2015, Ekonomi Mentok di 5,3%

Kamis, 23/04/2015

NERACA

Jakarta - Kepala Ekonom Global Market PermataBank Josua Pardede memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2015 berada dikisaran 5 pers, dan paling tinggi 5,3 persen. Ini sedikit lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2014. "Meski pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2015 melambat, namun pertumbuhan sepanjang 2015 diperkirakan di kisaran 5-5,3 persen. Pasalnya, belanja pemerintah tahun ini cukup besar meski semuanya sangat tergantung pada realisasi penyerapannya," katanya di Jakarta, Rabu, (22/4).

Selain itu, lanjutnya, investasi juga cenderung meningkat apalagi jika janji kampanye Presiden Joko Widodo direalisasikan dan kestabilan politik serta hukum dapat ditegakkan.

Josua menuturkan, perbaikan ekonomi Indonesia pada 2015 didorong oleh sisi pengeluaran investasi dan konsumsi rumah tangga yang tumbuh lebih baik. Peningkatan investasi khususnya didorong oleh belanja pemerintah untuk pembangunan infrastruktur.

Di samping itu, membaiknya konsumsi rumah tangga disebabkan oleh ekspektasi turunnya laju inflasi seiring turunnya harga BBM dan harga-harga yang diatur pemerintah. "Pertumbuhan ekonomi Q1 2015 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan Q4 2014. Investasi masih melambat karena investor masih 'wait and see', atas janji-janji Presiden Joko Widodo dan kestabilan hukum dan politik," ujarnya.

Menurut Josua, dari sisi ekonomi masih cukup stabil. Realisasi Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu juga cukup baik untuk meningkatkan investasi. Konsumsi masyarakat cenderung masih stabil, apalagi harga bahan bakar minyak sudah mulai turun.

Dari sisi ekspor juga memang belum ada peningkatan signifikan, apalagi harga minyak dunia dan komoditas masih melambat.

Sedangkan dari sisi belanja pemerintah pada Q1 2015 belum ada perubahan signifikan. Alasannya, penyerapan anggaran baru akan dilakukan pada semester II 2015. "Dengan kebijakan presiden yang menetapkan lelang barang dan jasa paling lambat Maret lalu, maka realisasi belanja paling cepat baru mulai pada semester II," ujar Joshua.

Sementara itu, dari sisi produksi, sektor tersier seperti industri jasa, transportasi dan pergudangan, telekomunikasi, dan jasa keuangan, diperkirakan masih akan tumbuh cukup tinggi. Sedangkan, sektor manufaktur yang berkontribusi sekitar 20 persen dari perekonomian Indonesia, diperkirakan masih akan tumbuh stagnan pada 2015.

Sementara itu, lembaga perbankan asal Swiss, Union Bank of Switzerland (UBS) memangkas proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia menjadi 4,7 persen dari 5 persen di 2015. Demikian halnya di 2016, turun dari 5,8 persen ke 5,6 persen.

Senior Southeast Asia & India Economist UBS AG, Edward Teather mengatakan bahwa PDB riil belum menemukan titik terendah sebelum peningkatan. Sementara itu, pergerakan harga komoditas juga terlihat tidak membantu. "Kami mengharapkan adanya pemulihan sejalan dengan terpulihnya penurunan ekonomi. Kondisi moneter yang longgar dan belanja infrastruktur yang meningkat. Tapi kondisi tersebut belum tentu kondusif untuk peningkatan aktivitas ekonomi secara signifikan," ujar Edward.

Edward menjelaskan, pertumbuhan masih melambat di bulan Februari berdasarkan data penjualan ekspor, impor, semen dan kendaraan bermotor. Masing-masing membukukan level terendah selama berbulan-bulan dan pertumbuhan negatif pada tahun tersebut.

Menurut dia, kunci dari pertumbuhan yang masih melambat konsisten dengan tekanan yang sedang berlangsung dari siklus pinjaman (credit cycle) yang akan jatuh tempo dan sektor komoditas.

"Kami tidak mengharapkan keadaan harga komoditas meningkat jauh dalam waktu dekat. Perbaikan proyeksi UBS baru-baru ini menurunkan harga batubara termal sebesar 13 persen pada 2015 dan meningkatkan proyeksi untuk harga minyak Brent sebesar tujuh persen," tuturnya.

Seperti diketahui, pemerintah menargetkan tahun 2015 pertumbuhan ekonomi berada di level 5,7 persen. [agus]