Produksi Karang Hias Mesti Mulai Beralih ke Budidaya

Masih Andalkan Pengambilan dari Alam

Rabu, 22/04/2015

NERACA

Jakarta – Masih banyaknya tantangan yang dihadapi sektor kelautan dan perikanan menuntut Indonesia agar lebih terampil membaca peluang dan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki secara berkelanjutan untuk kepentingan pembangunan daerah maupun nasional. Dengan letak geografis wilayahnya yang berada di kawasan tropis, Indonesia dikenal dengan berbagai komoditas kelautan dan perikanannya, termasuk spesies karang hiasnya. Meskipun demikian, pemanfaatan komoditas-komoditas tersebut masih belum berlangsung optimal dan berkelanjutan.

"Dari 569 jenis karang yang ada di Indonesia, baru 81 jenis karang hias yang sudah diperdagangkan. Dari jumlah tersebut, untuk ekspor, masih 49 jenis yang telah direkomendasikan dari hasil propagasi, sedangkan jenis-jenis karang polip besar seperti Cynarina lacrymalis, Scolymia spp dan Tracyphyllia geoffroyi masih banyak mengandalkan pengambilan dari alam," ungkap Ofri Johan selaku peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (Balitbangdias) saat ditemui dalam acara Seminar Sehari Potensi Budidaya Karang Hias dan Ikan Hias Laut di Ruang Pertemuan Badan Litbang Kelautan dan Perikanan Ancol, Jakarta, Selasa (21/4).

Selanjutnya peneliti yang juga berperan aktif sebagai auditor kelayakan propagasi karang hias di Indonesia ini juga menyampaikan bahwa upaya produksi yang masih mengandalkan hasil pengambilan dari alam, disinyalir akan mempercepat laju penurunan populasi di alam jika tidak dikelola dengan baik. Bahkan, dengan pengetahuan dan kesadaran lingkungan yang tinggi, seringkali terjadi penolakan dari negara yang menjadi tujuan ekspor. "Sebagai contoh karang polip besar yang ditolak di pasar Uni Eropa karena masih diambil dari alam. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, produksi tentunya harus segera dialihkan pada upaya budidaya," tegas Ofri.

Narasumber lainnya, Suharsono selaku Scientific Authority CITES perdagangan karang hias Indonesia, menyatakan bahwa pengambilan karang hias dari alam kedepan akan dibatasi, kecuali untuk sumber induk sebagai upaya penyegaran induk lama karena faktor adanya kelelahan genetik dari metode fragmentasi. Dalam seminar sehari tersebut peneliti senior Pusat Penelitian Oseanografi LIPI ini menyampaikan presentasi yang berjudul “Potensi dan tantangan pemanfaatan karang hias alam dan propagasi di Indonesia”.

Selain paparan dari Ofri Johan dan Suharsono, hadir juga Direktur Asosiasi Koral Kerang dan Ikan Hias Indonesia (AKKII), Indra Wijaya, sebagai narasumber lainnya. Dalam paparannya, narasumber yang membawakan presentasi dengan judul “Peluang dan permasalahan dalam perdagangan karang hias dan ikan hias di Indonesia” ini menyebutkan bahwa permasalahan yang sering dihadapi dalam perdagangan karang hias diantaranya adalah: (1) tidak ada sinergi antara peraturan pusat dan daerah, (2) sistem birokrasi yang kurang mendukung, (3) jauhnya kantor administrasi dengan lokasi pengambilan karang, (4) peraturan-peraturan negara tertentu yang melarang masuknya ikan dan karang ke negara tersebut, serta (5) adanya isu dualisme Management Authority CITES sehingga beberapa daerah ragu mengeluarkan ijin, untuk klarifikasi perlu konsultasi dengan pihak terkait.

Karang polip besar merupakan karang yang memiliki ukuran coralite (mulut) besar. Karang ini dicirikan oleh warna yang lebih menarik dengan lokasi berada pada perairan yang agak dalam sehingga membutuhkan upaya lebih untuk mendapatkannya. Permintaan dan harga karang berpolip besar di pasar ekspor sangat tinggi, sedangkan populasinya di alam tidak sebanyak polip ukuran kecil. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balitbangdias berupaya mendukung pelaksanaan litbang budidaya karang hias di Indonesia. Menggandeng CV. Cahaya Baru sebagai mitra, Balitbangdias sepakat melakukan kerjasama litbang budidaya karang hias.

Sebagai langkah awal, di sela-sela Seminar Sehari Potensi Budidaya Karang Hias dan Ikan Hias Laut, upaya ini dituangkan dalam penandatanganan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerja Sama antara Balitbang KP dan Balitbangdias dengan CV. Cahaya Baru. Tidak hanya teknologi budidaya karang hias, kerjasama litbang lainnya juga berasal dari penelitian teknologi budidaya ikan hias clown (Amphiprion spp.), udang hias laut (Lysmata spp.), dan kultur pakan alami laut. Acara penandatanganan dan seminar yang dibuka oleh Kepala Badan Litbang Kelautan dan Perikanan, Achmad Poernomo, dihadiri oleh Direktur CV. Cahaya Baru, Djohan Tjiptadi, dan staff, Kepala Pusat Litbang Perikanan Budidaya, Heru Prihadi, Kepala Balitbangdias, Anjang B. Prasetio, pejabat struktural Balitbang KP, Puslitbang Balitbangdias dan BPPBAT Bogor, para peneliti serta staff Balitbangdias, Departemen Biologi FMIPA Universitas Indonesia, Sekolah Tinggi Perikanan

Dalam arahannya, Kepala Badan Litbang KP menyatakan bahwa dengan ditandatangani kerjasama dengan CV. Cahaya Baru diharapkan peran Balitbangdias semakin nyata untuk masyarakat luas khususnya budidaya ikan hias laut dan karang hias. Senada dengan Kepala Badan, Kepala Pusat Litbang Perikanan Budidaya berharap bahwa kegiatan litbang ikan hias dan karang hias ini dapat menjawab tantangan di masyarakat dimana kini ekspornya masih banyak mengandalkan dari alam.

Menanggapi berbagai harapan atasannya, Kepala Balitbangdias menyampaikan bahwa untuk menjawab tantangan masyarakat, Balitbangdias mulai mengubah arah kebijakan litbangnya. "Kalau di beberapa tahun sebelumnya konsentrasi pada ikan hias tawar, maka kini ikan hias laut dan karang hias juga menjadi prioritas," pungkas Anjang.

Topik Terkait

harga karang budidaya