Degradasi Moral Bangsa vs Pembangunan

Maraknya kasus tawuran pelajar SMA dan pemerkosaan belakangan ini menunjukkan ada yang keliru di masyarakat kita. Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia lagi ”sakit”, tapi yang pasti kondisi masyarakat kini berada dalam problem degradasi moral, termasuk kalangan pendidiknya.

Betapa mirisnya kita melihat pelajar SMAN 6 Jakarta yang memukuli dan mengeroyok wartawan di sekitar sekolahnya pekan ini. Lalu kasus pemerkosaan di dalam angkutan umum M-24 menimpa mahasiswi Binus, Livia Pavita Sulistio, hingga tewas di Jakarta Barat, dan peristiwa serupa dialami RS (28), seorang karyawan swasta yang diperkosa di dalam angkot D-02 Jurusan Ciputat-Pondok Labu.

Padahal, negara ini sedang menata pembangunan ekonominya menghadapi ancaman krisis global yang sudah di depan mata. Lha bagaimana jadinya, jika moral penduduknya sekarang mengalami degradasi yang juga tak lepas dari peran pendidiknya. Karena sebuah bangsa akan hancur bila moralitas dan budayanya rusak. Sebaliknya suatu bangsa akan berjaya berkesinambungan jika akhlak penduduknya mulia dan luhur budaya bangsanya.

Kondisi ini sejatinya menyadarkan para pemimpin bangsa bahwa keunggulam ekonomi tidak akan mengantar kejayaan bangsa berskala panjang, karena kekayaan ekonomi akan cepat habis jika bangsa ini rusak budayanya. Tatanan politik yang canggih pun tidak dapat menolong karena tetap akan ambruk oleh ulah manusianya yang rusak.

Bagaimanapun, membangun bangsa dengan mengutamakan aspek ekonomi dan menelantarkan akhlak mulia dan budaya luhur bangsa akan meruntuhkan negara itu sendiri. Bangsa Indonesia sebenarnya sejak dulu sudah memiliki Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman hidup (way of life) berbangsa, namun pendidikan moral Pancasila (PMP) di berbagai level pendidikan kini telah sirna begitu saja.

Mau tidak mau kita sekarang sedang dihadapkan pada krisis akhlak manusia dan budaya bangsa. Pola pikir, perilaku, dan produk yang dihasilkan sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai kemuliaan harkat manusia seperti tercantum dalam Pancasila.

Agama juga terkesan tidak lagi dipakai sebagai bagian integral dari proses berpikir, tidak dijadikan pertimbangan dalam pemecahan masalah, diabaikan sebagai variabel dalam membuat keputusan, dan dibuang sebagai pedoman dalam melangkah dan berprestasi ke depan. Pelajaran agama hanya sebagai pelengkap saja.

Sebagian besar manusia di negeri ini berperilaku umumnya hanya mengejar materi untuk memenuhi kebutuhan dan kenyamanan hidup di dunia fana. Mereka berproduksi juga dalam rangka menghasilkan materi untuk dijual-belikan agar mendapat keuntungan tiada habis-habisnya, tidak memperhatikan aspek moralitas dan keluhuran budaya.

Ilmu pengetahuan juga dicari dan teknologi dikejar umumnya dilandasi oleh motif ekonomi. Bagaimana supaya pendapatan pribadi naik, pertumbuhan bisa meningkat, pendapatan negara bertambah, dan sejenisnya, bukan motif mencerdaskan bangsa untuk menaikkan harkat manusia yang nantinya mengabdi melalui cara santun penuh keikhlasan terhadap sesama.

Kasus rendahnya moral seperti diperlihatkan para pemerkosa maupun pelajar tawuran menunjukkan adanya orientasi manusia yang keliru dalam menjalani kehidupannya, mengabaikan kemuliaan akhlak dan keluhuran budaya. Akhlak dan budaya yang benar memang harus direvitalisasi agar bangsa kita selamat dari kehancuran.

Untuk itu perlunya masyarakat yang aktif dan kuat merupakan kunci menuju sebuah kualitas hidup yang lebih baik bagi setiap orang. Untuk itu dibutuhkan anggota masyarakat yang aktif untuk melakukan kontrol sosial. Selain itu menjadi sangat penting juga untuk memberikan sanksi yang tegas terhadap segala tindakan yang dapat merusak moral bangsa. Ini tantangan bagi kalangan pendidik (guru/dosen) ke depan. Semoga!

BERITA TERKAIT

Pemkot Tangerang Targetkan Pembangunan Sarana Publik Selesai

Pemkot Tangerang Targetkan Pembangunan Sarana Publik Selesai  NERACA Tangerang - Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang menargetkan seluruh pembangunan seperti gedung sekolah,…

Bijak Menyikapi Pembangunan di Era Presiden Jokowi

Oleh : Indah Rahmawati Salam, Mahasiswa IAIN Kendari   Negara kurang ini, negara kurang itu. Banyak hal yang menjadi tuntutan…

Bank Agen Pembangunan

Faktor penentu pertumbuhan ekonomi wilayah umumnya sangat tergantung kepada peran perbankan di wilayahnya. Apabila penyaluran kredit perbankan naik, pertumbuhan ekonomi…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mengukir Harapan Baru: Upaya Serius Pemerintah Membangun Papua

  Oleh : Indah Rahmawati Salam, Mahasiswi IAIN Kendari   Harapan masyarakat Papua untuk menjadi lebih baik, lebih bermartabat, dan…

Ekonomi Syariah Seharusnya Sudah "Hidup"

Oleh: Ahmad Buchori Perekonomian syariah seharusnya sudah "hidup" di Indonesia dan memainkan peran penting dalam perekonomian nasional, bahkan dalam pasar…

Tiga Rekomendasi Untuk Penataan Ulang Regulasi Indonesia

Oleh: Maria Rosari Para pakar hukum tata negara dalam Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara mencatat setidaknya terdapat lebih dari 62.000…