Pengusaha Indonesia Siap Gelar Ekspansi ke Afrika

Rabu, 22/04/2015

NERACA

Jakarta – Dunia usaha Indonesia menyatakan kesiapannya untuk melakukan ekspansi usaha ke Afrika. Hal itu seperti dikatakan oleh Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia), Suryo Bambang Sulisto dan juga Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani. Kedua ketua umum yang banyak memiliki anggota daru dunia usaha tersebut menilai bahwa pasar Afrika cukup potensial bagi pengusaha Indonesia sehingga keduanya mendorong agar para pengusaha bisa menanamkan investasinya di Benua Hitam tersebut.

Suryo mengaku optimis pengusaha Indonesia akan merambah bisnis ke Afrika pasalnya menurut dia, potensi di Afrika cukup besar terutama jumlah penduduknya. Menurut Suryo, potensi bisnis Benua Asia dan Afrika pada 2020 mendatang bisa mencapai USD 1 triliun. Ini menjadi angin segar bagi pengusaha Indonesia yang akan terus mengembangkan bisnisnya. “Kita prioritaskan negara negara yang tak berkonflik, pedagang itu kan cari tempat yang aman aman saja. Sekarang beberapa negara sudah stabil. Negara yang potensial di Afrika itu ada Nigeria, jadi yang penduduknya besar,” ucapnya di Jakarta, Selasa (21/4).

Dirinya menyebut, nilai perdagangan Indonesia ke Afrika saat ini masih sangat kecil. Potensi ke depan, angka ini bisa ditingkatkan dua atau tiga kali lipatnya. Namun sayang, SBS tidak menyebut berapa nilai perdagangan Indonesia ke Afrika secara riil. "Saya kira yang penting harus ada itikad yang lebih menyerang jangan bertahan terus karena pasar kita yang diserang terus sama negara negara lain. Kita juga harus berbisnis secara ofensif, ini yang diperlukan perubahan mental kita. Jangan hanya memikirkan daerah daerah yang dekat dekat kita saja, tetapi daerah yang memiliki pasar yang cukup menjanjikan seperti Afrika Selatan, Nigeria ini kita perlu kita tingkatkan ke negara negara tersebut," katanya.

Pengusaha Indonesia bisa meningkatkan perdagangan ke negara di Afrika melalui sektor yang sangat dibutuhkan di sana. Salah satunya adalah komoditi kelapa sawit, karet, batu bara dan sebagainya. "Tetapi kemungkinan produk produk industri itu cukup menjanjikan seperti tekstil, elektronik, sepatu dan otomotif yang cukup menjanjikan. Kalau mau itu ada baiknya juga, yang penting produk produk kita harus bisa diterima oleh selera mereka, perlu juga market research pendalaman strategi kita menembus pasar pasar baru ini," tegas SBS.

Maka dari itu, dirinya menyebutkan bahwa pengusaha-pengusaha Indonesia yang mau menanamkan investasinya di Afrika belum terlambat. “kita belum terlambat, tetapi kita harus ubah sikap kita dengan melihat pasar pasar yang selama ini belum mendapat perhatian kita. Afrika ini cukup besar, jangan ketinggalan dan kita diserbu terus, harus sebaliknya dong kita menyerbu mereka,” tutupnya.

Hariyadi Sukamdani juga mengatakan hal yang sama. Menurut dia, pemerintah Indonesia harus mulai memikirkan untuk meningkatkan perdagangan dan investasi dengan negara-negara Afrika. Pasalnya, pasar di sejumlah negara ketiga merupakan yang paling sesuai bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor. “Kalau mau maju, mulai dari sekarang Indonesia harus sudah menyiapkan dan menjajaki pasar-pasar baru termasuk Afrika," kata Hariyadi.

Menurut Hariyadi, hampir semua sektor usaha memiliki peluang bagus di Afrika. Namun, memang belum banyak pelaku usaha Indonesia yang berinvestasi atau melakukan kegiatan perdagangan di Afrika karena masih memiliki preferensi lain. Menurutnya, di regional Asia Tenggara saja masih banyak peluang yang bagus. Apalagi, Indonesia berambisi untuk menjadi pemimpin ekonomi di wilayah Asia Tenggara. “Bukan kita tidak mau berinvestasi atau berdagang ke Afrika, tapi memang pada akhirnya pengusaha kita berhitung dari skala prioritas sehingga banyak bergerak di regional dulu,” kata Hariyadi.

Menurut Hariyadi, tidak menutup kemungkinan Indonesia bisa memperluas pasar ke Afrika apabila dibentuk sebuat sekretariat bersama. Dengan demikian, dapat lebih memudahkan koordinasi dan komunikasi antar pelaku usaha maupun pemerintah. Salah satu kendala ekspor perdagangan ke Afrika, yakni masih ada kecanggungan dari eksportir dan belum mengenal pasar masing-masing. Langkah konkrit yang bisa ditindaklanjuti oleh pemerintah dan pelaku usaha Indonesia yakni dengan one on one meeting, untuk menyamakan ketertarikan di masing-masing bidang.

Dua negara di Afrika yang memiliki potensi besar yakni Afrika Selatan dan Nigeria. Menurut Hariyadi, kedua negara tersebut sudah berkomunikasi dengan Indonesia dengan fokus perdagangan, mulai dari consumer good, tekstil, garmen, elektronik, dan otomotif. Selama ini, negara asia yang mendominasi perdagangan dan infrastruktur di Afrika adalah Cina. Menurut Hariyadi, Indonesia dapat mencontoh Cina karena memiliki pemikiran panjang dalam berinvestasi dan melebarkan pangsa pasar. "Cina tidak hanya bicara masalah ekonomi, tapi juga geo politik dan semua diperhitungkan dengan seksama," ujar Hariyadi.

Sekedar informasi pangsa ekspor Indonesia lebih dari 70% ditujukan ke wilayah Asia dan hanya sekitar 3,5% menyasar wilayah Afrika. Sementara itu, pangsa impor Indonesia 76% berasal dari wilayah Asia dan sebesar 3% dari Afrika. Sementara itu, ada dua negara yang sampai saat ini belum menjalin perdagangan dengan Indonesia, yakni Republik Demokratik Kongo (sebelumnya Zaire) dan Sao Tome. Setidaknya ada 17 negara di Asia dan 29 negara di Afrika tempat Indonesia memiliki trend ekspor di atas 10 persen selama 2010-2014.