Kemarau Diyakini Tak Pengaruhi Inflasi

NERACA

Jakarta---Pemerintah tak terlalu khawatir dengan dampak kemarau panjang. Alasanya masalah masalah kekeringan takkan memicu tekanan inflasi. Malah diperkirakan inflasi pada September 2011 lebih rendah disbanding inflasi yang Agustus 2011. "Saya tidak melihat itu (berdampak pada inflasi). Bahkan September inflasinya dibawah itu,” kata Menko Perekonomian Hatta Radjasa kepada wartawan di Jakarta, Selasa (20/9)

Bahkan mantan Mensesneg ini mengaku tekanan inflasi pada Agustus 2011 masih yang tertinggi. Sementara pada September 2011 diperkiraka takkan sampai 0,9%. “Saya meyakini inflasi Agustus sekitar 0,9%, itu paling tinggi, namun pada September 2011 di bawah itu," tambahnya

Lebih jauh kata Hatta, kondisi musim kering tahun ini belum mengkhawatirkan. Namun, lanjutnya, tetap akan melakukan langkah antisipasi, seperti pompanisasi, pembuatan sumur, dan moratorium konversi lahan. "Ya itu, salah satunya moratorium dulu konversi lahan karena belum ada tata ruang," jelasnya.

Terkait dengan rencana hujan buatan, Hatta menyerahkan ketentuannya pada Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT). "Hujan buatan menyerahkan sepenuhnya pada BPPT karena dia yang paling tahu bibit awan seperti apa kondisinya seperti apa. Saya meyakini Oktober itu sudah musim hujan seperti ramalkan BMKG," imbuhnya.

Saat ini diperkirakan ada 1.200 hektar sawah yang tersebar di 33 Kecamatan di Kabupaten Garut Jawa Barat mengalami gagal panen akibat kekeringan. Pada umumnya sawah yang gagal panen merupakan sawah tadah hujan. Sehingga petani Garut terancam puso.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan memprediksi

inflasi bulan ini masih rendah, yakni di kisaran 0,5%. Perkiraan tersebut dipengaruhi konsumsi dan kenaikan harga beras dan cabai merah. Dalam 2 minggu ini, harga cabai merah sudah naik 22% dibandingkan bulan lalu. "Kita harus antisipasi harga cabe merah. dibandingkan Agustus sudah ada kenaikan 22%," ungkapnya

Lebih jauh Rusman menambahkan berdasarkan survey BPS di pasar-pasar, transaksi belanja masyarakat masih rendah dalam dua minggu ini karena belum banyak masyarakat yang membelanjakan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari. "Setelah Lebaran justru inflasi masih rendah karena daya beli masyarakat belum normal. Kemungkinan di minggu ketiga dalam bulan ini, transaksi mulai berjalan normal lagi," jelasnya

Dampak cukai rokok

Rusman berpendapat, terkait rencana pemerintah menaikkan cukai tembakau untuk rokok kretek tidak akan berdampak begitu signifikan bagi inflasi. Sebab, belanja rokok kretek lebih besar dibandingkan rokok putih dan kalau digabungkan hanya mencapai 1,6%. "Itu porsi di inflasi, kecil sekali," ujarnya.

Karena kenaikan tersebut adalah kenaikan terhadap tarif cukai, maka tidak akan berpengaruh terlalu besar pada kenaikan harga rokok. "Paling hanya naik sedikit. Lagi pula, konsumsi masyarakat terhadap rokok juga bukan karena harganya," katanya.

Menurut Rusman, harga rokok justru lebih berpengaruh pada tingkat kemiskinan. Asumsinya, harga rokok diperhitungkan dalam kemiskinan dengan kalori nol. "Ada pengeluaran tapi tak ada sumbangan," tandasnya

Sebelumnya, Gubernur BI Darmin Nasution mengungkapkan Bank Indonesia (BI) memproyeksi inflasi 2012 dengan mempertimbangkan kenaikan harga yang strategis di kuartal I 2011. Dalam RAPBN 2012, pemerintah menargetkan inflasi sebesar 5,3%, turun dari target inflasi di APBN-P 2011 yang sebesar 5,65%. BI menilai target pemerintah tersebut masih realistis dan secara umum inflasi masih terkendali. "Meskipun tahun depan pemerintah menyesuaikan harga yang strategis di kuartal I 2012 sehingga itu dapat meningkatkan inflasi," terangnya. **cahyo

Related posts