Jafpa Comfeed Diperkirakan Masih Merugi

Imbas Anjloknya Nilai Rupiah

Rabu, 22/04/2015

NERACA

Jakarta- Masih terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS memberikan dampak berarti terhadap kinerja keuangan emiten pakan ternak dan salah satunya, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Pasalnya, perseroan dalam transaksi bisnisnya masih mengandalkan dollar AS dan imbasnya kondisi tersebut menjadi beban keuangan.

Oleh karena itu, menurut Franky Kumendong yang juga analis UOB Kay Hian memperkirakan, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk masih akan membukukan rugi di kuartal I-2015. Hal ini karena kondisi pasar poultry yang masih melemah dan rupiah yang terdepresiasi 5% terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sepanjang kuartal I-2015.

Manajemen JPFA mengungkapkan, margin operasional segmen pakan ternak akan tetap datar secara year on year (yoy) di angka 10,5%. Hal ini menurut Franky Kumendong memicu diturunkannya proyeksi margin operasional untuk segmen pakan ternak JPFA menjadi 13,3% - 14,5% di tahun 2015 - 2017. Sementara untuk tahun ini, margin operasional pakan ternak diperkirakan sebesar 15% - 16%, dibanding tahun 2014 yang mencapai 19%,”Kami memperkirakan JPFA akan membukukan margin lebih tinggi, mengikuti harga pakan ternak yang naik Rp 200 per kilogram (kg) atau 3% mulai kuartal II-2015," ujar Franky.

Selanjutnya, harga anak ayam usia sehari (DOC) JPFA di kuartal I-2015 rata-rata Rp 4.000 per ekor. Harga ini berada sedikit di bawah titik impas. Menurut Franky, titik impas harga DOC untuk JPFA tahun ini adalah Rp 4.100 per ekor, mengingat tahun lalu harga rata-rata DOC perseroan sebesar Rp 3.800 per ekor. "Oleh karena itu, JPFA mungkin mencatat kerugian operasi kecil di segmen DOC," ungkapnya.

Sementara itu, Franky memperkirakan segmen peternakan komersial akan memberi hasil positif. Pasalnya, harga ayam broiler telah mencapai Rp 17.000 - Rp 18.000 per kilogram (kg) di bulan Januari - Februari 2015 dan Rp 12.000 - Rp 12.500 di bulan Maret 2015. Manajemen JPFA sendiri memperkirakan segmen ini juga akan mengalami kerugian operasional.

JPFA memiliki utang obligasi sebesar US$ 225 juta. Dengan adanya depresiasi rupiah hingga Rp 13.050/ dollar AS, perseroan memperkirakan akan mengalami kerugian kurs sebesar US$ 11 juta. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga berada di atas perkiraan Franky sebesar Rp 12.500 per dollar AS di akhir 2015.

Meski demikian, manajemen optimis terhadap sektor poultry di kuartal II-2015. Hal ini didukung oleh datangnya bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada bulan Juni - Juli. Secara historis, permintaan untuk poultry memang naik signifikan sekitar 10 hari sebelum bulan Ramadhan dan 10 hari sebelum perayaan Idul Fitri.

Franky akhirnya memotong proyeksi laba bersih JPFA di tahun 2015 sebesar 54,5% menjadi Rp 286 miliar. Volume DOC diperkirakan turun 6,3% setelah perseroan memotong supplay DOC mulai kuartal I-2015. Demikian juga dengan margin operasi untuk segmen pakan ternak. Tak hanya itu, Franky juga merevisi perkiraan nilai tukar rupiah menjadi Rp 13.700/ dollar AS di akhir 2015 sehingga JPFA berpotensi mengalami rugi kurs Rp 239 miliar. Franky merekomendasikan hold saham JPFA dengan target harga Rp 750 per saham. (bani)