Investor Didorong Garap Sektor Manufaktur

Rabu, 22/04/2015

NERACA

Jakarta -Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan investor swasta bisa ikut terlibat dan membantu pengembangan sektor manufaktur di Indonesia dengan dukungan penuh dari pemerintah. "Dukungan pemerintah antara lain dengan memberikan insentif, memperbaiki kawasan industri dan membangun infrastruktur jalan serta listrik," katanya saat mengisi sesi di acara Forum Ekonomi Dunia (WEF) untuk kawasan Asia Timur di Jakarta, Senin (20/4).

Sofyan menambahkan selain dukungan tersebut, pemerintah juga memberikan kemudahan dalam hal perizinan di daerah, terutama setelah adanya peresmian pelayanan terpadu satu pintu di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). "Ini dilakukan agar sektor manufaktur tumbuhnya konsisten dan kita tidak lagi tergantung pada sumber daya alam. Di masa lalu memang kita dimudahkan oleh murahnya harga komoditas dan dolar AS sehingga tidak memperhatikan manufaktur," ujarnya.

Dukungan lainnya adalah dengan membangun infrastruktur sosial di sekitar kawasan industri yang bisa bermanfaat untuk mengurangi beban bagi para buruh agar kesejahteraannya tidak terabaikan dan dapat terpenuhi. "Kalau industri membangun kawasan, kita membangun rumah, sekolah dan fasilitas kesehatan, agar beban bagi tenaga kerja dapat berkurang. Pemerintah dan swasta bisa memberikan pelayanan ini untuk mendorong sektor manufaktur," tambah Sofyan.

Sofyan memastikan pemerintah sangat serius untuk melakukan berbagai pembenahan agar investor tidak enggan berivestasi, apalagi Indonesia memiliki keunggulan bonus demografi dan upah buruh yang relatif rendah dengan negara berkembang lain. "Tentu saja kami belum memiliki infrastruktur memadai, tapi ini kesempatan bagus berinvestasi di Indonesia. Presiden Jokowi juga sudah mengatakan masalah struktural seperti infrastruktur harus diselesaikan, kita sudah mempercepat proyek KPS untuk itu," ucapnya.

Untuk itu, ia mengharapkan forum WEF bisa memberikan manfaat dalam mengundang investasi ke Indonesia, apalagi selama ini masih banyak yang belum mengetahui potensi Indonesia sebagai negara berkembang ekonomi di kawasan Asia Timur. "Kalau kita mendapatkan investasi yang cukup, maka akan mudah sekali kita untuk meningkatkan ekspor dan menyelesaikan masalah seperti infrastruktur listrik. Untuk itu, forum ini bertujuan untuk menimbulkan 'confident' bahwa Indonesia merupakan tempat investasi yang baik," paparnya.

Sebelumnya, berdasarkan data purchasing managers' index (PMI) Indonesia versi HSBC naik dari 47.6 (Desember) ke 48.5 di bulan Januari 2015. Kenaikan angka PMI sedikit banyak menunjukkan bahwa tren perlambatan di sektor bisnis mulai pudar. Sebagai catatan, angka indeks di bawah 50 mencerminkan penurunan kinerja ataukontraksidi sektor bisnis. Dari sini bisa disimpulkan bahwamanufakturIndonesia masih melambat walaupun ada indikasi perbaikan di bulan pertama 2015.

"Rendahnya volume permintaan (ekspor) masih menjadi titik lemah. Jumlah pesanan baru dari luar negeri turun ke rekor terendahnya di bulan Januari," ujar Ekonom HSBC, Su Sian Lim.Namun demikian, Lim melihat ada tanda-tanda stabilisasi di sektor bisnis untuk beberapa bulan ke depan. Faktor penurunan harga minyak bisa menjadi modal berharga untuk peningkatan gairah sektor manufaktur. [agus]