Kemenperin Sebut Industri Tekstil Jadi Sektor Strategis - Manufaktur

NERACA

Jakarta - Untuk membuat industri tekstil dengan inovasi permesinan agar lebih efisien dan canggih sehingga bisa berdaya saing tinggi dan produk tekstil bisa bersaing dengan produk luar negeri lainnya. Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur, Harjanto mengatakan industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor strategis yang terus memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional, diantaranya sebagai penyumbang devisa ekspor non migas, penyerapan tenaga kerja, dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

"Industri TPT menjadi industri penyedia lapangan kerja yang cukup besar di Indonesia. Tenaga kerja yang terserap oleh industri ini, sebanyak 1,55 juta orang di sektor TPT dan sekitar 570 ribu orang di sektor pakaian jadi (garmen). Industri garmen juga turut menjadi salah satu penyumbang devisa ekspor tertinggi, dimana nilai ekspor dalam kurun waktu lima tahun terakhir mencapai US$ 4,5 milyar. Sementara itu, pada tahun 2013 nilai ekspor industri garmen mencapai US$ 7,30 milyar atau 60% dari total ekspor TPT nasional, "jelas Harjanto di sela pembukaan acara Pameran Inatex-Indo Intertex dan Technitex 2015 di Jakarta, Kamis (23/4).

Lebih lanjut Harjanto mengatakan peningkatan nilai ekspor tersebut merupakan hasil kerja keras dan inovasi para pengusaha industri TPT nasional yang terus bertahan dalam menghadapi persaingan global yang semakin tajam akibat munculnya negara-negara pesaing baru. "Dengan adanya globalisasi perdagangan dunia, dampak yang sangat dirasakan adalah tantangan pada kemampuan daya saing industri nasional pada pasar global," tegasnya.

Menurutnya salah satu sarana untuk memperluas akses pasar pada perdagangan dalam negeri. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah yaitu, Fasilitasi pemberian insentif fiskal yang diharapkan dapat menarik investasi di sektor TPT nasional.

Ditempat yang sama, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia siap melakukan ekspor atau menerobos pasar Uni Eropa (EU), jika kesepakatan perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) ke kawasan tersebut dibuka oleh Pemerintah Indonesia dan kawasan. "Kami siap dengan target ekspor yang dibuat Kementerian Perdagangan sebanyak tiga kali lipat pada akhir 2019, asal FTA dengan EU dan Turki segera dilakukan," kata dia.

Ade mengatakan, ekspor produk tekstil ke EU saat ini baru mencapai 3,6 miliar dollar AS dengan tarif 12 persen hingga 30 persen, sedangkan jika FTA diberlakukan, maka peningkatan ekspor bisa menvapai 10 milliar dollar AS hingga 12 milliar dollar AS.

Menurutnya, EU merupakan pasar yang potensial dengan 250 juta penduduk, income per kapita sebesar 40 ribu dollar AS dan tingkat konsumsi mendekati 28 kilogram per kapita, yang berarti memiliki daya beli yang kuat.

Sementara itu, tambah Ade, Indonesia juga perlu membuka perdagangan bebas dengan Turki, karena Turki adalah gerbang untuk ke pasar Eropa bagian timur, di mana Eropa Timur mampu memberikan respon yang cepat terhadap permintaan pasar dari Eropa Barat dan Amerika.

"Ekspor ke Amerika itu masih didominasi oleh Eropa. Jadi dengan masuknya produk kita ke Eropa, itu bisa masuk ke Amerika dengan pintu gerbangnya Turki. Di situ industri pencelupan bisa 'quick response'. Kalau langsung dari Indonesia kan jauh, kalau di sana moda transportasi banyak," kata Ade.

Sekedar informasi, Pameran Inatex-Indo Intertex dan Technitex 2015 digelar untuk ke-13 kalinya guna mengakomidir kebutuhan pelaku bisnis tekstil nasional dan regional Asean. Pameran yang diselenggarakan mulai dari 23 April – 25 April 2015, bertempat di Jakarta International Expo (JIExpo) mengambil tema “The Only Trade Platform to Meet Asean Garment Industry”. Tak tanggung-tanggung, jumlah peserta kali ini mencapai 490 perusahaan yang berasal dari 24 negara.

“Tahun ini kami mengangkat semua aspek yang berkaitan dengan industri nonwoven dan technical textile. Pasalnya pasar nonwoven berkembang cepat di Asia,” tutur The Exhibition Project Director Peraga Expo Paul Kingson.

Pameran ini tidak hanya berisikan jajaran teknologi terkini industri tekstil, tetapi juga diisi dengan diskusi mengenai update informasi industri. Pameran ini menargetkan pengunjung mencapai 8.000 orang.

Paul mengatakan pameran ini menjadi penting, karena didukung oleh Kementerian Perindustrian, dan Asosiasi Perstekstilan Indonesia (API), Kadin Indonesia, dan pihak lainnya. “Agenda kali ini akan mengulas betul mengenai industri nonwoven, sehingga peluangnya dapat terbaca oleh pelaku nasional,” tutupnya.

Related posts