KAA Momentum Peningkatan Perdagangan

Kamis, 23/04/2015

NERACA

Jakarta - Peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika dan Peringatan ke-10 "New Asian-African Strategic Partnership" (NAASP) merupakan momentum penting untuk mengoptimalkan peningkatan perdagangan Indonesia. “Kerja sama antara negara Asia-Afrika pada tahun ini berpotensi besar untuk ditingkatkan. Potensi ini dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi kedua benua,” kata Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Rabu (22/4).

Hal tersebut disampaikan Rachmat pada sesi pertama dialog "Asian African Business Summit" (AABS), dan menambahkan bahwa Asia merupakan rumah ekonomi terbesar di dunia, sementara Afrika adalah rumah bagi banyak pertumbuhan ekonomi tercepat dunia.

Saat ini nilai perdagangan Asia-Afrika mencapai 13,3 triliun dolar Amerika Serikat untuk pasar sebanyak 5,59 miliar jiwa, di mana hal tersebut masih nisbi kecil jika dibandingkan perdagangan antarnegara Asia sendiri yang mencapai delapan triliun dolar AS. “Saya mendukung terbentuknya Forum Bisnis Asia Afrika untuk meningkatkan hubungan antar sektor swasta dan forum bisnis. Forum bisnis ini juga dapat diselenggarakan kapanpun dan di manapun,” tambah Rachmat.

Rachmat meyakini bahwa Asia-Afrika akan mendapatkan banyak manfaat dari peningkatan kerja sama di empat pilar kerja sama perdagangan, yaitu fasilitasi perdagangan, promosi perdagangan, pembiayaan perdagangan, dan keterbukaan perdagangan. “Indonesia tetap berkomitmen terhadap bisnis, modal, dan masa depan Indonesia,” tandasnya.

Menurut Rachmat, tantangan kerja sama Asia-Afrika bukan lagi pada jarak, akan tetapi mental masyarakat yang kurang berani mengambil risiko untuk berinvestasi di benua Afrika. Untuk itu, lanjut Rachmat, negara-negara Asia-Afrika perlu duduk bersama menyusun pembukaan jalur-jalur baru perdagangan yang jelas dan mapan sebagai pendukung terjadinya perdagangan. Kemendag mendukung dunia usaha untuk terus menjalin kerja sama dengan negara-negara di Afrika. Beberapa di antaranya berhasil merebut pasar di Nigeria, Zimbabwe, dan Mauritius.

Saat membuka Asian African Business Summit, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa negara-negara di Asia Afrika harus saling bekerjasama khususnya di sektor perdagangan. Hal tersebut demi mewujudkan peranan kedua kawasan tersebut dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dunia. “Utamanya meminimalkan perdagangan tarif dan nontarif dengan harus sejalan dengan sistem perdagangan internasional yang adil, tertib dan terbuka,” kata Jokowi.

Jokowi menambahkan, selain sektor perdagangan, sektor lainnya yang berpotensi besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah sektor energi, manufaktur, dan lainnya. Jokowi pun mengajak, negara-negara di Asia-Afrika untuk mengembangkan sistem dan regulasi yang lebih ramah, sehingga mempermudahkan investor untuk masuk berinvestasi. “Saya juga mengajak untuk mempermudah dan mendorong sektor swasta dengan investasi,” paparnya.

Terlebih, Indonesia kini sudah membuka peluang yang sebesar-besarnya bagi investor yang ingin menanamkan investasi di Indonesia. Hal ini diwujudkan dengan hadirnya Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang berpusat di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). “Indonesia juga menciptakan dan menyederhanakan proses perizinan, mendorong relokasi subsidi bahan bakar ke produktif serta peningkatan Sumber Daya Manusia,” tukasnya.

Peta Perdagangan

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Nus Nuzulia Ishak menjelaskan, total perdagangan negara Asia-Afrika memiliki kontribusi sebesar 42,6 persen dari total perdagangan dunia. Hampir 62 persen dari total perdagangan dari negara Asia-Afrika merupakan perdagangan antarnegara-negara Asia-Afrika. “Indonesia menempati urutan ke-13 dari negara Asia-Afrika yang memiliki kontribusi terbesar terhadap perdagangan dengan dunia, dan urutan ke-12 sebagai kontributor terbesar terhadap perdagangan intra negara Asia-Afrika,” ujar Nus.

Lebih lanjut dia mengatakan, pangsa ekspor Indonesia lebih dari 70 persen ditujukan ke wilayah Asia dan hanya sekitar 3,5 persen menyasar wilayah Afrika. Sementara itu, pangsa impor Indonesia 76 persennya berasal dari wilayah Asia dan sebesar 3 persen dari Afrika. “Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus dengan 34 negara dan defisit dengan 71 negara di wilayah Asia-Afrika,” imbuh Nus.

Sementara itu, ada dua negara yang sampai saat ini belum menjalin perdagangan dengan Indonesia, yakni Republik Demokratik Kongo (sebelumnya Zaire) dan Sao Tome. Nus menambahkan, terdapat 17 negara di Asia dan 29 negara di Afrika tempat Indonesia memiliki trend ekspor di atas 10 persen selama 2010-2014.

Nus menyebutkan, produk ekspor Indonesia yang mengalami peningkatan pada tahun 2014 dibandingkan 2013 di wilayah Asia yaitu perhiasan, minyak sawit dan turunannya, otomotif, batu bara (lignite), logam mulia (emas), produk kayu (kayu lapis), besi dan baja (lembaran), komponen elektrik, rokok (tembakau, kretek, filter), cocoa butter, dan benang katun.