Laju IHSG Berpeluang Untuk Menguat

Selasa, 21/04/2015

NERACA

Jakarta – Lambat tapi pasti laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai meninggalkan level 5.000, jika tekanan terus berlanjut. Tengok saja, seharian indeks BEI berada di zona merah yang dipicu aksi ambil untung investor.

Mengakhiri perdagangan saham Senin awal pekan, indeks BEI ditutup melemah 9,841 poin (0,18%) ke level 5.400,803. Sementara Indeks LQ45 turun 1,609 poin (0,17%) ke level 937,149. Indeks BEI kompak melemah dengan bursa-bursa di Asia,”Sentimen eksternal yang cenderung negatif menjadi faktor negatif bagi IHSG sehingga bergerak tertekan," kata Analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya di Jakarta, Senin (20/4).

Menurut dia, dalam jangka pendek ini IHSG BEI akan bergerak mendatar. Jika merujuk "capital inflow", indeks BEI masih berpotensi untuk bergerak menguat, namun jika kebijakan bank sentral AS (the Fed) mengenai rencananya untuk menaikan suku bunganya kembali muncul maka potensi pembalikan arah ke area negatif juga terbuka.

Di sisi lain, lanjut dia, pelaku pasar saham juga sedang mencermati realisasi proyek infrastruktur pemerintah. Seraya menanti sentimen fundamental, sebagian pasar saham akan mencermati faktor teknikal,”Secara teknikal, IHSG akan bergerak menguji level batas bawah 5.389 poin, sementara target batas atas di level 5.448 poin," paparnya.

Sementara itu, analis HD Capital Yuganur Wijanarko mengatakan bahwa katalis positif bagi IHSG BEI masih terbuka seperti stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, harga minyak mentah dunia yang masih sesuai dengan ekspektasi pemerintah dalam APBN 2015 sebesar US$ 60 per barel, serta daya beli masyarakat yang masih tinggi,”Kondisi ekonomi domestik masih stabil, maka rekomen untuk tetap mengakumulasi beberapa saham konsumer dan perbankan," katanya.

Transaksi investor asing sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign sell) senilai Rp 310,344 miliar di pasar reguler. Di seluruh pasar, transaksi asing mencatat pembelian bersih (foreign net buy) tinggi senilai Rp 15,075 triliun gara-gara transaksi saham GEMS.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 181.997 kali dengan volume 12,682 miliar lembar saham senilai Rp 22,034 triliun. Sebanyak 107 saham naik, 176 turun, dan 88 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia kompak melemah akibat sentimen negatif yang datang dari bursa global. Bursa saham Hong Kong anjlok paling dalam.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup turun 22,690 poin (0,42%) ke level 5.387,954. Sementara Indeks LQ45 melemah 3,912 poin (0,42%) ke level 934,846. Sembilan indeks sektoral terkena koreksi, hanya satu sektor yang menguat yaitu sektor konsumer. Saham-saham unggulan jadi sasaran aksi jual.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 92.963 kali dengan volume 6,545 miliar lembar saham senilai Rp 7,695 triliun. Sebanyak 84 saham naik, 166 turun, dan 76 saham stagnan. Nilai dan volume transaksi di lantai bursa melonjak tinggi setelah adanya aksi tutup sendiri (crossing) saham PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) di pasar negosiasi senilai Rp 3,7 triliun. Transaksi ini difasilitasi broker Sinarmas Sekuritas (DH).

Bursa-bursa regional masih bergerak mix hingga siang. Maraknya sentimen negatif dari pasar global memberi tekanan ke pelaku pasar. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gowa Makassar (GMTD) naik Rp 700 ke Rp 8.100, Indo Kordsa (BRAM) naik Rp 500 ke Rp 6.875, Siloam (SILO) naik Rp 500 ke Rp 13.150, dan Gudang Garam (GGRM) naik Rp 450 ke Rp 50.950. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 325 ke Rp 22.575, United Tractor (UNTR) turun Rp 300 ke Rp 22.700, Astra Agro (AALI) turun Rp 275 ke Rp 22.825, dan Astra Internasional (ASII) turun Rp 200 ke Rp 7.775.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka turun sebesar 3,88 poin atau 0,07% menjadi 5.406,76, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak melemah 0,98 poin (0,11%) menjadi 937,77,”Bursa saham di kawasan Asia yang mayoritas melemah menjadi salah satu sentimen negatif bagi bursa saham domestik," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.

Menurut Reza, melemahnya bursa saham regional itu menjadi salah satu pendorong bagi sebagian pelaku pasar asing yang cenderung masih melakukan aksi lepas saham. Di sisi lain, kembali melemahnya laju rupiah terhadap dolar AS juga menambah faktor negatif bagi indeks BEI."Masih adanya aksi lepas terutama investor asing menahan laju indeks BEI. Pelemahan lanjutan masih dimungkinkan jika sentimen positif yang beredar minim baik dari dalam negeri maupun eksternal,”ujarnya.

Sementara itu, bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 136,11 poin (0,49%) ke level 27.517,01, indeks Nikkei turun 2,18 poin (0,01%) ke level 19.650,15 dan Straits Times melemah 10,08 poin (0,29%) ke posisi 3.515,15. (bani)