Konferensi Asia Afrika, Saatnya Tingkatkan Perdagangan ke Afrika

Potensi Pasar Ekspor Cukup Besar

Selasa, 21/04/2015

NERACA

Jakarta – Momentum Konferensi Asia Afrika (KAA) diharapkan bisa meningkatkan perdagangan Indonesia ke Afrika. Pasalnya saat ini perdagangan Indonesia dengan Afrika masih terlalu rendah yaitu sebesar 3,5% dari total ekspor Indonesia, padahal potensi di negara-negara Afrika cukup besar. Hal tersebut seperti diutarakan oleh Wakil Ketua Umum Kadin Niko Kiroyan di Jakarta, Senin (20/4). Ia menyebutkan volume perdagangan Indonesia ke Afrika hanya US$10 miliar sementara volume perdagangan Tiongkok ke Afrika mencapai US$200 miliar dan India mencapai US$200 miliar. “Volume perdagangan ke Afrika terlalu kecil padahal kita mempunyai potensi untuk bisa menguasai pasar di Afrika,” katanya.

Menurut dia, negara-negara di Afrika juga telah berkembang seperti di Afrika Selatan yang mana Growth Domestic Bruto (GDP) nya lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia dan Nigeria yang mempunyai penduduk sebesar 150 juta. “Ini seharusnya menjadi potensi-potensi yang bisa digarap oleh kita. Kenapa ini bisa rendah? Ya karena ketidaktauan para pengusaha Indonesia tentang pasar di Afrika,” katanya.

Padahal, banyak juga perusahaan-perusahaan Indonesia yang telah lebih dulu sukses berada di pasar Afrika seperti Indofood, Sinarmas, Kalbe, dan Indorama. Bahkan, kini Indofood telah mempunyai pabrik di lima lokasi yang berbeda di Afrika diantaranya di Afrika Selatan, Mozambik, dan Nigeria. Hal itu menunjukan bahwa potensi bisnis di “Benua Hitam” memang tengah meningkat. Sekedar informasi, total GDP negara-negara di Afrika meningkat dari US$650 miliar di tahun 2005 menjadi US$1.600 miliar di 2014. dan juga diwarnai dengan bonus-bonus demografi dan berupa jumlah kelas menengah yang semakin besar.

Maka dari itu, Kadin menargetkan volume perdagangan Indonesia ke Afrika bisa meningkat sebesar 80% dalam kurun waktu 3 tahun dari mulanya US$10,70 miliar menjadi US$20 miliar per tahun. “Kita perlu menjajaki peluang-peluang bisnis serta promosi perdagangan yang lebih baik lagi diantara negara-negara Afrika. Menurut Noke, perdagangan dan investasi di Afrika perlu diakselerasi karena bisa menjadi pasar yang menjanjikan apabila digarap secara optimal. Di lain sisi, selama ini pandangan negatif terhadap Afrika karena beberapa isu seperti wabah ebola, boko haram dan pembajakan di lepas pantai masih mempengaruhi minat investasi di Afrika.

Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengungkapkan, produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga harus dikedepankan untuk menggenjot nilai ekspor. Cara mudah yang bisa dilakukan adalah melalui perdagangan online alias e-commerce. “Dengan situasi global saat ini yang mudah berkomunikasi, perlu adanya Asia Africa Trading atau konsepnya sama seperti Amazon,” katanya.

Konsep ini akan disuarakan dalam pertemuan Asia Africa Business Summit yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Senayan. Di dalam acara ini, akan datang 600 peserta dari pelaku usaha se-Asia Afrika di mana 400 peserta dari luar negeri. “Jadi produk Asia-Afrika bisa melakukan itu (perdagangan online). Tinggal membangun platform, karena menyangkut sistem pembayaran. Jadi bisa diaktifkan agar UMKM bisa menawarkan produknya dan bisa diakses oleh seluruh negara Asia-Afrika,” tuturnya.

Pertumbuhan Ekonomi

Di tempat terpisah, Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, pelaksanaan Konferensi Asia Afrika (KAA) bisa jadi momentum untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, khususnya melalui kerja sama dengan Afrika.

Menurutnya, selama ini Afrika selalu identik dengan stigma negatif yang melekat pada negara-negaranya. Padahal dari data yang ada pertumbuhan ekonominya menunjukkan angka yang sangat baik. Karenanya, KAA ini bisa menjadi peluang yang baik bagi Indonesia karena Afrika memiliki potensi yang luar biasa. “Selama ini stigma Afrika identik bahwa miskin, terbelakang, sumber penyakit. Padahal kalau (berdasarkan) data, Afrika justru di atas Asia pertumbuhan ekonominya. Bahkan beberapa negara pertumbuhan ekonominya sudah double digit,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, Indonesia yang kesulitan dalam diversifikasi ekspor dapat memanfaatkan populasi yang cukup besar Afrika sebagai potensi pasar ekspor. Apalagi, kebutuhan Afrika saat ini masih berupa basic need. “Seperti makanan jadi, tekstil, dan sebagainya, di produk tersebut kita masih punya competitiveness. Ini peluang, sebab itu kita inginkan KAA tidak sekadar seremonial, tapi benar-benar mengejawantahkan visinya dulu,” sambung dia.

Sekedar informasi pangsa ekspor Indonesia lebih dari 70% ditujukan ke wilayah Asia dan hanya sekitar 3,5% menyasar wilayah Afrika. Sementara itu, pangsa impor Indonesia 76% berasal dari wilayah Asia dan sebesar 3% dari Afrika. Sementara itu, ada dua negara yang sampai saat ini belum menjalin perdagangan dengan Indonesia, yakni Republik Demokratik Kongo (sebelumnya Zaire) dan Sao Tome. Setidaknya ada 17 negara di Asia dan 29 negara di Afrika tempat Indonesia memiliki trend ekspor di atas 10 persen selama 2010-2014.