Kado KAA dari Djibouti - Oleh: Hernawan Bagaskoro Abid, Pemerhati Isu Internasional, Anggota Tim Evakuasi WNI dari Yaman ke Djibouti

Suatu kelompok masyarakat memiliki kesadaran kolektif untuk mengasosiasikan diri mereka dengan kelompok masyarakat lain yang dianggap memiliki kesamaan meskipun mereka tidak pernah bertemu antara satu dan lainnya. Konsepsi sosiologi inilah yang disebut oleh Benedict Anderson (1983) sebagai sebuah imagined community atau "komunitas terimaji".

Kesamaan ras, suku, budaya, hingga agama dianggap sebagai sesuatu yang given sehingga dipercaya dapat menjadi pengikat dan pemersatu antara satu kelompok masyarakat dan masyarakat lainnya dalam komunitas terimaji tersebut. Pada 1955, para pemimpin negara di Benua Asia dan Afrika meletakkan suatu cara pandang baru terhadap kesadaran kolektif suatu kelompok masyarakat terimaji, yaitu ikatan atas dasar persamaan nasib.

Pada medio tersebut, sebagian besar bangsa-negara di Asia dan Afrika memang mengalami nasib pahit yang sama sebagai budak imperialisme di negeri sendiri selama puluhan, bahkan ratusan tahun. Kesamaan nasib inilah yang lantas menjelma menjadi kesamaan cita-cita untuk dapat berdaulat atas diri mereka sendiri di tanah air sendiri, terbebas dari exploitation de l’homme par l’homme dan exploitation de nation par nation.

Sejak Konferensi Asia Afrika, kesamaan nasib dan cita-cita telah menjadikan masyarakat Asia dan Afrika memiliki kesadaran kolektif sebagai kolega, kawan, dan saudara dari lain benua. Enam dasawarsa berlalu, masihkah imagined community Asia-Afrika yang dilahirkan dari visi politik Sukarno dan Nehru tersebut relevan dan bermanfaat bagi masyarakat di dalamnya?

Krisis politik tak berkesudahan di Yaman menghadirkan solid evidence bahwa kesadaran kolektif sebagai sebuah "keluarga besar" Asia-Afrika masih tetap hidup. Salah satu rute evakuasi warga negara asing untuk keluar dari Yaman adalah dengan rute laut dari Pelabuhan Tawahi di Aden menuju ke Pelabuhan Djibouti di Afrika Timur. Indonesia merupakan satu dari banyak negara yang menggunakan rute ini untuk mengevakuasi warga negaranya.

Pada 4 April 2015, tim evakuasi Indonesia yang berada di Djibouti menyewa sebuah kapal kecil untuk mengevakuasi WNI dari Pelabuhan Tawahi untuk dibawa ke Djibouti. Kapal kecil yang hanya berkapasitas 100 penumpang tersebut pada awalnya diperuntukkan membawa mereka yang berpaspor Indonesia saja.

Namun, pertempuran sengit antara milisi al-Houthi dan pemuda setempat Aden menyebabkan banyak WNI tidak dapat mencapai pelabuhan pada saat kedatangan kapal. Hanya 10 WNI yang berhasil masuk ke kapal di tengah desingan peluru dan letusan bom telah mencapai Pelabuhan Tawahi.

Pada saat bersamaan, beberapa warga negara India dan Sri Lanka meminta kepada tim evakuasi Indonesia untuk diikutkan dalam kapal Indonesia yang menuju Djibouti. Selama kurang lebih 12 jam mengarungi ombak menuju Djibouti, para evacuees dari Indonesia, India, dan Sri Lanka saling berbagi makanan dan obat-obatan yang dimiliki di atas kapal.

Sesampainya di Djibouti, tim evakuasi India dan Sri Lanka mengucapkan terima kasih kepada Indonesia yang tidak mempersulit warga negara mereka untuk ikut dalam kapal yang disewa oleh Indonesia. Tak ada biaya yang harus dikeluarkan oleh warga India dan Sri Lanka karena "numpang" di kapal Indonesia.

