Optimisme Indonesia di MEA

Selasa, 28/04/2015

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menegaskan kesiapan Indonesia dalam menghadapi masa berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang siap diberlakukan awal 2016. “Kita harus optimistis karena Indonesia punya produk yang macam-macam, dan itu yang harus diidentifikasi, mana yang punya daya saing untuk masuk ke negara kanan kiri,” ujarnya usai menghadiri jamuan makan malam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-26, di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/4).

Jelas, tekad Presiden RI itu harus perlu upaya serius dari segenap elemen bangsa akan menentukan apakah kita mampu mengoptimalkan peluang dan potensi pasar yang besar di kawasan ASEAN, atau kita hanya menjadi penonton dan sibuk mengurusi hal yang elementer. Ini tentu membutuhkan perubahan cara berpikir (mindset) dan paradigma tentang bagaimana pejabat tinggi pemerintah dan masyarakat kita melihat MEA ke depan.

Sebab, kalau mindset kita cenderung defensif dan protektif di tengah peluang yang semakin terbuka, maka ancaman serius akan muncul terhadap produk dan jasa Indonesia di pasar luar negeri. Sementara kita kurang sekali mendiskusikan potensi yang dapat kita manfaatkan bagi produk dan jasa serta peluang investasi di pasar ASEAN. Saat negara lain mulai melakukan kebijakan ini, kita semakin membutuhkan kebijakan yang lebih agresif untuk masuk ke pasar-pasar potensial.

Tidak hanya melalui ekspor, tetapi juga investasi langsung ke Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, Filipina, Malaysia, dan Thailand. Go ASEAN sebenarnya bukan hanya strategi yang diambil sejumlah negara di kawasan ASEAN untuk meningkatkan perdagangan dan investasi di kawasan ini, melainkan peluang di depan mata yang harus segera dieksekusi oleh pemerintah Indonesia.

Bagaimanapun, sejumlah perusahaan multinasional telah melihat kawasan ASEAN sebagai kawasan yang memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang sangat stabil. Pertumbuhan ekonomi ASEAN pada 2012 mencapai 5,8%, 2013 5,2%, 2014 4,6%, dan pada 2015 diproyeksikan 5,1%. Rata-rata pertumbuhan ekonomi yang stabil dalam beberapa tahun membuat ASEAN sebagai kawasan yang sangat atraktif bagi investor asing melakukan investasi langsung (foreign direct investment- FDI).

Bahkan tercatat pada 2013, total FDI pada ASEAN-5 (Indonesia, Thailand, Singapura, Malaysia, dan Filipina) lebih tinggi ketimbang Tiongkok. ASEAN-5 mendapatkan total FDI sebesar US$128,4 miliar, sementara Tiongkok hanya US$117,6 miliar. Ini karena terjaganya stabilitas politik dan keamanan kawasan yang juga salah satu faktor penting pendukung stabilnya perekonomian kawasan.

Dari sisi penawaran, kawasan ASEAN juga memiliki beragam kekayaan alam dari mulai sektor mineral-tambang, perkebunan, pertanian, dan kelautan. Di sisi lain, semakin membaiknya perekonomian, kualitas ke akses pendidikan yang lebih baik juga menjamin semakin tersedianya tenaga kerja terampil sebagai salah satu variabel penting bagi daya saing perusahaan.

Posisi strategis ASEAN sebagai jalur perdagangan dunia yang menghubungkan transportasi laut dari Eropa, Afrika, India ke China, Jepang, dan Korea Selatan juga menjadi alasan mengapa kawasan ini menarik banyak investor global. Masalahnya, semangat, pola pikir, dan paradigma Go ASEAN bagi dunia usaha di Indonesia sebenarnya sudah dilakukan. Namun, kebijakan pemerintah terlihat belum sinkron sehingga belum ada sistem terpadu yang terstruktur untuk memenangkan persaingan global.

Karena selama ini Go ASEAN dilakukan secara parsial atas inisiatif sendiri-sendiri dari pengusaha swasta dan BUMN. Padahal, strategi dan kebijakan Go ASEAN kian memerlukan dukungan dan kebijakan yang lebih terstruktur dengan semangat Indonesia Incorporated dari pemerintah. Kita dapat mencontoh upaya sejumlah negara lain yang mampu membawa dan mendorong dunia usahanya secara sistematis ekspansif ke pasar internasional yang potensial. Semoga!