Calon Direksi BEI Harus Pandai Jadi Fasiliator

Kamis, 23/04/2015

NERACA

Jakarta – Menyadari besarnya peran strategi direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam memajukan dan mengembangkan industri pasar modal dalam negeri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan perhatian khusus dalam menyeleksi beberapa paket calon direksi BEI untuk priode 2015-2018. Oleh karena itu, persyaratan paket calon direksi BEI yang diatur OJK juga diperketat, disamping fit and propert tes. Hal ini dimaksudkan agar memilih direksi BEI tidak beli kucing dalam karung.

Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia, Isaka Yoga, persyaratan yang dibuat OJK terkait paket pencalonan direksi BEI dinilai persyaratan lama dan tidak ada yang baru. Dimana semua ketentuan tersebut bersifat formal, “Persyaratan direksi BEI semua bersifat formal dan tidak ada terobosan yang baru,”ujarnya di Jakarta, Rabu (22/4).

Namun yang pasti, dari beberapa paket calon direksi, kata Isaka Yoga, ada yang memenuhi kriteria dan ada yang tidak. Pasalnya, lima paket calon direksi BEI diakuinya memiliki karakter yang berbeda-beda. Saat ini, hal yang di butuhkan industri pasar modal adalah penambahan jumlah emiten dan investor. Hal ini sangat beralasan, lantaran pertumbuhan jumlah emiten di Indonesia kalah dibandingkan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Hal yang sama juga untuk jumlah investor pasar modal.

Kata Isaka, calon direksi BEI yang ideal saat ini ditengah upanya menambah jumlah emiten dan jumlah aktif investor pasar modal adalah yang mempunyai pengalaman di perusahaan penjaminan emisi,”Pengalaman di perusahaan sekuritas adalah ideal karena mempunyai jaringan investor luas. Alasannya, keberhasil menyakinkan perusahaan listing di bursa menjadi buktinya,”ungkapnya.

Maka untuk meningkatkan jumlah emiten, lanjut Isaka, tidak ada salahnya syarat direksi BEI harus ditambah mempunyai kemampuan marketing. Hal ini dilakukan untuk menarik calon emiten di ASEAN sehingga pasar modal di Indonesia bisa menjadi leader. Disamping itu, pihak AEI akan lebih memilih direksi BEI yang mempunyai kemampuan untuk menjadi fasiliator untuk mengakomodir kepentingan emiten ataupun anggota bursa dan bukan sebaliknya menjadi otoritas yang sebaliknya dituding menjadi beban bagi emiten.

Saat ini, lanjut Isaka, BEI dinilai kurang komunikatif dan akomodatif terhadap kepentingan emiten, tengkok saja soal kebijakan kenaikan listing fee dan free float saham,”BEI harus bisa duduk bareng dengan emiten dalam mengeluarkan setiap kebijakan dan mampu mengoptimalkan pelayanan kepada investor atau emiten,”paparnya.

Dekatkan Pasar Modal

Bagi Reza Priyambada, Head of Research PT NH Korindo Securities Indonesia, sosok ideal direksi BEI kedepan adalah mampu mendekatkan pasar modal kepada masyarakat luas dan tidak hanya sekedar kejar pertumbuhan bisnis dan laba,”Direksi BEI kedepan harus mampu mengenalkan dan mensosialisasikan pasar modal lebih dekat ke masyarakat. Sehingga bila penetrasi pasar dalam negeri sudah besar, tentunya ketergantungan investor asing bisa di kurangi,”tandasnya.

Reza bilang, dari lima calon paket direksi BEI saat ini mempunyai pengalaman yang cukup matang di pasar modal. Hanya saja, hal yang pertu ditekankan dalam memilih lima paket direksi BEI yang dinilai layak adalah mereka yang mempunyai dedikasi tinggi untuk mendekatkan pasar modal ke masyarakat,”Pasar modal saa ini tidak perlu produk investasi yang canggih atau sophisticated bila awarnes masyarakat akan pasar modal masih rendah,”tuturnya.

Sebaliknya, kata Reza, bila awarnes masyarakat sudah tumbuh tentang minat investasi di bursa, maka akan sendirinya pasar akan terbentuk dan produk akan menjadi kebutuhan.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida pernah bilang, pihaknya meminta kepada calon bakal direksi Bursa Efek Indonesia untuk menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU) sebagai salah satu persyaratan dalam uji kelayakan dan kepatutan atau "fit and proper test".

Hal yang menjadi tuntutan utama OJK, disebutkan calon direksi BEI harus memiliki program yang spesifik dan aktif dalam rangka mendorong perusahaan domestik melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO),”Jangan sampai kalah dengan Bursa Singapura yang cukup aktif mendekati beberapa perusahaan domestik untuk mencatatkan sahamnya disana," ujar Nurhaida. (bani)