Jumlah Wirausaha RI Ketinggalan Dibanding Negara di ASEAN

Selasa, 28/04/2015

NERACA

Jakarta - ‎Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perbankan dan Finansial Rosan P Roeslani menyatakan bahwa jumlah wirausaha di Indonesia masih ketinggalan jauh dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN lainnya seperti Malaysia, Singapura ataupun Thailand. Ia menyebutkan bahwa jumlah wirausaha di Indonesia hanya 1,6% dari total jumlah penduduk di Indonesia secara keseluruhan.

Bila dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN saja masih tertinggal apalgi jika dibanding dengan Korea, maka dipastikan Indonesia tertinggal jauh. Padahal negara Korea jumlah penduduknya lebih sedikit jika dibanding Indonesia. “Wirausaha di Korea itu ada 4%, Malaysia 2,1%. Jadi kita sangat tertinggal sekali sama mereka. Singapura dan Thailand juga lebih besar dari Indonesia,” kata Rosan di Jakarta, Senin (27/4).

Kendala yang dialami pada umumnya dalam menciptakan wirausaha. Namun, adanya industri modal ventura maka dapat mengatasi persoalan tersebut dan membuka jalan bagi pemula yang nantinya meminjam uang di perbankan ataupun pasar modal. “Modal ventura ini bagian dari permodalan bagi star up usaha yang baru dimulai atau baru berjalan. Modal ventura adalah jembatan bagi usaha sebelum bertemu sektor formal, seperti bank dan pasar modal,” imbuh dia.

Hal yang sama juga diakui oleh Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga. Ia mengatakan, bahwa jumlah pengusaha di Indonesia hanya sekitar 1,65% dari jumlah penduduk saat ini. "Kita kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga. Misalnya Singapura sebesar tujuh persen, Malaysia lima persen, dan Thailand empat persen," kata Puspayoga, beberapa waktu lalu.

Ia berpendapat, jika jumlah pengusaha bisa bertambah maka akan turut mendongkrak ekonomi negara, bertambahnya lapangan pekerjaan, dan akhirnya meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi ia juga mengharapkan agar pengusaha mau membangun usahanya di sejumlah daerah di Indonesia, dan tidak berfokus pada kota-kota besar saja. “Bisa saja kesejahteraan meningkat, tapi tidak merata jika hanya bertumpu di kota besar, gini rasio tidak akan turun dari 6,41. Yang berpenghasilan besar makin besar, yang kecil makin kecil," tukasnya menjelaskan.

Puspayoga juga mengatakan bahwa Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) berperan penting dalam meningkatkan jumlah pengusaha di Indonesia. Melalui GKN, ia berharap persentase pengusaha di Indonesia mampu mencapai angka dua persen pada tahun 2015 dan turut membantu pemerataan kesejahteraan. "Tujuan wirausaha ialah bagaimana caranya merubah sampah menjadi emas. Sekaligus meningkatkan daya saing dan kualitas (komoditas) di luar negeri," kata Puspayoga.

Puspayoga menilai, Indonesia masih belum siap hadapi MEA, dari sisi kualitas SDM, kualitas produk, dan permodalan masih kalah. Namun, dia menegaskan Indonesia tidak bisa rendah diri. Pemerintah akan konsisten mengupayakan agar jumlah wirausaha meningkat. Dia mengemukakan, berbagai kebijakan sudah dilakukan untuk mempermudah terciptanya wirausaha baru, antara lain pembebasan biaya notaris untuk pengurusan izin usaha mikro, kemudahan pemberian izin bagi usa mikro dan kecil dengan hanya mengurus izin satu hari, kemudahan terhadap akses bank. Setiap usaha mikro dan kecil akan mendapat kartu untuk mempermudah akses ke bank BRI.

Deputi Menteri Koperasi dan UKM, Prakoso BS, mengatakan, untuk meningkatkan jumlah wirausaha Kementerian akan menyalurkan permodalan bagi wirausaha yang masuk kategori mikro dan kecil. Tahun 2015, dianggarkan dana sebesar Rp 80 miliar yang ditargetkan menjangkau 5.400 usaha mikro dan kecil. Setiap usaha akan diberi modal maksimal Rp 25 juta. “Modal akan diberikan berdasarkan penilaian terhadap proposal yang masuk. Jika masuk kategori skala usaha kecil dan mikro bisa mendapat bantuan permodalan untuk mengembangkan usahanya,” kata Prakoso.

Hadapi MEA

Penggagas gerakan wirausaha nasional Oneintwenty Movement, Budi Isman menegaskan wirausaha nasional tidak perlu takut menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Sebab, MEA justru harusnya menjadi pasar besar untuk Indonesia. “MEA itu pasar paling besar kita, ngapain takut. Kalau kita enggak siap baru kita celaka," ucapnya.

Menurutnya, para pengusaha sukses asal negara tetangga pun belum tentu langsung bisa survive menjalankan usahanya di Indonesia, seperti yang dilakukan di negaranya. Sebab, budaya Indonesia memiliki budaya yang berbeda dengan negara lain. “Belum tentu semua yang mereka lakukan, bisa mereka lakukan di sini. Karena budaya di sana dan di sini beda. Jadi harus siap dong (hadapi MEA 2015),” imbuhnya.

Budi menambahkan, mencetak pengusaha bukanlah pekerjaan mudah. Sebab, mencetak pengusaha itu merupakan proses dan tidak bisa semua orang dipaksakan untuk menjadi pengusaha. “Keluarga saya saja enggak ada yang mau. Walaupun saya berkoar dengan Oneintwenty. Dengan kita kerja sama seperti ini, kita buktikan ke mereka ada sesuatu yang bagus di luar PNS, tentara, ataupun dokter. Jadi kita tarik mereka, baru karakternya kita bangun untuk jadi pengusaha,” pungkas dia.