Indonesia Suarakan Keberlanjutan dalam Pengolahan Perikanan - Seafood Expo Global 2015

NERACA

Jakarta – Indonesia kembali ikut serta dalam perhelatan tahunan, Seafood Expo Global (SEG) 2015 di Brussel sebagai ajang Indonesia mempromosikan produk perikanan di pasar dunia. Dalam event tersebut Indonesia membawa serta 17 perusahan perikanan untuk ambil bagian promosi produk perikanan terbesar di dunia tersebut. Event tahunan berlangsung tanggal 21-23 April 2015 dijadikan ajang Indonesia untuk menyuarakan pentingnya keberlanjutan dalam pengelolaan perikanan.

Demikian disampaikan Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Saut P. Hutagalung, Rabu (21/4) di Brussel, dikutip dari keterangan resmi di Jakarta. Lebih jauh Saut menuturkan bahwa keamanan pangan dan keberlanjutan perikanan merupakan isu sangat penting dalam pemasaran produk perikanan di tingkat internasional dan menjadi persyaratan pasar global yang semakin vital. Kampanye keberlanjutan dilakukan Indonesia untuk menyampaikan komitmen dan langkah-langkah terbaru Pemerintah Indonesia kepada dunia dalam mendukung keberlanjutan bisnis perikanan. Dalam setiap sesi pertemuan dengan importer produk perikanan maupun dengan retail buyer, disampaikan bahwa Indonesia berkomitmen dalam memenuhi persyaratan pasar global produk perikanan yang mencakup aspek mutu, keamanan pangan dan kelestarian sumberdaya perikanan.

Langkah nyata Indonesia dalam mengkampanyekan keberlanjutan pengelolaan perikanan dilakukan melalui penerbitan kebijakan dalam hal penanggulangan IUU Fishing dan keberlanjutan dalam pengelolaan perikanan, seperti Permen KP No.56/2014 tentang Moratorium Kapal Ikan, Permen KP No.57/2014 tentang Larangan Transhipment, Permen KP No.01/2015 tentang Larangan Penangkapan Lobster, Kepiting, dan Rajungan dan Permen KP No.02/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela dan Pukat Tarik. Perang melawan IUU (Illegal-Unreported-Unregulate) Fishing yang dilakukan Pemerintah Indonesia semata-mata bertujuan untuk menjamin keberlanjutan mata pencaharian nelayan dalam menangkap ikan, promosi nelayan dan bisnis perikanan.

Di samping itu, isu perbudakan (slavery) yang mencuat satu bulan terakhir sangat menyita perhatian, namun hal tersebut dapat segera teratasi dengan penanganan yang cepat dan tepat oleh pemerintah. Indonesia memanfaatkan momentum tersebut untuk menerangkan kepada para buyers, terkait dengan langkah-langkah Indonesia terkait dengan isu tersebut dalam pertemuan dengan Mr. Ivan Bartolo, Presiden Aliansi Perusahaan Pengolahan dan Importir Seafood (SIPA) Eropa di SEG 2015.

Mengantisipasi perkembangan dalam pengolahan perikanan khususnya follow up pemberantasan IUU Fishing dan perikanan berkelanjutan, dalam SEG kali ini, juga digelar program penguatan peran asosiasi perikanan Indonesia bersama The Centre for the Promotion of Imports from Developing Countries (CBI) Belanda yang dihadiri Wakil Presiden Asosiasi Pengusaha Pengolah dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Johan Suryadarma dan beberapa pimpinan perusahaan perikanan Indonesia. Keberadaan asosiasi perikanan sangat diperlukan dalam meningkatkan ekspor produk perikanan, disamping ikut membantu dalam mensosialisasikan keberlanjutan dalam pengelolaan perikanan.

Penyelenggaraan SEG merupakan pameran seafood internasional terbesar di dunia yang diikuti oleh sekitar 1.700 peserta dari 75 negara dan dihadiri sekitar 26 ribu pengunjung dari 150 negara. Paviliun Indonesia terletak di Hall 11 no booth 2341 dengan luas mencapai 224 m2 yang dibangun bersama antara KKP dan Center for the Promotion of Import from Developing Countries (CBI) Belanda.

aviliun Indonesia yang diwakili oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dan 17 perusahaan perikanan, yakni PT. Arafura Prima Indopasifik, PT. Awindo International, PT. Wirontono Baru, PT. Rex Canning, PT. Maya Food Industries, PT. Intimas Surya, PT. Dharma Samudera, PT. Fresh On Time, PT. Indu Manis, PT. Inti Lautan Fajar Abadi, PT. Parlevliet Paraba, PT. Permata Marindo Jaya, PT. Wahyu Perdana Binamulia, CV. Prima Indo Tuna, PT. Prima Bahari Inti Lestari, PT. Bahari Biru Nusantara, PT. Kelola Biru Harmoni. Selain perusahaan-perusahaan tersebut, terdapat 2 perusahaan yang berpartisipasi secara mandiri, yakni PT. Central Proteina Prima (CPP) dan PT. Muria Bahari Indonesia.

Ekspor produk perikanan Indonesia di pasar Eropa pada tahun 2013 mencapai volume 100,7 ribu ton dengan nilai sebesar US$ 534,1 juta, sedangkan pada tahun 2014, volume ekspor sebesar 99,3 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 553,5 juta. Dari sisi volume, ekspor periode tahun 2013-2014 mengalami penurunan sebesar 1,37%, namun dari sisi nilai ekspor mengalami kenaikan sebesar 3,64%. Pada tahun 2014, komoditi utama meliputi udang sebesar US$ 194,7 juta, tuna, tongkol, cakalang (TTC) sebesar US$ 144,7 juta dan kepiting/rajungan sebesar US$ 23,5 juta.

Related posts