersediaan bahan baku dengan mendorong investasi industri penolong dan asesoris.

Sementara itu, sebelum meresmikan PT. Changshin Reksa Jaya, Menperin menyempatkan untuk melakukan dialog dengan para pelaku IKM di Unit Pelayanan Teknis (UPT) Penyamakan Kulit Sukaregang, Perkampungan Kulit Garut, Jawa Barat. Pada kesempatan tersebut, Menperin yang didampingi Dirjen BIM Kemenperin Harjanto serta Anggota DPD RI Aceng Fikri dan Bupati Garut Rudy Gunawan mendengarkan langsung berbagai kebutuhan dan kendala yang dihadapi oleh pelaku usaha industri penyamakan kulit.

“Tujuan saya ke sini ingin melihat secara langsung sehingga ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Saat dialog, mereka menyampaikan kepada saya agar pemerintah terus menjaga ketersediaan bahan baku sehingga keberlangsungan industri penyamakan kulit dan kerajinan kulit dapat berjalan dengan baik dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun ekspor,” tutur Menperin.