Wealth Management Bukan Hanya untuk Masyarakat Atas - Steven Suryana, Head of Wealth Development & Sales HSBC Indonesia

Hingga saat ini, banyak yang sakah kaprah mengenai wealth management umumnya pada mahalnya produk yang ditawarkan, padahal produk-produk wealth management terjangkau oleh masyarakat.

NERACA

Edukasi, itu yang terus dilakukan Steven Suryana beserta jajarannya di HSBC untuk meluruskan salah kaprahwealth management. Karena selama ini banyak orang salah mengira akan pengertian wealth management. Diamana mindset masyarakat saat ini masih menagnggap produk-produk wealth management merupakan produk mahal.

Padahal tidak demikian, menurut Steven harga untuk produk-produk wealth management masih terjangkau untuk kalangan menengah. Karenanya sangat disayangkan kalau bicara mengenai wealth management itu seoalah-olah untuk kelas atas.

“Produk-produk wealth management cukup terjangkau, ada yang di bawah Rp1 juta, asuransi pun tidak besar juga. Obligasi pemerintah memang kedengarannya besar, tapi kalau sukuk ritel itu Rp5 juta sudah bisa,” kata dia menjelaskan.

Karena itu, saat ini pihaknya (HSBC) tengah giat melakukan edukasi kepada masyarakat untuk meluruskan salah paham wealth management. Memang diakui Steven masih ada batasan akan edukasi yang dilakukan HSBC. Karena HSBC hanya hadir di beberapa kota besar saja, sementara kota kecil masih sulit dijangkau.

“Kalau edukasi itu rutin kita lakukan tiap bulan, HSBC punya education series di tiap cabang. Tetapi kita punya batasan juga akan hal ini, masalahnya kita hanya hadir di kota-kota besar saja,” jelas Steven perihal edukasi wealth management.

Tak tanggung-tanggung, pembicara yang dihadirkan pun sangat berkelas, seperti dari Bank Indonesia (BI) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara pesertanya pihaknya mengundang nasabah HSBC, dan juga mengundang masyarakat umum lainnya.

“Kita juga bekerjasama dengan universitas-universitas. Effort seperti ini harus continyu dilakukan. Mereka juga bisa register online. Pokoknya kita meng-educate mereka dari awal. Ini strategi kita untuk terus focus mengedukasi masyarakat,” jawab dia.

Menurut Steven, pasar wealth management masih begitu besar. Karena hingga saat ini pasar yang ada belum tergarap maksimal. Karenanya, dia percaya kalau prospek wealth management masih terbuka lebar di negara Indonesia.

“Dari segi produk reksadana saja baru ada kurang dari 20 tahun silam, sementara jika kita bandingkan dengan di luar negeri sudah ada lebih dari 100 tahun, makanya prosepeknya di Indonesia masih sangat terbuka,” kata dia.

Apalagi, sekarang perekonomian Indonesia lebih baik. Dalam waktu dekat bahkan Indonesia bisa dapat investment grade. Ini tentu saja akan mendukung untuk perkembangan bisnis wealth managementdi Indonesia.

“Harusnya ini bisa terus berkembang. Harapannnya suku bunga juga akan turun. Challenge-nya adalah edukasi. Prosepek menarik, tapi banyak yang belum tahu apa itu wealth management? Apa itu produk reksa dana. Itu perlu effort lebih untuk edukasi,” tegas dia lagi.

Dalam urusan produk, yang ditawarkan HSBC memang tidak berbeda dengan yang ditawarkan bank lain. Yakni masih bermain di banking product, seperti tabungan dan deposito, juga transaksi valas. Lalu produk lainnya seperti reksadana. Mereka juga ditunjuk sebagaistanding agent obligasi pemerintah. Selain itu, sukuk ritel 007, sukuk ori, obligasi pemerintah juga ditawarkannya, demikian pula dengan bancassurance.

“Yang membedakan adalah komitmen kita. Kita komitmen dalam segala hal. Seperti dalam edukasi serta kemudahan trensaksi. Jadi selain ke cabang kita juga ada internet banking, kita internasional bank jadi bisa transaksi di seluruh dunia secara online,” ujar dia.

Pengembangan Karir

Hingga saat ini genap empat tahun Steven berkarir di HSBC, kini dia fokus di bisnis wealth management. Karena kesukaannya berbagi ilmu dengan masyarakat. Ya, Steven Suryana mulai bergabung dengan HSBC pada Agustus 2011 dengan membawa pengalaman selama 17 tahun di industri finansial.

“Sejak dulu, sudah senang akan industri keuangan. Apalagi saat ini, banyak yang missakanwealth management, makin tertarik minat saya kalau seperti ini. Manariknya, challenge-nya Indonesia masih baru industrinya, masih bisa berkembang lebih besar lagi. Apalagi sekarang dengan konsidi Indonesia sudah lebih baik, semoga nanti wealth management naik level,” harapnya.

Maklum, masyarakat Indonesia masih banyak yang memilih deposito sebagai lahan investasi, baik tujuannya untuk sekolah anak ataupun untuk pensiun. Padahal ada banyak ladang investasi dalam wealth management. Dengan kata lain tak melulu deposito.

“Orang di sini kan senang karena suku bunga deposito masih tinggi. Singapura dan Malaysia sudah tidak seperti itu. Pernah bayangin gak suku bunga deposito turun di bawah 5%? Makanya, itu yang kita terus educatekepada nasabah dan juga masyarakat Indonesia lainnya,” tegas dia.

Sebelum bergabung dengan HSBC, Steven berkarir selama 1 tahun lebih di Manulife Asset Management Indonesia sebagai Group Head Sales & Marketing, kemudian berpindah ke Royal Bank Skotlandia dan menjabat posisi sebagai Head of Wealth Management selama 2,5 tahun.

Tahun selanjutnya Steven berkarya di Standard Chartered Bank, baik di Indonesia maupun di Filipina, dari 2003 hingga 2007 dengan posisi terakhir sebagai General Manager, Wealth Management, Standard Chartered Bank, Filipina.

“Sebelumnya, di tahun 1994, saya memulai karirnya di PT BII Lend Lease Investment Management dengan posisi terakhir sebagai Vice President Product Development,” kenang dia ketika ditanya akan perjalanan karirnya.

Steven juga cukup aktif dalam berpartisipasi dalam pengembangan mutual fund di Indonesia, baik dari manajemen investasi dan bank distributor. Tetapi ketika ditanya akan target pribadi, Steven tak mau muluk-muluk mengumbarnya. Dia hanya ingin lihat bisnis wealth management terus berkembang, dan akan terus merubah mindset masyarakat bahwa produk wealth management.

“Target pribadi, ya itu tadi saya ingin lihat bisnis wealth management ini terus berkembang di Indonesia, itu saja,” tutup pria penghobi traveling itu.

Related posts