Betapa Beratnya Berbicara Persatuan di Negeri Ini

Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Dosen PTN

Selasa, 28/04/2015

Sudah menjadi teori yang dipercaya oleh banyak orang, bahwa komunitas, organisasi, dan apalagi bangsa besar seperti Indonesia ini tidak akan meraih kemajuan jika persatuan tidak berhasil dipelihara sebaik-baiknya. Banyak bukti menunjukkan bahwa, setiap komunitas yang sehari-hari terlibat perseteruan atau konflik, pasti tidak akan maju. Di mana dan kapan saja, kemajuan selalu mempersyaratkan adanya persatuan.

Setelah bangsa ini memiliki pemimpin baru yang dipilih secara demokratis oleh rakyatnya, orang berharap segera terbangun kehidupan yang dinamis dan mengalami kemajuan. Apalagi, pemimpin baru itu dikenal dekat dengan rakyat, selalu berpenampilan sederhana, mengutamakan kerja, dan mengerti aspirasi rakyatnya.

Harapan itu sebenarnya tidak berlebih-lebihan, oleh karena pemimpin bangsa ini dikenal sebagai sosok yang berasal dari rakyat biasa. Prestasi kerjanya sejak menjadi wali kota dan gubernur sudah dikenal luas. Pemimpin itu mampu berkomunikasi dengan berbagai jenis kalangan. Itulah yang menjadikan banyak orang merasa optimis itu. Bahkan, segera setelah dilantik, banyak orang yang berkalkulasi, hingga akhir jabatannya, presiden pilihan rakyat ini kelak pada periode berikutnya tidak akan menghadapi saingan yang lebih kuat lagi.

Optimisme berbagai pihak yang sedemikian kuat tersebut ternyata mendapatkan sandungan yang bisa saja tidak diperhitungkan sebelumnya. Satu di antara sandungan berat itu berupa konflik yang sangat mengganggu persatuan. Belum genap setengah tahun, pemimpin bangsa ini menunaikan amanahnya, ternyata sudah mulai dihadapkan pada persoalan konflik yang tidak mudah diselesaikan. Di antara beberapa konflik itu adalah antara Polri dan KPK, internal partai politik, dan bahkan hingga persoalan sederhana, ialah sepak bola.

Persoalan konflik sebagaimana disinggung di muka, kelihatannya sederhana. Akan tetapi sebenarnya hal itu memiliki resonansi yang sedemikian luas. Konflik antara Polri dan KPK pasti berimbas pada berbagai persoalan lainnya, tidak terkecuali pada persoalan hukum dan bahkan juga politik. Isu terkait kriminalisasi beberapa pimpinan KPK membuahkan dampak yang tidak sederhana. Jika persoalan itu tidak dikelola secara tepat, maka akan mengganggu kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Pemberhentian sementara beberapa pimpinan KPK sangat mungkin akan memunculkan penilaian, bahwa pemerintah semakin lemah dalam upaya melakukan pemberantasan korupsi.

Demikian pula konflik di intern partai politik yang sekarang sedang terjadi , dianggap tidak akan mungkin lepas dari campur tangan pemerintah. Proses pengadilan terhadap pihak-pihak yang bersengketa sangat mungkin akan melahirkan tuduhan, baik yang terucap maupun yang tidak, atas peran pemerintah itu. Maka sudah barang tentu, kekuatan atau energi pemerintah yang seharusnya dijadikan modal untuk melakukan berbagai lompatan strategis dalam memenuhi janjinya pada saat kampanye terdahulu, pasti akan terganggu.

Dua konflik tersebut sebenarnya hanyalah sekedar contoh dalam arti kejadian yang bisa diketahui oleh masyaralat secara langsung. Sudah barang tentu, berbagai jenis konflik lainnya, yang mungkin bersifat laten atau tersembunyi justru lebih banyak jumlahnya dan bahkan juga tidak kurang rumitnya, sehingga tidak mudah untuk diselesaikan. Tarik menarik di antara pihak-pihak yang memiliki kepentingan dan pengaruh kuat di sekitar kekuasaan kiranya tidak akan pernah berhenti untuk berusaha dengan berbagai cara untuk memenuhi keinginannya.

Di tengah-tengah perseteruan atau konflik para elite itu, maka pekerjaan yang tidak mudah dilakukan adalah menyerukan persatuan. Sebab, siapapun akan merasa berat melarang orang melakukan sesuatu, sementara dirinya sendiri menjalankannya. Seorang pemimpin secara psikologis akan merasa berat tatkala harus memberikan arahan, nasehat, atau petunjuk agar menghindari konflik, sementara orang-orang yang berada di lingkungannya sendiri saja sehari-hari terlibat pada persoalan itu. Nasehat agar menghindari konflik akhirnya menjadi mahal. Sebagai akibat banyaknya konflik di antara para elite itu, maka tidak akan ada lagi orang yang merasa memiliki otoritas untuk memberi nasehat tentang betapa pentingnya persatuan.

Satu-satunya cara yang mungkin dilakukan pada saat sekarang ini adalah melakukan kontemplasi, refleksi atau renungan mendalam secara bersama-sama terhadap bangsa ini ke depan. Bangsa ini tidak boleh gagal di dalam meraih tujuannya. Modal perjuangan yang tidak boleh dianggap sederhana adalah persatuan. Berbekalkan persatuan itu, maka bangsa ini akan selamat, kokoh, dan akhirnya meraih kemenangan. Oleh karena itu, bagi mereka yang selama ini terlibat konflik, maka harus segera menyadari, bahwa apa yang dilakukan itu sebenarnya amat membahayakan bagi tata kehidupan bangsa ini. Rakyat sebenarnya sudah sangat lelah dan bosan melihat konflik antar elite itu. SEbaliknya, para elite bangsa ditunggu karyanya untuk memakmurkan rakyat dan bukan menjadi contoh buruk, yaitu selalu berebut, bertikai, dan saling menjatuhkan antar sesama. (uin-malang.ac.id)