Pengusaha Lokal Punya Pandangan Positif Terhadap MEA

Hasil Survei

Rabu, 22/04/2015

NERACA

Jakarta - Managing Director Accenture Strategy ASEAN Alison Kennedy menilai para pelaku bisnis di Indonesia memiliki pandangan positif dalam menghadapi pasar Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). "Bagi pebisnis lokal memandang positif MEA. Hasil survei yang kami lakukan ini mengejutkan, karena sangat berbeda dengan apa yang diberitakan di media," kata Alison ketika di di Jakarta, Selasa (21/4).

Menurut dia, optimisme tersebut muncul akibat adanya pandangan bahwa dengan adanya MEA maka peluang bisnis di dalam dan di luar negeri akan jauh berkembang dibandingkan negara lain di Asia Tenggara. Akan tetapi, tukasnya, dengan banyaknya jumlah pulau dan luasnya wilayah Indonesia akan menjadi tantangan bagi pelaku bisnis dalam menjaga "supply chain" (rantai suplai) kebutuhan konsumen.

"Dengan kondisi geografis yang seperti ini, upaya menjaga rantai suplai sangatlah vital. Masalah ini juga dialami negara-negara lain di Asia, tapi apa yang dihadapi Indonesia lebih rumit," ujarnya menjelaskan.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa di masa mendatang Indonesia akan bergantung pada sektor industri sebagai pendukung utama ekonomi nasional. "Di masa depan sekitar 24 persen akan diisi oleh industri. Indonesia merupakan pasar yang besar untuk mencari konsumen, begitu juga sebagai pasar produsen," tuturnya.

Menurut dia, pada saat ini ada kecenderungan para produsen akan memasarkan produk mereka dengan cara lebih mendekatkan kepada pasar atau konsumen. Dengan adanya kedekatan tersebut maka akan mempermudah dalam pemahaman produk, meningkatkan efisiensi biaya, jangkauan pasar, dan lain sebagainya, tutur Alison.

Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto meragukan kesiapan Indonesia dalam menghadapi Komunitas Ekonomi Asean (Asean Economic Community/AEC) akhir 2015. Hingga saat ini, pemerintah maupun dunia usaha belum terlihat berupaya mengintegrasikan program untuk persiapan ke arah AEC.

Untuk menghadapi AEC, Kadin berharap adanya keterlibatan integratif dalam pembuatan kebijakan pemerintah Indonesia seperti yang sudah dilakukan negara-negara Asean lain, di antaranya Singapura, Malaysia, dan Thailand."Dalam hal ini, Indonesia masih harus berbenah karena sektor swasta masih jauh berada di luar lingkaran pengambilan keputusan oleh negara," ujar Suryo.

Indonesia perlu serius mempersiapkan diri menghadapi AEC akhir 2015. Apalagi, berdasarkan data World Economy Forum (WEF), daya saing Indonesia berada di urutan 55 dunia pada 2008 dan kemudian menjadi peringkat 50 dunia tahun 2012. Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura di peringkat tiga dunia, Malaysia ke-25, dan Thailand urutan ke-38.

Jika ditinjau dari tujuan diberlakukannya, lanjut dia, AEC merupakan realisasi dari keinginan yang tercantum dalam Visi 2020 untuk mengintegrasikan ekonomi negara-negara Asean dengan membentuk pasar tunggal dan basis produksi bersama. Visi 2020 menyatakan, dalam pelaksanaan AEC, negara-negara anggota harus memegang teguh prinsip pasar terbuka (open market), berorientasi ke luar (outward looking), dan ekonomi yang digerakkan oleh pasar (market drive economy) sesuai dengan ketentuan multilateral.

Jika AEC diberlakukan akhir 2015, Asean akan terbuka untuk perdagangan barang, jasa, investasi, modal, dan pekerja (free flow of goods, free flow of services, free flow of investment, free flow of capital, dan free flow of skilled labor). "Namun terserah pada masing-masing negara untuk mendapatkan kemanfaatan dari kebebasan tersebut. Dan kita harapkan, dunia usaha nasional terus meningkatkan daya saing," katanya.

Punya Potensi

Dia menjelaskan, Indonesia perlu menyadari setiap keunggulan dan kelemahan yang dimilikinya, seperti comperative advantages yang berkaitan berkaitan dengan tingkat efisiensi dalam memproduksi barang. "Negara yang memiliki efisiensi lebih tinggi akan menjual barangnya kepada negara dengan efisensi lebih rendah," ucap Suryo.

Karena itu, terintegrasinya basis industri menjadi penting karena negara yang mempunyai comperative advantage tinggi untuk produk tertentu akan menjadi basis industri barang tersebut. "Dengan begitu, setiap negara tidak perlu lagi memproduksi semua jenis barang untuk kebutuhannya sendiri". Indonesia memiliki potensi sumber daya alam terbesar, sehingga berpeluang menjadi basis industri pengolahan bagi Asean. Berdasarkan data yang ada, 43% dari penduduk Asean yang sekarang mencapai 600 juta jiwa adalah penduduk Indonesia. Secara demografis, 53% wilayah Asean juga merupakan wilayah Indonesia. "Negara kita memiliki penduduk terbesar dengan biaya hidup yang relatif rendah. Indonesia juga berpotensi menjadi basis industri manufaktur, pertanian pangan, dan perikanan," kata Suryo.

Namun, untuk mewujudkan potensipotensi tersebut sangat bergantung pada kemampuan Indonesia untuk mempersiapkan prasarana yang dibutuhkan. Beberapa hal yang harus dipersiapkan antara lain lahan untuk kawasan industri, tenaga kerja terampil, menyiapkan infrastruktur, dan sebagainya.