Aberdeen Incar 10 Besar Manajer Investasi

NERACA

Jakarta - Ketatnya bisnis pengelolaan asset manajemen, memauc perusahaan manajer investasi berburu dana masyarakat dengan menghadirkan produk reksa dana yang menawarkan berbagai kelebihhan. Hal inilah yang dilakukan PT Aberdeen Asset Management yang meluncurkan kembali enam produk reksa dana terbuka yang merupakan kombinasi dari reksa dana saham, pendapatan tetap, dan campuran.

Kata Presiden Direktur Aberdeen Asset Management, Sigit Wiryadi, melalui peluncuran ini, Aberdeen bertekad untuk masuk dalam 10 besar jajaran manajer investasi (MI) di Indonesia,”Kami menargetkan untuk menjadi 10 MI terbaik di Indonesia (berdasarkan jumlah dana kelolaan) dalam lima tahun ke depan,"ujarnya di Jakarta, Kamis (23/4).

Menurut Sigit, Indonesia merupakan pasar yang sangat besar potensinya di bidang MI, meskipun dia menyadari tren pasar lokal yang naik turun,”Pasar memang tidak selalu stabil, tapi pendekatan jangka panjang kami akan membantu performa Aberdeen untuk menonjol di pasar Indonesia," jelas dia.

Adapun strategi yang dilakukan perseroan untuk mencapai target tersebut ialah dengan melakukan edukasi dan memberikan produk yang sederhana sehingga mudah dipahami. "Strategi kita ialah menjaga kesederhanaan dalam berinvestasi sehingga klien kami mudah memahami dan melihat dengan jelas investasinya. Bahkan, untuk hal yang sederhana seperti pemilihan nama produk, kami menghindari penggunaan jargon," terang Sigit.

Hingga saat ini Aberdeen memiliki enam produk reksa dana terbuka, yakni Aberdeen Indonesia (AI) Equity Fund, AI Balanced Growth Fund, AI Bond Fund, AI USD Bond Fund, AI Government Bond Fund, dan AI Money Market Fund.

Dia menuturkan, produk-produk itu didistribusikan melalui PT Bank OCBC NISP yang telah dijalin perseroan dalam jangka waktu yang lama. Rencananya, Aberdeen juga akan menambah jumlah distributor untuk memperluas jaringannya dalam beberapa bulan ke depan.

Kedepan, perseroan berencana kembali merilis produk baru, Sigit bilang, perseroan memang telah merencanakan hal itu secara internal, namun Aberdeen AM masih menunggu aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlebih dahulu,”Untuk produk baru kita mungkin masih menunggu peraturan OJK dulu yang memungkinkan manajer investasi (MI) boleh membeli efek asing di atas 15%," kata Sigit.

Dia menjelaskan bahwa saat ini perseroan akan memfokuskan diri untuk mereorganisasi dan pengelolaan dana jangka panjang terlebih dahulu. Reorganisasi yang dimaksud antara lain, melakukan peluncuran kembali produk, menggabungkan reksa dana open ended yang mirip sehingga lebih fokus, termasuk jeli melihat peluang bisnis dari segmen pasar ritel dan korporasi,”Segmen pasarnya kita fokus di dua-duanya ritel dan corporate, tapi kita akan lihat nanti mana yang lebih besar itulah yang akan kita genjot," ucapnya. (bani)

BERITA TERKAIT

KARW Incar Pendapatan Tumbuh 5% di 2018 - Beban Yang Ditanggung Membengkak

NERACA Jakarta - PT ICTSI Jasa Prima Indonesia Tbk (KARW) menargetkan pertumbuhan laba yang konservatif untuk tahun 2018. Besarnya beban…

OJK: Investasi Bitcoin Ilegal di Indonesia - RISIKO MATA UANG DIGITAL JANGAN DIANGGAP RINGAN

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa investasi mata uang digital seperti bitcoin, altcoin, belum berizin secara resmi di Indonesia. OJK…

Kontrak Baru Wika Beton Capai Rp 5 Triliun - Garap Proyek Besar

NERACA Jakarta – Menjelang tutup tahun, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) mencatat kontrak baru sebesar Rp 5 triliun per…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pasok Permintaan PLN - DWGL Kejar Produksi 8 Juta Ton Batu Bara

NERACA Jakarta – Resmi mencatatkan saham perdananya di pasar modal pada perdagangan Rabu (13/12), PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL)…

Samindo Anggarkan Capex US$ 13,8 Juta

NERACA Jakrta - Tahun depan, PT Samindo Resources Tbk (MYOH) perusahaan penyedia jasa pertambangan batu mengalokasikan capex sebesar US$ 13,8…

Permintaan Ban TBR Meningkat - GJTL Genjot Produksi Jadi 3.500 Ban Perhari

NERACA Jakarta - Mengandalkan pasar ekspor dalam menggenjot pertumbuhan penjualan, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) terus meningkatkan kapasitas produksi dan…