Seminggu kemudian, India "membalas" kebaikan Indonesia. Sebuah kapal perang milik angkatan laut India, INS Tarkash, berhasil mengevakuasi 464 orang dengan berbagai kewarganegaraan dari Tawahi. Sepuluh di antaranya merupakan warga Indonesia. Akses terhadap identitas para WNI di atas kapal Tarkash diberikan langsung oleh para diplomat India kepada tim evakuasi Indonesia.

Lebih daripada itu, tim evakuasi Indonesia juga diberikan kesempatan pertama untuk dapat mengambil bagasi para evacuees Indonesia dari Kapal Tarkash. Pada 13 April 2015, Indonesia sekali lagi menyewa sebuah kapal untuk mengevakuasi 85 WNI yang telah bersiap di dekat Tawahi. Tim evakuasi dari Malaysia dan Thailand meminta bantuan agar kapal yang disewa oleh Indonesia juga dapat membawa serta warga Malaysia dan Thailand di Tawahi. Saat itu, tidak banyak kapal yang bersedia untuk bersandar di Tawahi karena situasi keamanan yang masih belum kondusif.

Sembari mengurus proses keimigrasian, tim evakuasi Indonesia, India, Mesir, Malaysia, dan negara-negara Asia-Afrika lainnya saling bersalaman, berpelukan, dan bercengkerama untuk melepaskan kepenatan selama proses evakuasi. Tak ada tagih-menagih "biaya evakuasi" antara satu tim evakuasi dan tim evakuasi dari negara lainnya. Semua mafhum bahwa bantuan yang diberikan adalah bantuan kemanusiaan yang dilandasi kesadaran kolektif sebagai satu imagined community, Asia-Afrika. Saudara memang harus saling membantu. Pernahkah Sukarno menagih "jasa kemerdekaan" kepada Aljazair atau Afrika Selatan?

Uniknya, jika tim evakuasi India dan negara Asia-Afrika lainnya memanggil tim evakuasi dari Amerika Serikat atau Inggris dengan sebutan "Sir" Atau "Madame", tidak demikian dengan tim evakuasi dari Indonesia, Malaysia, Mesir, dan sesama negara Asia-Afrika lain yang saling memanggil dengan sebutan "brother" --panggilan yang sama yang digunakan oleh para anggota delegasi negara-negara peserta KAA 1955. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran kolektif sebagai saudara lain benua masih hidup dalam sanubari masyarakat Asia dan Afrika.

Sukarno, Nehru, Nasser, dan Kotelawala mungkin tak pernah menyangka bila bibit persaudaraan yang mereka tanam 60 tahun lalu masih terus dapat dipetik buahnya oleh anak cucu mereka di Indonesia, India, Mesir, dan Sri Lanka.

Kritikus boleh menyebut bahwa ikatan yang didasarkan pada romantisme sejarah belaka tak dapat memberikan manfaat nyata kepada masyarakat di Asia-Afrika. Anggapan ini tidaklah salah, tapi juga tidak sepenuhnya sahih.

Kesadaran kolektif bahwa bangsa Asia-Afrika merupakan saudara lain benua merupakan investasi sejarah yang tak ternilai, di mana hasil investasinya dapat dinikmati di saat–saat yang tak terduga. Hubungan emosional yang kuat akan melahirkan kepercayaan dan kepercayaan adalah modal berharga dalam suatu hubungan, termasuk hubungan ekonomi.

Tentu saja, mereka yang sudah teracuni oleh virus kapitalisme akut akan tetap mengernyitkan dahi dalam memahami manfaat dari ikatan persaudaraan yang tidak bisa melahirkan profit yang tangible. Padahal, justru hal inilah yang membedakan KAA dengan forum regional atau internasional lainnya di era modern: sebuah hubungan yang lebih dari sekadar hitung-hitungan defisit atau surplusnya neraca perdagangan atau naik turunnya nilai ekspor atau impor. (haluankepri.com)

Related posts