Indonesia Dihantui Masalah Kemiskinan

Jumat, 24/04/2015

NERACA

Jakarta - Mantan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, kemiskinan masih menjadi masalah di negara-negara kawasan Asia Afrika, meskipun secara umum sudah menurun. Kondisi ini jelas menjadikan Indonesia masih terus dihantui masalah kemiskinan.

"Kemiskinan masih menjadi masalah, termasuk di Indonesia. Masih ada orang-orang di Asia-Afrika yang berpenghasilan di bawah delapan dolar AS sehari," katanya dalam Konferensi Parlemen Asia Afrika 2015 di Gedung Nusantara Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (23/4).

Namun, Yudhoyono mengatakan beberapa negara sudah berhasil mencatatkan kemajuan dalam koridor Sasaran Pembangunan Millennium. Kemajuan tersebut harus terus dilanjutkan.

Selain itu, ia mengatakan kerja sama regional dan antarregional harus terus ditingkatkan, khususnya kerja sama Selatan-Selatan.

Negara-negara Asia-Afrika memiliki banyak sumber daya dan inovasi yang bisa dibagikan dan dikembangkan.

"Interkonektivitas harus dijaga melalui kerja sama antarpemerintah maupun antarparlemen untuk menjaga perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan bangsa-bangsa Asia-Afrika," tuturnya.

Kepada wartawan seusai berpidato di hadapan delegasi parlemen Asia Afrika, Yudhoyono mengatakan forum Konferensi Asia Afrika harus digunakan sebaik-baiknya untuk memastikan kerja sama antarnegara dapat dilaksanakan dengan baik.

"Semangat Asia-Afrika tidak pernah hilang. Bila dulu semangatnya antikolonialisme, antipenjajahan, sekarang semangatnya berjuang untuk perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan," katanya.

Yudhoyono berharap penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika 2015 bisa membawa angin baru bagi Indonesia untuk berperan dalam percaturan global. "Yang lebih penting rakyat Indonesia mendapatkan manfaat dari kerja sama yang harus kita jaga baik," ujarnya.

Sebelumnya, pengamat ekonomi dari UI. Lana Soelistyaningsih, memprediksi, angka kemiskinan akan bertambah pada 2015 ini. Soalnya, November lalu terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Lalu, meski harga BBM kembali turun mulai 1 Januari 2015, tapi harga-harga barang dan jasa seperti tarif angkutan tidak ikut turun.

Selain itu, kenaikan tarif dasar listrik juga ikut berpengaruh terhadap daya beli masyarakat miskin. Apalagi, rencananya, kenaikan tarif akan diberlakukan untuk golongan masyarakat yang pengguna listrik 450 volt ampere (VA) hingga 900 VA. "Kalau subsidi saja yang dikurangi tak begitu berpengaruh, tapi kenaikan tarif listrik memberikan pengaruh lebih besar," ujar Lana.

Seperti diketahui, angka kemiskinan per September 2014 sebesar 10,96%, hanya turun tipis dari setahun sebelumnya 11,11%. Ke depan, dengan tingginya inflasi dan pencabutan subsidi premium, angka kemiskinan berpotensi bertambah.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan jumlah penduduk miskin per September 2014 mencapai 27,73 juta jiwa, turun 2,89% dibanding dengan setahun sebelumnya. Penduduk miskin terbanyak di Pulau Jawa, dan sebaran terbesar di Maluku-Papua. [agus]