Indonesia Diminta Dorong Keadilan Perdagangan Global

Senin, 27/04/2015

NERACA

Jakarta - Peneliti dari Lembaga kajian Center of Reform on Economics (CORE) meminta pemerintah Indonesia untuk mendorong keadilan perdagangan global bagi negara-negara berkembang dan belum berkembang di Asia dan Afrika. Selama ini, kebijakan perdagangan global yang didominasi pengaruh negara-negara maju kerap merugikan negara-negara berkembang dan belum berkembang di dua benua tersebut. “Praktik-praktik perdagangan yang tidak adil masih banyak dan sering dilakukan oleh negara-negara maju yang banyak merugikan negara-negara berkembang,” kata Direktur Penelitian CORE Mohammad Faisal, seperti dilansir situs Antara, akhir pekan kemarin.

Beberapa kebijakan yang tidak adil itu, menurut Faisal, terlihat ketika Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) membiarkan negara-negara maju menerapkan kebijakan proteksionis seperti besarnya pemberian subsidi pertanian di industri domestik. Padahal, di sisi lain, kebijakan perdagangan global telah mendesak negara-negara berkembang untuk mengurangi "hambatan" perdagangan baik dalam bentuk tarif maupun non-tarif. “Subsidi pertanian di negara-negara maju telah membuat para petani di negara-negara berkembang terutama di kawasan Afrika kesulitan untuk bersaing di pasar global dan juga di pasar domestik negara mereka sendiri,” jelasnya.

Faisal mengatakan negosiasi dengan Uni Eropa telah membuat negara-negara di Afrika menghapuskan tarif perdagangan hingga 90 persen. Menurut penelitian CORE, masalah-masalah lain dalam perdagangan global yang perlu didorong Indonesia antara lain lemahnya daya tawar negara-negara berkembang, dan belum berkembang dalam negosiasi perdagangan internasional.

Kemudian juga Indonesia perlu menyoroti perlakuan khusus dan berbeda dari WTO kepada negara-negara berkembang dan belum berkembang dibandingkan negara maju. “Selain itu mengenai rumitnya prosedur dan mahalnya biaya hukum penyelesaian sengketa perdagangan yang sangat menyulitkan negara-negara miskin untuk membuat pengaduan,” ujar dia.

Dengan suksesnya peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60, kata dia, Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak hanya menjadi kekuatan politik di Asia dan Afrika, namun juga menjadi penggerak dalam sektor ekonomi. Sebagai gambaran, potensi ekonomi Asia dan Afrika sangat menjanjikan bagi perekonomian global. Asia dan Afrika merupakan dua benua dengan pangsa pasar yang mewakili 75 persen penduduk di dunia. Akumulasi Produk Domestik Bruto Asia dan Afrika mewakili 30 persen dari PDB dunia atau 21 triliun dolar AS.

Peningkatan Perdagangan

Peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika dan Peringatan ke-10 New Asian-African Strategic Partnership (NAASP) merupakan momentum penting untuk mengoptimalkan peningkatan perdagangan Indonesia. “Kerja sama antara negara Asia-Afrika pada tahun ini berpotensi besar untuk ditingkatkan. Potensi ini dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi kedua benua," kata Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel, beberapa waktu lalu.

Hal tersebut disampaikan Rachmat pada sesi pertama dialog Asian African Business Summit (AABS), dan menambahkan bahwa Asia merupakan rumah ekonomi terbesar di dunia, sementara Afrika adalah rumah bagi banyak pertumbuhan ekonomi tercepat dunia. Saat ini nilai perdagangan Asia-Afrika mencapai 13,3 triliun dolar Amerika Serikat untuk pasar sebanyak 5,59 miliar jiwa, dimana hal tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan perdagangan antar negara Asia sendiri yang mencapai delapan triliun dolar AS.

"Saya mendukung terbentuknya Forum Bisnis Asia Afrika untuk meningkatkan hubungan antar sektor swasta dan forum bisnis. Forum bisnis ini juga dapat diselenggarakan kapanpun dan di manapun," tambah Rachmat. Ia meyakikini bahwa Asia-Afrika akan mendapatkan banyak manfaat dari peningkatan kerja sama di empat pilar kerja sama perdagangan, yaitu fasilitasi perdagangan, promosi perdagangan, pembiayaan perdagangan, dan keterbukaan perdagangan. “Indonesia tetap berkomitmen terhadap bisnis, modal, dan masa depan Indonesia,” tandasnya.

Menurut Rachmat, tantangan kerja sama Asia-Afrika bukan lagi pada jarak, akan tetapi mental masyarakat yang kurang berani mengambil risiko untuk berinvestasi di benua Afrika. Untuk itu, lanjut Rachmat, negara-negara Asia-Afrika perlu duduk bersama menyusun pembukaan jalur-jalur baru perdagangan yang jelas dan mapan sebagai pendukung terjadinya perdagangan. Kemendag mendukung dunia usaha untuk terus menjalin kerja sama dengan negara-negara di Afrika. Beberapa diantaranya berhasil merebut pasar di Nigeria, Zimbabwe, dan Mauritius.

Asia dan Afrika merupakan dua benua dengan pangsa pasar yang mewakili 75 persen penduduk di dunia. Akumulasi PDB Asia Afrika mewakili 30 persen dari PDB dunia atau USD21 triliun. Negara-negara Asia dan Afrika juga banyak yang mewakili perekonomian raksasa di dunia, seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Indonesia.