Produk Teh Indonesia Sangat Diminati Slovakia

Senin, 27/04/2015

NERACA

Jakarta - Target ekspor tiga kali lipat kini menjadi magnet baru bagi perwakilan Kementerian Perdagangan di luar negeri. Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Budapest di Hongaria bekerja sama dengan Kedutaan Besar RI di Slovakia makin intensif melakukan promosi produk-produk Indonesia. "Kami optimis bisa mendongkrak ekspor ke Slovakia, terutama untuk produk kopi, teh, dan kakao," tegas Kepala ITPC Budapest Hikmat Rijadi dalam keterangannya, kemarin.

Tak heran, Hikmat membawa tiga perusahaan besar yang bergerak di bidang produk teh, kopi, dan kakao, yakni PT. Pagilaran Indonesia, PT. AIM Food Indonesia, dan PT. Sosro Indonesia. "Perusahaan ternama di Indonesia kami ajak berpartisipasi pada pameran The 18 International Tea and Bonsai yang digelar pada 16-19 April 2015 di Nitra Slovakia dan menghasilkan potensi transaksi sebesar USD 20.000," tegas Hikmat.

Capaian transaksi ini diharapkan makin meroketkan ekspor teh, kopi, dan kakao ke negeri Slovakia pada 2015 sebesar USD 150 ribu atau naik sebesar 30%, dari capaian sebelumnya pada 2014 sebesar USD 116,2 ribu. "Kami optimistis karena nilai ekspor kita untuk produk teh, kopi, dan kakao ke Slovakia pada 2013 hanya sebesar USD 34.948, dan meningkat tajam sebesar 252,07% pada 2014 sebesar USD 116,2 ribu," lanjut Hikmat.

The International Tea and Bonsai Expo merupakan kegiatan pameran tahunan. Nonstop international cultural and art show. yang secara rutin diselenggarakan sejak 18 tahun lalu di Agro Komplex Nitra. Kompleks ini merupakan areal pameran terbesar di Slovakia. Pameran ini diikuti 11 negara diantaranya Indonesia, Vietnam, Thailand, Jepang, Puerto Rico, Italia, Polandia, Austria, Hongaria, Republik Ceko, dan Slovakia.

Para pengunjung Paviliun Indonesia antusias mencicipi produk teh melati dan teh hitam. Sekitar 1.000 gelas ludes diserbu pengunjung. "Kami gembira, produk teh Indonesia sangat diminati masyarakat Slovakia yang dikenal sebagai salah satu penikmat teh dan kopi," ujar Hikmat. Beberapa pengunjung bahkan beberapa kali mengunjungi Paviliun Indonesia untuk menikmati produk teh dan bertanya bagaimana cara mendapatkan produk teh dan kopi Indonesia di Slovakia.

Untuk menarik pengunjung, KBRI Slovakia menampilkan tarian Poco-Poco yang banyak menuai pujian dari para pengunjung. Bahkan banyak dari pengunjung yang turut serta menari PocoPoco. "Strategi ini terbukti efektif menarik pembeli, bahkan mereka penasaran ingin berkunjung ke Indonesia," tuturnya. Sejumlah pengusaha local diperkirakan akan terus melakukan transaksi pembelian produk teh dan kopi. "Teh dan kopi merupakan salah satu produk unggulan Indonesia di wilayah Eropa Tengah dan Timur dan diharapkan nilai ekspornya terus akan tumbuh pada tahun tahun mendatang," imbuh Hikmat.

Produksi Turun

Seperti diketahui, teh merupakan satu dari 15 komoditas utama dan unggulan perkebunan Indonesia. Namun begitu, Direktorat Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementerian Pertanian menyatakan, produksi teh nusantara saat ini mengalami penurunan. Kini upaya membangkitkan kejayaan teh Indonesia terus digulirkan.

"Upayanya ialah memperbaiki sektor hulu. Di hulu itu harus kuat. Produktivitas juga harus tinggi. Termasuk di hilir, teh harus ada varian produk. Jadi permintaan teh itu bisa meningkat," kata Direktur Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung, Karyudi. Menurut dia, komoditas teh jangan hanya sebagai minuman penyegar saja, tapi bisa difungsikan dengan sentuhan-sentuhan inovatif.

Dia menegaskan, teh punya potensi dikembangkan menjadi produk-produk komersial yang bermanfaat untuk masyarakat. Indonesia menempati posisi tujuh dunia di antara negara penghasil teh utama berdasarkan data International Tea Committee pada 2013. Data tersebut menyebutkan, Indonesia hanya memproduksi 145.460 ton atau 3,2 persen dari produksi teh dunia sebesar 4,6 juta ton. China di peringkat puncak yang disusul India, Kenya, Srilanka, Vietnam, dan Turki.

Data Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian pada 2014 menyatakan, perkebunan teh mencapai 121.034 hektar dengan produksi 143.751 ton. Saat ini sentra pengembangan teh di Indonesia ialah Jawa Barat dengan luas areal 93.520 hektar atau 77,27 persen dari luas areal teh nasional. Total areal tersebut diusahakan dalam bentuk Perkebunan Rakyat seluas 47.920 hektar (51,24%), Perkebunan Besar Negara seluas 25.011 hektar (26,74%), dan Perkebunan Besar Swasta seluas 20.589 hektar (22,02%).

Soal ekspor teh Indonesia, pada 2013 mencapai 70,8 ton dengan nilai US$ 157,5 juta. Untuk impor sebesar 20,5 ton dengan nilai US$ 29,3 juta. Selama enam tahun terakhir, volume ekspor teh Indonesia grafiknya cenderung turun dari tahun ke tahun. Sementara impor memperlihatkan peningkatan tiap tahunnya.