Inflasi Momok Kelas Menengah Ke Bawah

Kamis, 23/04/2015

Oleh Fauzi Aziz

Pemerhati Industri dan Perdagangan

Apa itu inflasi rasanya sebagian masyarakat kita sudah tahu rumusannya secara teoritis. Paling mudah difahami adalah bahwa telah terjadi kenaikan harga bahan kebutuhan, seperti air bersih, BBM, tarif listrik, dan harga kebutuhan pokok seperti beras, kedelai, bawang, daging dan sebagainya. Masyarakat tidak pernah peduli berapa angka inflasi itu dicatat dan diumumkan oleh pemerintah, apakah hanya 3%, 4%, 5% atau lebih.

Masyarakat hanya melihat dan merasakan akibatnya, dan yang paling dirasakan adalah kenaikan harga-harga tadi. Tentang penyebabnyapun, masyarakat tak pernah mempedulikannya karena yang merasakan beban itu adalah golongan pekerja, petani, nelayan dan buruh serta para PNS golongan 1 dan 2 atau kelompok UKM.

Kita bisa membayangkan jika golongan seperti mereka itu, khususnya yang berpenghasilan tetap golongan bergaji/upah marginal, pengeluarannya sudah mencapai 30% dari penghasilannya hanya habis untuk ongkos transport dan makan sekedarnya. Darimana lagi mereka dapat mencari tambahan pendapatan ketika harga-harga kebutuhan kian melambung. Ini adalah fenomena ekonomi yang tidak bisa dianggap remeh oleh para pengambil kebijakan ekonomi di negeri ini.

Pemerintah baru 6 bulan bekerja telah banyak membebani masyarakat (golongan kelas menengah bawah) akibat kenaikan harga yang berlapis-lapis. Wajar kalau muncul pertanyaan di masyarakat bahwa pemerintah ini sedang bermain kartu apa dan akan memenangkan siapa dalam mengelola kebijakan ekonomi di negeri ini. Pidato ketum PDIP pada konggres di bali beberapa waktu yang lalu memang cukup mengagetkan, tetapi jangan-jangan beliau memang sudah tahu persis bahwa para pengambil kebijakan ekonomi di negeri ini sedang bermain api. Atau boleh jadi juga sedang bermain seperti "sepakbola gajah" di dunia olah raga.

Tanpa berniat sejengkalpun untuk menuduh,jangan-jangan Indonesia sedang didekati oleh "korporatokrasi" internasional untuk mencari keuntungan di indonesia melalui "KKN" seperti yang terjadi di zaman orde baru. Wallahualam, astagfirullah.

Lakon dan langgamnya kelihatan sangat pragmatis saja,yaitu seperti yang sering kita dengar bahwa harga kadang naik, kadang juga turun. Lama-lama masyarakat akan terbiasa dengan lakon dan langgam itu, yaitu sesekali harus bisa ikut menanggung resiko terhadap kenaikan harga, tetapi pada saatnya juga akan menikmati penurunan harga-harga.

Barangkali ini salah satu bentuk insentif ekonomi yang ditawarkan oleh para pengambil kebijakan ekonomi saat ini untuk menarik investor asing dari Tiongkok, Jepang dan dari negara lain yang mau menanamkan modalnya di Indonesia. Bersamaan dengan peringatan KAA saja sampai digelar pertemuan khusus World Economic Forum di jakarta yang misi utama dari pihak Indonesia adalah "jualan" untuk menarik investasi asing, setelah iming-iming melalui tax holiday atau tax allowance tidak terlalu menarik bagi mereka.

Kompensasinya pemerintah menawarkan alternatif penggantinya yaitu diberikannya kesempatan kepada mereka memaksimalisasi tingkat laba yang akan diperoleh ketika mereka masuk dan mau berinvestasi di Indonesia.