Kontrak WIKA Beton Belum Berlari Kencang

Imbas Rendahnya Penyerapan

Jumat, 24/04/2015

NERACA

Jakarta – Masih mengandalkan kontrak infrastruktur dari pemerintah, menjadi alasan bagi beberapa kontraktor BUMN bila awal tahun ini pertumbuhannya masih rendah. Hal inilah yang diakui manajemen PT Wijaya Karya Beton (Persero) Tbk (WTON), bila perolehan kontrak tahun ini belum sesuai yang diharapkan. Asal tahu saja, dana infrastruktur yang dikeluarkan melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPU-Pera) baru terserap 2,5% oleh seluruh kontraktor BUMN.

Direktur Utama WTON, Wilfred Imanuel A Singkali menjelaskan, masih rendahnya penyerapan dana infrastruktur menjadi alasan perseroan belum berani mendorong pembangunan pada awal tahun ini,”Kuartal pertama belum berani kencang, Kementerian PU-Pera yang Rp118 triliun, sampai kuartal I baru terserap 2,5% ke semua kontrsuksi. Pada kuartal I lebih banyak mengambil proyek dari swasta banyak yang kita dapat,”ujarnya di Jakarta, Kamis (23/4).

Dia menjelaskan, dari proyek BUMN, perseroan menjalankan proyek dari Mass Rapit Transportation (MRT). Pihaknya akan membuat beton di dalam tunnel dari proyek tersebut,”Di MRT di kuartal I memang nanti beton tunnel di dalam ada dua paket sudah kita pegang dan satu lagi akan kita pegang juga. Karena yang bisa bikin cuma kita, alat tunnel bor masih di Jepang, akhir bulan baru datang," jelasnya..

Dalam kesempatan yang sama, Corporate Secretary WTON, Puji Haryadi mengatakan, memang biasanya pada awal tahun proyek infrastruktur belum melaju kencang. "Kemungkinan semester II baru jalan kencang, memang karateristik infrastruktur baru terlihat di kuartal kedua, ketiga, dan keempat," pungkasnya.

Sebagai informasi, Wika Beton membukukan perolehan kontrak senilai Rp 240 miliar sampai dengan pekan ketiga bulan April ini. Kebanyak kontrak yang di dapatkan perseroan dari swasta, yakni proyek dari Osaka Steel. Perseroan mengakui, perolehan pada kuartal pertama memang di bawah dari periode yang sama tahun sebelumnya. "Kuartal I tahun sebelumnya Rp650 miliar, karena banyak proyek yang belum jalan. Semester dua akan bergerak penuh," kata Wilfred.

Wilfred bilang, bertambahnya nilai proyek tersebut, maka total kontrak on hand yang diperoleh perseroan hingga saat ini mencapai Rp750 miliar. Serta ditambah carry over dari tahun lalu yang sebesar Rp1 triliun,”Omzet sampai minggu lalu Rp1,75 triliun, dari rencana carry over Rp1 triliun ditambah kontrak baru Rp400 miliar dan Rp350 miliar. Dari PLN ada beberapa tender transmisi listrik,”ungkapnya.

Sementara Direktur Operasional Wika Beton, Ferry Hendriyanto‎ mengungkapkan, perseroan juga masuk ke proyek MRT melalui anak usaha PT Wijaya karya Kompoten Beton (WIKA Kobe) yang akan memproduksi pracetak tunnel segment berdiameter 6,05 meter. Disebutkan, MRT underground ini memiliki tiga paket dengan kode 104,105, dan 106,”Kita baru dapat dua paket (104 dan 105), ke depan akan dapatkan satu paketnya lagi. Satu paket nilainya Rp50 miliar sampai Rp70 miliar, jadi dua paket sekitar Rp100-an miliar‎," ujar Ferry.

WIKA Kobe salah satu perusahaan beton pracetak pertama yang mampu memproduksi tunnel segment, sesuai kualifikasi dan standar mutu yang tinggi. (bani)