Waskita Karya Optimis Garap Proyek Infrastruktur

Miliki Dana Rp8,1 Triliun

Senin, 27/04/2015

NERACA

Jakarta - PT Waskita Karya Tbk optimis memiliki pendanaan yang cukup dalam membangun proyek infrastruktur di bawah Pemerintahan Presiden Joko Widodo. Pasalnya, Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp3,5 triliun telah disetujui oleh Komisi VI DPR. Selain itu, suntikan modal lainnya melalui skema rights issue sekitar Rp1,8 triliun juga akan dilakukan dalam waktu dekat, serta sisa ekuitas yang mencapai Rp2,8 triliun yang berasal dari kas internal perseroan. Dengan demikian, Waskita Karya memiliki porsi pendanaan sendiri sebesar Rp8,1 triliun.

“Rinciannya, kami akan mendapat total tambahan modal segar sebesar Rp5,3 triliun (PMN dan rights issue). Kemudian, tahun 2014 masih tersisa ekuitas senilai Rp2,8 triliun. Dengan demikian, hingga akhir bulan Desember 2015 nanti total ekuitas yang kami miliki mencapai Rp8,1 triliun,” ujar Direktur Keuangan Waskita Karya, Tunggul Rajagukguk, usai paparan publik di Jakarta, Jumat (24/4), pekan lalu.

Lebih lanjut Tunggul menjelaskan, ketersediaan modal sebesar Rp8,1 triliun ini dapat dijadikan dasar untuk pengajuan pinjaman perbankan maupun penerbitan surat utang alias obligasi. “Kalau bangun proyek infrastruktur, perbandingannya 30% dari kas internal dan 70% berasal dari pinjaman perbankan atau obligasi. Nah, kami memiliki ekuitas Rp8,1 triliun maka pinjaman dari perbankan bisa mencapai Rp19 triliun. Itu sudah maksimal," jelasnya.

Dengan kemampuan pendanaan seperti ini, Tunggul yakin dapat menyelesaikan proyek-proyek infrastruktur raksasa yang dipercayakan pemerintah. Dari total proyek yang akan digarap Waskita pada tahun ini, dirinya mengungkapkan, porsi proyek dari pemerintah masih mendominasi yakni sebesar 40%. Sementara proyek yang dikelola perusahaan BUMN sekitar 30%-35%, dan sisanya yang 25%-30% digarap swasta.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama Waskita Karya, Muhammad Choliq, berjanji PMN bisa dicairkan tepat waktu, atau pada akhir Juli 2015 mendatang, maka laba perseroan akan meningkat pada tahun ini menjadi Rp1 triliun, dari sebelumnya sebesar Rp600 miliar. "Dividen bisa dipastikan rupiahnya bertambah. Sebagai contoh, tahun ini target dividennya bisa dua kali lipat," ujarnya, usai rapat kerja dengan Komisi VI dan Kementerian BUMN, di Gedung DPR, Jakarta.

PMN tersebut, kata Choliq, antara lain untuk penyelesaian proyek jalan tol yang mangkrak saat ini. Salah satunya proyek jalan tol Trans Jawa. Menurut dia, tinggal dua ruas yang belum selesai yaitu, Ruas Tol Merak - Pemalang dan Batang - Semarang. "Pembebasan lahan rencananya kami lakukan melalui skema bussiness to bussinessdengan pemilik konsesi lahan. Kalau (PMN) bisa dicairkan tepat waktu, maka tahun 2018 dijamin sudah bisa tercapai," tegasnya.

Akan tetapi, Choliq juga menyampaikan mengenai kemungkinan risiko yang bisa dihadapi jika pencairan PMN mundur dari jadwal. Pertama, biaya yang harus dikeluarkan perseroan, ataucost of moneyuntuk pelaksanaan proyek dipastikan akan membengkak. "Per bulannya, bisa mencapai sekitar Rp50 miliar. Kedua, ini yang paling penting, peran Waskita dalam pelaksanaan proyek-proyek pembangunan akan terhambat,” papar Choliq.

Perolehan kontrak baru Waskita, per Maret 2015, sebesar Rp2,65 triliun dari target sepanjang 2015 yang direncanakan mencapai Rp20,8 triliun. Perseroan juga tengah membidik pendapatan tahun ini sebesar Rp13,37 triliun, meningkat 30% dari periode yang sama tahun lalu Rp10,28 triliun. [ardi]