Pemerintah Keukeuh Ekonomi Tumbuh 5,7%

Sesuai Target APBN-P 2015

Selasa, 28/04/2015

NERACA

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil masih optimistis pertumbuhan ekonomi pada akhir 2015 tercatat sesuai asumsi yang ditetapkan dalam APBN-Perubahan sebesar 5,7%. "Targetnya itu sampai sekarang masih sesuai APBN. Selama APBN tidak diubah, itu target pemerintah dan menjadi acuan," katanya di Jakarta, pekan lalu.

Sofyan juga mengaku belum khawatir apabila pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2105 masih berada pada kisaran angka lima persen, karena masih ada waktu untuk melakukan pembenahan pada triwulan berikutnya. "Yang penting angka setahunan yang kita lihat. Target APBN kan setahun bukan kuartal. Tapi bahwa semester pertama mungkin tidak tercapai, akan dikejar di semester kedua," jelasnya.

Sofyan belum mau berkomentar lebih jauh mengenai kemungkinan banyaknya asumsi makro yang meleset dalam APBN-Perubahan, sehingga pemerintah harus mengajukan lagi revisi APBN. "Kita belum tahu kan, fundamental atau asumsi-asumsinya itu sejauh mana. Kalau misalnya deviasi sedikit ya tidak ada masalah," ujarnya.

Sedangkan Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2015 hanya berada pada kisaran lima persen, karena dipengaruhi kondisi perekonomian global yang masih mengalami kelesuan. "Di Indonesia, kita perkirakan bahwa di kuartal satu dan dua itu pertumbuhan ekonomi masih ada pada kisaran lima persen atau sedikit diatas lima persen," kata Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo.

Agus menjelaskan kondisi ekonomi secara keseluruhan pada 2015, tidak jauh berbeda dengan 2014, yang terpengaruh kondisi perekonomian di Amerika Serikat serta melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara berkembang. "Secara umum kita melihat kondisi 2015, kurang lebih sama dengan 2014, atau belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Pertumbuhan di negara lain tidak terlalu menggembirakan dan itu tercermin di harga komoditas yang melemah," ujarnya.

Namun, Agus mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan pada 2015, masih berada pada kisaran 5,4 persen-5,8 persen, meskipun sepanjang tahun ini perekonomian global diperkirakan mengalami perlambatan.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menambahkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2015 masih dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga, karena sektor itu yang bisa memberikan kontribusi dalam perekonomian, ketika kondisi global sedang melemah.

"Mungkin (pendukung pertumbuhan ekonomi triwulan satu) lebih banyak pada konsumsi rumah tangga, tapi pokoknya kita mesti memahami secara global, bahwa sedang terjadi perlemahan sekarang ini," katanya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung melambat dalam lima tahun terakhir, dan pada 2014 hanya tercatat sebesar 5,01 persen. Sementara, asumsi pertumbuhan ekonomi pada APBN-Perubahan 2015 ditetapkan sebesar 5,7 persen.

Pemerintah akan mengupayakan percepatan penyerapan belanja infrastruktur, mendorong sektor investasi serta meningkatkan kinerja sektor ekspor, agar pertumbuhan ekonomi bisa memenuhi ekspektasi 5,7 persen tersebut.

Kepala Ekonom Global Market PermataBank Josua Pardede memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2015 berada dikisaran 5 pers, dan paling tinggi 5,3 persen. Ini sedikit lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2014. "Meski pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2015 melambat, namun pertumbuhan sepanjang 2015 diperkirakan di kisaran 5-5,3 persen. Pasalnya, belanja pemerintah tahun ini cukup besar meski semuanya sangat tergantung pada realisasi penyerapannya," katanya.

Selain itu, lanjutnya, investasi juga cenderung meningkat apalagi jika janji kampanye Presiden Joko Widodo direalisasikan dan kestabilan politik serta hukum dapat ditegakkan.

Josua menuturkan, perbaikan ekonomi Indonesia pada 2015 didorong oleh sisi pengeluaran investasi dan konsumsi rumah tangga yang tumbuh lebih baik. Peningkatan investasi khususnya didorong oleh belanja pemerintah untuk pembangunan infrastruktur. [agus]