Pertamina Tegaskan BBM Premium Tak Dihapus

Luncurkan Petralite

Kamis, 23/04/2015

NERACA

Jakarta – PT Pertamina (Persero) berencana untuk menluncurkan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan jenis baru yang oktannya lebih tinggi dibandingkan BBM jenis premium namun berada di bawah pertamax yaitu petralite. Nantinya, dengan hadirnya petralite maka bukan berarti BBM jenis premium dihapus di pasar. Hal seperti itu yang ditegaskan oleh Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII DPR RI Jakarta, Rabu (22/4).

Ia mengatakan petralite dengan oktan RON 90 yang akan dikeluarkan pada Mei 2015 tidak akan menggantikan kehadiran Premium. “Kutipan di media itu tidak tepat, yang seolah-olah hilangkan Premium. Premium tetap sesuai kebijakan pemerintah dan pasar. Dan mesin motor mobil dengan kompresi mesin yang tinggi kami lihat perlu ada produk yang seperti ini,” kata Dwi.

Menurut dia, kehadiran Petralite ini akan menjadi alternatif bahan bakar minyak yang memiliki kualitas di bawah Pertamax dan lebih baik dibandingkan dengan Premium. Soal harga, Dwi mengatakan masalah tersebut masih dalam pembahasan Pertamina untuk menentukan kisaran yang tepat. "Kita masih akan membahasnya, tetapi harganya akan berkisar diatas Premium dan di bawah Pertamax," kata Dwi. Pada rapat itu DPR meminta harga Petralite yang akan dikeluarkan sebaiknya tidak mahal agar masyarakat mau mengonsumsi produk itu dan tidak terbebani.

Mengenai peluncurannya, dia mengatakan peluncuran akan dilakukan pada bulan Mei, bukan pada 1 Mei yang banyak diberitakan oleh media. Hadirnya minyak varian baru ini dipercaya dapat mengurangi impor premium secara signifikan, dan dapat mendorong penggunaan BBM dengan kualitas lebih baik dan lebih ramah lingkungan. Serta mendorong peningkatan kemampuan kilang untuk menghasilkan produk yang lebih baik.

Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarmo mengatakan bahwa pemerintah masih mengkaji penggunaan bahan bakar minyak (BBM) varian baru Pertalite untuk menggantikan Premium. “Memang, Pertamina mempunyai produk baru yang namanya Pertalite, itu RON 90, kalau Premium itu RON 88. Jadi, pemikiran ke depannya, kalau kita mau lebih ramah lingkungan, tentunya ke sana (menggunakan Pertalite, red.),” kata Rini.

Akan tetapi, pemerintah menyadari bahwa Premium atau RON 88 secara harga pada saat sekarang masih yang terendah. “Jadi, tentunya kita tidak mau menghapuskan itu (Premium, red.) dulu,” katanya. Jika akhirnya harga RON 90 nantinya bisa sama dengan RON 88, Premium kemungkinan lama-lama akan hilang. Hal itu disebabkan Pertalite atau Ron90 secara lingkungan lebih bagus. Kendati demikian, Rini mengatakan bahwa yang harus dijaga adalah jangan sampai membebani konsumen. "Jadi, kalau harga Premium masih lebih rendah, saat sekarang, ya Premium harus tetap ada," tegasnya.

Disinggung mengenai fungsi Petral, dia mengatakan bahwa fungsi anak perusahaan Pertamina yang menangani pengadaan dan penjualan minyak mentah serta produk kilang itu sudah dihapuskan. “Sudah dihapuskan karena sekarang saja Petral sebetulnya sudah tidak berfungsi. Jadi, Pertamina membeli langsung (minyak mentah, red.), tinggal waktu mereka melaporkan bahwa Petral akan dibubarkan. Saya rasa dalam waktu dekat akan melapor ke Bapak Presiden,” katanya.

Tidak Berkualitas

Direktur Eksekutif Komite Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan upaya produksi pertalite sangat sia-sia. Kualitas bensin tidak sesuai standar kebutuhan teknologi mesin. Menurut dia, pertalite mengandung kadar belerang di atas 50 ppm. Masalah itu akan berdampak pada kualitas kinerja mesin. Industri dan konsumen otomotif nasional bahkan global akan mengalami kerugian besar. "Keterlambatan adopsi teknologi Euro Standard 4 seperti ini akan menutup industri pasar otomotif di Indonesia," ungkapnya.

Pemerintah seharusnya cukup menghapus BBM premium atau RON 88. Saat ini harga produksi RON 95 sudah cukup murah sekitar Rp 7.500 per liter. Bensin tersebut mengandung sulfur maksimal 50 ppm atau masuk kategori 4 seusai standar konsumen otomotif di Eropa. "Jika ditambah pajak dan keuntungan untuk Pertamina paling harga di pasar hanya Rp 9.375 per bahkan bisa di kisaran Rp 8.000 per liter," kata Ahmad.

Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri menyebut, PT Pertamina hanya menggabungkan antara premium dengan pertamax, sehingga muncul BBM jenis pertalite. “Jadi tidak ada inovasi, karena hanya mencampur antara ron 88 dengan ron 92 jadi lah ron 90. Ini pertalite juga jadi tanggung," kata Faisal Basri.

Ketua Komisi VII DPR RI Kardaya Wardika menilai keputusan PT Pertamina memunculkan pertalite bukan langkah cerdas. Karena harus menumpuk enam jenis BBM dalam satu SPBU. Apalagi, kata dia, bahan yang digunakan merupakan hanya campuran antara premium dan pertamax. “Pertamina jangan sampai rakyat dibuat kelinci percobaan, karena di dunia mana ada satu SPBU yang menjual enam produk. Kalau saya bilang ini sungguh tidak cerdas,” kata Kardaya.