Toyota Klaim Ekspor Mobil ke Yaman Tak Terganggu

Jumat, 24/04/2015

NERACA

Jakarta - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyatakan ekspor mobil perusahaan itu ke kawasan Timur Tengah tetap berlangsung dan tidak terganggu konflik di kawasan itu termasuk perang di Yaman. “Ekspor ke Timur Tengah tetap jalan, masih sesuai jadwal," kata Direktur TMMIN Edward Otto Kanter, seperti dilansir laman Antara, Rabu (2/4).

Ia mengakui perang di Yaman, hanya mengganggu distribusi para diler Toyota ke negara-negara teluk, namun tidak mengganggu jadwal ekspor mobil Toyota yang diproduksi di Indonesia. “Memang ada tempat berlabuh yang dipindahkan tapi tidak menghambat ekspor kami,” ujarnya.

Timur Tengah merupakan negara utama tujuan ekspor mobil Toyota yang diproduksi di Sunter (Jakarta) maupun Karawang (Jawa Barat). Menurut Edward, sekitar 70-80 persen dari total ekspor Toyota Indonesia, adalah ke Timur Tengah. Negara yang menyerap mobil Toyota terbanyak antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain dan Oman. "Yaman hanya sedikit," katanya.

Mobil Toyota produksi TMMIN yang diekspor ke Timur Tengah antara lain kendaraan serbaguna (MPV) Kijang Innova, Sport Utility Vehicle (SUV) Fortuner dan sedan Vios. Berdasarkan data TMMIN, pada Januari-Februari 2015, total ekspor mobil utuh (CBU) Toyota ke Timur Tengah mencapai 10.896 unit atau 73 persen dari total ekspor sebesar 14.902 unit. Dari jumlah tersebut, TMMIN paling banyak mengekspor Toyota Fortuner (4.978 unit), kemudian Vios (3.691 unit) dan Kijang Innova (2.227 unit).

Ekspor Meningkat

Untuk secara total, dalam periode Januari-Februari 2015, TMMIN mengaku berhasil menaikan kinerja ekspor mobil dalam keadaan utuh (CBU) hingga 32 persen, mencapai 28.800 unit, dibandingkan periode sama (Januari-Februari) 2014. Fortuner masih menjadi andalan utama TMMIN untuk dikirim dari Karawang, Jawa Barat. Vios atau juga disebut Yaris sedan semakin baik kontribusinya, kini menyumbang 7.200 unit atau mengisi peringkat kedua besar. Selanjutnya, ada Avanza 6.500 unit, Kijang Innova 2.500 unit, sedangkan Rush, Agya, Town Ace/Lite Ace menyumbang 4.000 unit.

Sementara untuk ekspor dalam kondisi terurai utuh (CKD), Toyota mengaku mencapai 6.100 unit. Untuk ekspor lainnya, adalah mesin berbasis bensin berhasil menyumbang 5.500 unit, mesin ethanol 1.200 unit, kepingan komponen kendaraan 11,2 juta keping, serta alat bantu produksi berupa die (alat bantu dalam proses pengepresan) dan jig (alat bantu dalam proses pengelasan) ke berbagai negara di dunia.

“Saat ini tercatat sebanyak 70 negara di kawasan Asia-Pasifik, Amerika Latin, Karibia, Timur Tengah, dan Afrika menjadi daerah tujuan ekspor Toyota dan grup. Kami akan terus berupaya untuk dapat meningkatkan performa ekspor di masa mendatang sesuai dengan semangat kami untuk menjadi bagian dari perkembangan industri otomotif nasional”, ungkap I Made Dana Tangkas, Direktur Korporasi dan Hubungan Eksternal TMMIN.

Toyota berkomitmen untuk tumbuh bersama masyarakat Indonesia sesuai dengan samangat Toyota Berbagi (Bersama Membangun Indonesia). Diwujudkan melalui melalui penyediaan produk dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. “Ini menjadi bagian dari perkembangan industri otomotif nasional, serta berperan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan,” pungkas Made.

Dilain sisi, Pemerintah menargetkan ekspor produk otomotif ke negara-negara berkembang seiring tumbuhnya Indonesia sebagai basis produksi berbagai mobil. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Nus Nuzulia Ishak menyebutkan, negara-negara di kawasan ASEAN masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar untuk produk otomotif asal Indonesia. “Ini memang menjadi basis produksi untuk ekspor ke negara berkembang, seperti ke Asean, kemudian juga ke Afrika, dan Ke Timur Tengah,” kata Nus.

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, lima negara tujuan ekspor terbesar produk otomotif dan komponennya dari Indonesia pada 2014. Negara-negara itu Thailand sebesar US$ 772,95 juta, Filipina sebesar US$ 763,35 juta, Arab Saudi sebesar US$ 745,57 juta, Jepang sebesar US$ 476,71 juta, dan Malaysia sebesar US$ 328,64 juta. Nus menyebutkan secara keseluruhan ekspor produk otomotif dan komponen Indonesia ke dunia pada 2014 mencapai US$ 5,19 miliar atau naik sebesar 16,57 persen dibandingkan nilai ekspor pada 2013 yaitu sebesar US$ 4,45 miliar.

Meskipun meningkat cukup tinggi, sebenarnya pertumbuhan ekspor produk otomotif dan komponennya pada periode 2013-2014 sedikit melambat dibanding tren pertumbuhannnya selama lima tahun terakhir (2010-2014) yaitu sebesar 17,15 persen. Namun, kondisi tersebut masih lebih tinggi dibanding perkembangan ekspor otomotif dunia sebesar 11,59 persen selama periode 2009-2013.