Memasarkan Investasi Reksa Dana Secara Merata

Jakarta Mendominasi Investor Reksa Dana

Senin, 27/04/2015

NERACA

Jakarta – Berbagai macam upaya dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mendekatkan industri pasar modal kepada masyarakat luas, salah satu upayanya dilakukan dengan memudahkan masyarakat beli instrument investasi reksa dana di pasar modal. Hal ini juga sejalan dengan keinginan OJK untuk meningkatkan investor domestik yang berinvestasi di reksa dana tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia.

Kepala Departemen Pengawas Pasar Modal II A OJK, Fakhri Hilmi mengatakan, akses masyarakat terhadap pasar modal harus merata dan begitu juga halnya dengan berinvestasi reksa dana, “Dengan Rp100 ribu sudah bisa bertransaksi, dari sisi nilai investasi ini bisa dijangkau seluruh masyarakat,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan, saat ini investor domestik yang berinvestasi di reksa dana masih menumpuk di daerah tertentu seperti Jakarta. Tercatat di Jakarta, sebesar 40% dari total seluruh investor reksa dana di Indonesia. Selain menurunkan batas minimum setoran dari Rp250 ribu menjadi Rp100 ribu, OJK juga ingin membuat agen penjual reksa dana (APERD) tersebar merata di Indonesia seperti melalui kantor pos dan perusahaan asuransi.

Kata Fakhri Hilmi, lembaga tersebut seperti kantor pos dan perusahaan asuransi bisa memasarkan efek reksa dana, namun akan mengajukan izin terlebih dahulu kepada OJK. Selain itu, lembaga itu masih pada tahap persiapan infrastruktur, sumber daya manusia dan sistemnya untuk mendaftar sebagai agen penjual,”Seperti kantor pos mereka harus menyiapkan infrastruktur dan sistem yang prosesnya butuh waktu, kami menunggu," ujarnya.

Strategi lainnya adalah dengan menyasar penjualan dalam jaringan atau "online" sehingga dapat mempermudah masyarakat bertransaksi dalam berinvestasi di reksa dana. Pihaknya masih mempelajari dan mengembangkan mekanisme penjualan atau pemasaran efek reksa dana melalui sistem dalam jaringan yang tepat sesuai kebutuhan,”Kita harapkan penjualan melalui online menjadikan penjualan semakin masif sehingga semakin merata," jelasnya.

Terkait penjualan produk reksa dana melalui sistem online itu, Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Denny R Thaher mengatakan, sistem penjualan online akan mempermudah transaksi masyrakat dalam berinvestasi,”Ini sistem 'online' tentunya dipakai untuk lebih efisien. Proses kita sekarang banyak sekali proses manualnya jadi kita ingin proses itu bersifat otomatisasi bisa efisien dan sedikit mungkin intervensi manusia," ungkapnya.

Menurutnya, jika penjualan dilakukam secara online maka akan mempermudah mencapai target lima juta investor pada 2017 yang mana saat ini masih mencapai 250 ribu investor,”Karena kalau prosesnya seperti sekarang masih manual akan sangat sulit kita bisa menjangkau investor yang lima juta itu," ujarnya.

Jadi, lanjutnya, penjualan dengan mekanisme dalam jaringan akan sangat berguna sebagai salah satu sarana untuk berkembang lebih jaih dengan menjaring investor yang lebih banyak. Selain itu juga diperlukan edukasi yang terus menerus dan peningkatan jumlah tenaga penjual di seluruh wilayah Nusantara,”Saat ini jumlah tenaga penjual kita baru sekitar 15 ribu dan kemudian jumlah manager investasi saat ini kita baru punya 2.500-an. Jadi, kita harus punya lebih untuk mencapai lima juta investor itu," ujarnya. (bani)