Pengusaha Usulkan Pembentukan EAA

Jumat, 24/04/2015

NERACA

Bandung -Himpunan Pengusaha Muda Indonesia mengusulkan pembentukan Entrepreneur Asia Afrika (EAA), bertetapan dengan momentum diadakannya Konferensi Asia Afrika (KAA) di Indonesia saat ini.

Potensi perekonomian dua kawasan itu cukup besar, bahkan menguasai perekonomian dunia. Hal itu terlihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) Asia-Afrika sepanjang 2014 mencapai 51% dari PDB dunia. Bahkan pada2011, Afrika berhasil mencatatkan pencapaian total PDB sebesar US$ 1,7 triliun, atau di atas PDB India dan ASEAN.

“Melihat potensi perekonomian yang cukup besar dari dua kawasan itu, kami mengusulkan pembentukan EAA di tahun 2015 ini,” ujarKetuaBadan Otonom Bidang Bisnis, Investasi dan UKM Badan Pengurus Pusat HIPMI, Hardini Puspasari, di Bandung, Jawa Barat, kemarin.

Dini, nama panggilan Hardini, menyebutkan beberapa alasan pengusulan pembentukan wadah internasional bagi pelaku usaha muda di dua kawasan tersebut.

Pertama, tingginya pertumbuhan ekonomi Asia dan Afrika yang pada tahun 2013-2014 lalu mencatat angka masing-masing 4,9% dan 4,3%. Padahal, kata dia, saat ini banyak negara mengalami kontraksi dalam perekonomiannya termasuk perekonomian global.

Kedua, tingginya kebutuhan akan beberapa sektor usaha antara dua kawasan, semakin membuka ruang lebar bagi pelaku usaha muda untuk meningkatkan daya saingnya. Misalnya, sektormanufaktur, pertanian, infrastruktur, pariwisata, dan energi.

“Jika EAA terbentuk, maka potensi investasi sektor-sektor tersebut bisa bergerak dan saling memenuhi diantara dua kawasan. Akibatnya bisa ditebak, bahwa dua kawasan itu akan kembali menciptakan PDB tertinggi di dunia. Jauh mengalahkan negara-negara maju,” papar Dini.

Ketiga, mendorong peningkatan daya saing produk dari pelaku usaha muda Indonesia yang selama ini kebingungan mencari pasar tujuan produknya. Artinya, dengan terbukanya pasar yang lebih luas dari Asia hingga Afrika, maka “pertarungan” daya saing produk-produk lokal akan semakin tinggi dan kompetitif.

Sebab, katanya, berdasarkan dataPBB World Population Prospectstercatat jumlah penduduk Asia sebanyak 4,34 miliar orang dan Afrika 1,14 miliar penduduk. Sehingga secara total penduduk Asia-Afrika berjumlah 5,48 miliar orang.

“Artinya, dari jumlah penduduk saja, kawasan Asia-Afrika menguasai 75,8% penduduk dunia yang saat ini berjumlah total 7,23 miliar orang. Ini kan pasar ekonomi yang sangat prospektif,” terang Dini.

Pembenahan struktur

Meski demikian, lanjut Dini, potensi pasar yang sangat besar itu dihadang oleh beberapa hal serius yang membutuhkan peran aktif pemerintah masing-masing negara di dua kawasan tersebut. Seperti masalah kemiskinan yang cukup tinggi, baik di Asia maupun Afrika.

Selain itu, lanjut Dini, tingkatinflasi Asia-Afrika masing diatas rata-rata dunia. Sebut saja inflasi Timur Tengah, Afrika Utara, Afghanistan dan Pakistan yang tahun 2013 lalu mencapai 9%. Sedangkan inflasi Afrika 6,6% dan Asia 4,6%. Akibatnya, pertumbuhan kerjasama perdagangan antar dua kawasan belum mencerminkan potensi sesungguhnya. Yaitu, kinerja ekspor Asia ke Afrika tahun 2013 sekitar 26%, dan sebaliknya ekspor Afrika ke Asia hanya di kisaran 3%.

“Karena itu, kami mendorong pembentukan EAA sehingga tercipta perdagangan langsung antara pelaku usaha muda di dua kawasan. Khususnya pada sektor-sektor potensial seperti manufaktur, pertanian, pariwisata, infrastruktur, dan energi. Apalagi saat ini, Afrika sedang bertumbuh jadi pasti memerlukan banyak sekali bisnis di sektor-sektor tersebut,” ungkap dia dengan semangat.

Dukungan pemerintah

Upaya mengembangkan pelaku usaha muda di dua kawasan tersebut, ucap Dini, sangat memerlukan peran dan dukungan penuh pemerintah masing-masing negara. Sehingga berbagai kendala terkait birokrasi dari setiap negara di dua kawasan bisa diantisipasi dengan tepat, efektif dan baik. Implikasinya, katanya, tentu saja pada perekonomian dari dua kawasan.

“Intinya, pembentukan EAA tersebut memang harus tetap sejalan dengan sistem perdagangan internasional yang terbuka, adil, tertib dan saling menguntungkan. Karena itu, kami mendorong pembentukan organisasi tersebut untuk memanfaatkan momentum yang ada, baik bagi pelaku usaha muda di Indonesia yang akan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean akhir 2015 nanti, maupun bagi pelaku usaha muda di dua kawasan. Kita harus berani melangkah ke dunia global. Jangan cuma puas dan jago kandang. Ayo HIPMI bangkit segera," tandas Hardini.

Peluang Afrika

Dia menambahkan, bahwa Afrika harus didukung oleh kegiatan bisnis dan perdagangan yang mempunyai akses pada hal-hal yang terkait dengan keuangan. Pasalnya, Afrika berkepentingan menciptakan banyak entrepreneur baru untuk memenuhi kebutuhan industri dan jasa di kawasan tersebut. Dan pertumbuhan Afrika secara ekonomi, secara signifikan membuka peluang bagi pengusaha Indonesia, untuk memasok kebutuhan barang dan jasa ke Afrika.

“Melalui EAA ini, kami yakin jumlah pengusaha muda di Indonesia akan bertambah signifikan. Kami perkirakan dalam 3-4 tahun mendatang akan mencapai hingga 1 juta pengusaha. Itu sebab, pembentukan EAA ini kami anggap sangat penting bagi pengusaha muda Indonesia,” tutup Dini. [ardi]